Tuhan, Sampean nge-kos di mana?

mezzanine_399
http://image.pbs.org/video-assets/pbs/the-buddha/91554/images/Mezzanine_399.jpg

Orang yang cerdas adalah orang yang kritis terhadap banyak hal. Apa pun yang ia lihat, ia akan mempertanyakannya. Seorang anak kecil ketika dalam proses tumbuh dewasa, ia akan mengalami berbagai kejadian, melihat berbagai macam fenomena, dan mendengar macam-macam suara. Ia akan terus berproses hingga ia akan menyimpulkan sendiri apa yang ia alami. Termasuk dalam masalah agama. Khususnya lagi mengenai pencarian Tuhan.

Kehadiran Tuhan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Entah bagaimana setiap manusia akan menghadirkan Tuhan dengan cara mereka sendiri-sendiri. Bahkan ketika seseorang tidak meyakini adanya Tuhan, pada dasarnya ia akan tetap menghadirkan Tuhan dalam bentuk lain, minimal ia akan menuhankan dirinya sendiri.

Saya tidak akan membahas itu. Saya hanya teringat pada diri saya sendiri saja ketika masih kecil. Saya tidak terlalu kritis mengenai Tuhan. Saya tidak tahu apakah saya termasuk korban doktrin atau bukan. Sepanjang ingatan saya hingga sekarang keluarga saya adalah keluarga yang biasa saja dalam hal agama. Sama sekali bukan simpatisan apalagi sampai ekstrim Sama sekali tidak. Bahasa gampangnya kami hanya agama KTP saja.

Saya langsung percaya saja bahwa Tuhan itu ada. Tanpa harus ada bukti dan janji. Hal ini kadang membuat saya agak menyesal sekarang ini. Wah berarti saya ini kurang kritis ya. Sekarang sudah terlanjur percaya. Lha mbok dulu saya agak-agak bingung dikit atau ada kecendrungan untuk tidak percaya kalau Dia ada. Sialnya itu tidak terjadi.

Tentu saja saya tidak mengatakan kita seperti Sayyidina Ali yang tanpa proses apa-apa langsung melihat Allah di mana pun dalam keadaan apa pun. Ya bukan seperti itu. Perbedaannya sangat jauh sekali. Seandainya mengalami proses seperti Sayyidina Abu Bakar saja sudah lumayan, yang menemukan Tuhan melalui proses budaya. Atau Umar dengan cara radikal, atau Utsman dengan proses perenungan dalam. Tapi ternyata kita tidak seperti empat orang besar itu.

Sebenarnya saya sangat kagum pada kawan-kawan yang mengalami pergolakan batin. Yang melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh. Berproses dengan begitu setia. Mempelajari setiap ilmu. Membaca macam-macam buku agama, buku filsafat, buku geografi, buku memasak untuk menemukan kebenaran. Tidak masalah nanti hasilnya, mereka mau percaya atau tidak percaya. Yang terpenting adalah proses kesungguhannya.

Sekarang kalau saya mau seperti itu ya ndak enak sama Gusti Allah. Nanti malah kena semprot, “Koe ki wes tuo, rasah macem-macem. Telat nakalmu!”

Seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, di mana Tuhan berada. Ibunya bingung mau menjawab apa. Kemudian sang ibu menghadirkan pertanyaan anaknya di sebuah status di Facebook. Hmmm… Masalah Tuhan kan, tiba-tiba semua orang menjadi pakar ketuhanan, seolah mereka sudah bertemu Tuhan saja. Jawabannya pun macam-macam di kolom komentar. Ada yang bilang Tuhan itu ada Ka’bah, ada di tempat suci seperti masjid. Ada di hati. Ada di Baitullah. Ada di hati yang terluka.

Saya cuma bergumam di hati, “Kalian pikir Tuhan itu, nge-kos apa?”

Tertipu oleh Diri Sendiri

Sesungguhnya aku menginginkan
Bukan membutuhkan
Sesungguhnya aku bernafsu birahi
Bukan bersemangat
Sesungguhnya aku hanya tertarik
Bukan mencintai
Sesungguhnya aku curiga
Bukan waspada
Sesungguhnya aku terburu-buru
Bukan optimis
Sesungguhnya aku lemah
Bukan bersabar
Sesungguhnya aku ini lembek
Bukan arif bijak
Sesungguhnya aku sangat serakah
Tapi seolah progresif
Sesungguhnya aku pemalas
Bukan bersikap zuhud

Puasa

Salah satu hikmah puasa hanya dari Subuh hingga Maghrib adalah agar energi yang tersimpan di dalam diri manusia tidak keluar dan merusak tatanan kerasionalan hidup.

Sebagaimana diketahui orang yang berpuasa tanpa berbuka, secara alami energi ruh di dalam dirinya akan meronta ingin keluar.

Markesot pernah menuturkan, orang berpuasa full tanpa berbuka lebih dari tiga hari, maka dinding dinding pembatas lahirilah manusia akan retak, Matanya akan melihat sesuatu yang lain, kekuatan pendengarannya akan meningkat dan berbagai keretakan lainnya. Ini berbahaya khususnya bagi orang-orang yang hatinya tidak siap untuk mengetahui apa yang selama ini tersembunyi.

Dalam khazanah Jawa, untuk mengeluarkan potensi kekuatan diri, orang melakukan berbagai tirakat berat, termasuk berpuasa selama 40 hari tanpa makan minum sama sekali.

Jasad adalah penjara kurungan bagi ruh. Ketika jasad melemah, maka ruh akan meronta-ronta ingin keluar dari penjara jasad. Untuk mengolah potensi ruh, harus dilakukan tirakat di bawah bimbingan seorang Guru Spiritual, yang memiliki ikatan batin ke atas hingga Kanjeng Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian akan bermuara ke Malaikat Jibril dan di atas itu semua adalah Allah Maha Bijaksana.

***
Ya ampun, seperti sudah mengalami saja saya ini, padahal ini tulisan cuma sok-sok an tahu saja.

Bliss

“Bliss” bukan lagu pertama dari Muse yang membuat saya menyukai Muse. Tapi lagu ini merupakan representasi dari apa yang saya rasakan ketika saya masih ABG, sekitar 12 tahun lalu. Wow, saya sudah menikmati lagu ini selama 12 tahun, tanpa pernah bosan sedikit pun. Lagu ini berkisah tentang bersyukur menjadi diri sendiri walaupun kita merasa penuh kekurangan; “Everything about you is how I’d wanna be / your freedom comes naturally / everything about you resonates happiness / now I won’t settle for less”.

Kita kadang memang iri dan cemburu pada kelebihan orang lain; “Everything about you pains my envying”, tapi sisi lain kita harus tetap menghargai orang lain; your soul can’t hate anything / everything about you is so easy to love / they’re watching you from above”.

Sedangkan lagu pertama dari Muse yang saya dengar adalah lagu pasaran “Unintended”. Ketika itu awal tahun 2003 di MTV Indonesia, tanpa sengaja saya menonton video Unintended dan pikiran terpaku di angkasa mendengar vokal Matt Bellamy yang terdengar melankolis penuh emosi mendalam sekali dengan nuansa musik yang berbeda dari musisi-musisi lain. Bahkan hingga saat ini, tidak ada yang seperti Muse. Padahal musik Barat itu adalah musik pinggiran, jika dibandingkan dengan musik-musik timur yang dalam.

Demografi

Sudah dua tahun berlalu sejak Pemilihan Umum. Saya tidak bermaksud untuk memicu pertengkaran apalagi memicu isu SARA. Saya hanya ingin melihat keadaan ini dari sisi demografi.

Hingga saat ini para simpatisan kedua kubu ketika pemilu masih sangat kuat sekali. Sebenarnya ada 4 kubu. Kubu Jokowi, kubu Prabowo, kubu Golput X, dan kubu Golput Y.

Golput X adalah golput masa bodoh dengan Indonesia dan Golput Y adalah golput yang merasa bahwa demokrasi di Indonesia adalah sebuah kegagalan sehingga memilih berarti mendukung nilai-nilai kehancuran.

Melihat dari sisi kegemaran merokok berdasarkan data statistik , umumnya penggemar Jokowi dan Golput X adalah golongan masyarakat yang menentang rokok kretek SKT (Sigaret Kretek Tangan). Seandainya ada yang merokok, mereka memilih rokok SPM (Sigaret Putih Mesin).

Sedangkan para penggemar Prabowo dan Golput Y, umumnya adalah mereka yang tidak ada masalah dengan rokok. Bahasa gaulnya woles-woles saja, merokok silahkan, tidak merokok silahkan. Seandainya ada yang merokok, mereka memilih SKT (Sigaret Kretek Tangan) atau SKM (Sigaret Kretek Mesin).

Penulis jelas SKT dan Golput Y.

Markesot (Bagian 1)

Pak Nevi Budianto

Gerombolan Gentho itu sering datang ke berbagai tempat di Nusantara, merusak jadwal biologis jam tidur manusia pada umumnya. Selain merusak jam biologis, Genk Gentho itu juga sering merusak pemikiran-pemikiran manusia dan memporakporandakan apa yang selama ini telah disepakati oleh umumnya manusia. Orang-orang dari berbagai lapisan khususnya masyarakat bawah yang sering terinjak-injak oleh orang-orang besar yang berkuasa secara politik dan ekonomi, datang menghampiri Genk Gentho yang suka menabuh dan membuat kebisingan musik semalaman. Tidak diketahui mengapa rakyat jelata mendatangi Gentho-Gentho yang berasal dari sebuah Kerajaan yang masih eksis tapi sekarat di Bumi Nusantara.

Apa yang rakyat jelata cari? Hiburan? Curian sandal? Solusi pemecahan masalah? Lelucon? Pendidikan? Atau pengajian? Apa pengajian? Tentu saja bukan, Gentho-Gentho itu memainkan musik! Bukan melantunkan ayat-ayat Tuhan secara tekstual. Entahlah, tetapi yang pasti setiap orang membawa niatnya masing-masing.

Gerombolan Gentho itu dipimpin oleh kepala Genk yang merupakan ndas-ndasane dan sumber kekacauan yang sengaja mereka buat.

***

Emha Ainun Nadjib atau biasa yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Nun adalah seorang budayawan yang dianggap memiliki kemampuan multidimensi dan memperoleh berbagai gelar akademis. Di antara gelar-gelar akademis itu adalah Emha Kafir, Emha Sesat, Emha Syiah, Emha Antek Yahudi, Emha Alat Negara, Emha Jawa Sentris dan berbagai gelar akademis lainnya yang mungkin orang lain tidak akan mampu memanggul gelar-gelar luar biasa tersebut. Semakin banyak gelar yang ia peroleh, ia semakin berterimakasih kepada mereka yang memberi gelar-gelar itu.

Saya belum mengenal Emha secara langsung. Di beberapa kesempatan saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengannya. Saya juga bukan bagian dari Maiyah dan tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari suatu komunitas tanpa struktur tersebut yang dirintis oleh Emha dan saya tidak akan pernah mau memasuki lingkaran Maiyah. Jangankan Maiyah, dalam berbagai pengajian atau kajian yang lain saya tidak pernah memasukinya, entah itu sholawatan, acara motivasi, pengajian politik, pengajian teroris dan segala macam tetek bengek lainnya. Saya hanya berada di luar arena. Saya menyebut diri saya sendiri Pemain Luar Pagar. Artinya saya tidak memiliki kredibilitas menulis ini. Jika pun ini saya tulis, ini cuma untuk kegiatan mengasah kemampuan menulis, apakah saya bisa menulis dengan bagus atau tidak.

Banyak orang yang kagum kepada Emha, dan banyak pula yang membencinya. Saya meletakan diri saya tidak pada kedua kubu itu. Saya hanya melihat peran apa yang diperankan oleh Emha di dunia ini dan apa yang ditugaskan kepadanya, mengambil apa yang baik darinya, dan membuang apa yang –mungkin– buruk darinya.

Saya memiliki seorang teman (iya teman), dalam pandangan kawan saya, Emha adalah seorang pemuda yang suka nongkrong di tempat pelacuran dan suka main di surga dunia itu. Dan sampai saat ini pandangan itu terus tertanam di benak kawan saya itu. Sehingga kawan saya itu tidak memandang Emha kecuali dengan agak sinis, tanpa mengetahui kebenarannya, apa yang sebenarnya dilakukan Emha di tempat pelacuran. Saya juga tidak tahu kebenarannya bagaimana, dan rasanya tidak perlu tahu pun tidak perlu, apalagi harus tahu, semakin tidak perlu tahu untuk tahu dan tidak tahu.

Saya teringat kisah-kisah sufi, di mana para sufi sering datang ke tempat pelacuran. Bukan untuk main dengan para pelacur, tapi para sufi melakukan kegiatan penyuluhan, memberi bimbingan kepada pelacur, agar bila mereka pensiun dari pekerjaan itu, mereka siap terjun di masyarakat dan memulai hidup baru tanpa ada guncangan terlalu berarti.

Apa pemuda? Itu berarti puluhan tahun yang lalu, sekarang Emha bukan lagi seorang pemuda, ia sudah berubah menjadi seorang kakek.

Emha memang dikenal agak kontroversial walaupun tidak sekontroversial Gus Dur. Banyak peranyataan-pernyataannya yang membuat orang-orang tercengang. Yang membuat saya heran adalah kenapa orang-orang bisa tercengang, padahal apa yang dikatakan Emha sebenarnya bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah lama terpendam dan dilupakan orang, sehingga ketika Emha mengeluarkannya orang-orang kaget dengan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak kontroversial.

Sebagai contoh, Emha pernah mengatakan dalam suatu forum, bahwa mungkin saja sebenarnya Allah itu bukan bernama Allah. Tapi Sang Pencipta Langit dan Bumi menyebut DiriNya dengan sebutan Allah adalah untuk mempermudah manusia berkomunikasi denganNya. Ini hanya urusan administrasi saja. Maka alangkah baiknya jika umat yang menyembah Pencipta Langit dan Bumi dengan sebutan Allah, tidak marah dan tidak mengklaim bahwa Allah hanya milik mereka ketika di saat yang sama Sang Pencipta Langit dan Bumi memiliki nama-nama lain. Misal orang Jawa menemukan Allah dengan nama Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widi, Sang Hyang Wenang. Di sisi lain, bukankah Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan milyaran planet, bintang, galaksi. Bukankah di planet lain nan jauh di sana, yang memiliki makhluk lain yang tidak pernah kita ketahui wujudnya, bisa jadi Tuhan memperkenalkan diriNya kepada mereka dengan sebutan nama lain yang bukan Allah.

Halah… Contoh case yang saya tulis terlalu melantur dan kepanjangan sehingga saya merasa tulisan ini akan kehilangan esensi objektivitasnya. Maka tidak perlu saya memberi contoh yang lain.

Ini bagian pertama dari tiga seri tulisan berjudul Markesot yang hendak saya tulis. Lalu kenapa judulnya Markesot bukan Emha Ainun Nadjib? Bukankah Markesot adalah sahabat Emha, dan di tulisan ini, saya tidak akan menulis tentang Markesot. Dan bukankah Markesot adalah salah satu judul dari buku “Markesot Bertutur” yang beberapa tahun lalu ditulis oleh Emha?

Dan itu fotonya siapa?

To be continued…

Reversal #5

Aku takut pada diri sendiri
Jangan-jangan
Diam-diam dia sombong di dalam kerendahhatian
Jangan-jangan
Diam-diam dia merasa rendahhati di dalam kesombongan

Jangan-jangan
Ia angkuh sembunyi di balik hati lunak
Terlena oleh indah rasa yang belum kupunya
Hanya angan
Yang kuperoleh dari orang yang telah punya rasa
Hanya angan
Jangan-jangan
Aku memang rendah
Yang merasa dirinya tinggi

Untuk menjadi bodoh saja
Aku belum pantas disebut
Apalagi pintar
Yang sungguh aku jauh darinya

Jangan-jangan
Aku tertipu oleh diriku
Diriku yang mana?
Berapa banyak diriku di dalam diriku?
Diriku yang mana?
Berapa kepalsuan diriku yang diam-diam
Atau terang-terangan tersembunyi
Diriku yang mana?
Yang ini atau yang itu
Atau yang tak kuketahui lagi
Sungguh aku tak tahu
Lalu buat apa kau ada?
Kau siapa?
Kau diriku kah?
Kau, kau, kau, kau
Dan ratusan kau bahkan
Jutaan kau yang Satu.