Nature_2

Saat usia saya sekitar 5 tahun, saya ingat saya pernah bertanya-tanya sendiri. Kehidupan sekarang ini adalah yang pertama atau pernah ada alam semesta di rentang waktu yang berbeda lalu kiamat, kita menerima rapor hasil penilaian. Kemudian semua penciptaan dan kehancuran diulang lagi.

Selama bertahun-tahun tidak pernah ada jawaban, sampai saya lupa dengan pertanyaan saya sendiri.
Hingga akhir-akhir ini tiba-tiba ada jawaban atas pertanyaan tersebut. Jawabannya tidak mutlak benar, karena si pemberi jawaban mewanti-wanti bahwa apa yang ia sampaikan belum tentu benar. Kebenaran sejati hanya milik Tuhan, kata dia, manusia dinamis memiliki potensi benar dan salah.

Merenungkannya.

Titik awal sekaligus titik akhir. Pukul 00.00 adalah awal hari tapi juga sekaligus akhir hari karena pukul 24.00 adalah 00.00. Sehingga sebenarnya mungkin hakikatnya tak ada awal dan tak ada akhir. Waktu hanya berputar saja.
Mungkin kita pernah hidup di rentan waktu yang bukan masa lalu, masa depan atau masa sekarang. Mungkin kita pernah hidup di Bumi yang sama tapi bukan ini.

Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Mungkin sekarang sebenarnya kita masih berada di rentang waktu enam hari itu. Mungkin sekarang adalah hari ke empat, atau kelima. Kita berharapnya sih masih hari kedua. Ben iseh suwé le kiamat. Haha…

Setelah enam hari ini berakhir suatu hari nanti. Di hari ke tujuh, kita akan memperoleh rapot, entah Surga atau Neraka atau cukup di emperan Surga saja.

Begitu hari ke enam selesai plus 1 hari ketujuh, mungkin (lagi) akan ada enam hari berikutnya. Semua diulang dari hari pertama sampai hari ke enam. Terus hidup lagi ketemu Indonesia lagi… Ribut Pilpres lagi, bertengkar milih Cagub lagi. Hah… Ketemu Cah gentho-gentho maneh. Weruh rupamu meneh…

Zamasu & Iblis

Zamasu adalah Dewa Kai dari Alam Semesta ke-10. Tugas Kai adalah menjaga kesetabilan alam semesta dan mengayomi makhluk-makhluk di alam semesta. Namun di sisi lain Zamasu merasa dirinya lebih mulia dari manusia. Dia beranggapan manusia hanya berbuat kerusakan saja dan tidak bisa diandalkan. Berawal dari situ Zamasu bertekad untuk memusnahkan manusia. Namun hal itu diperingatkan oleh gurunya agar tidak dilakukan karena memusnahkan adalah tugas Beerus Dewa Penghancur.

Di timeline waktu yang berbeda, Zamasu mengambil tubuh Son Goku dan menggunakan tubuh Son Goku untuk menghancurkan Bumi dan memusnahkan manusia. Di serial Dragon Ball Super dikenal dengan nama Black Goku.

Episode Dragon Ball Super Future Trunks Saga ternyata mirip dengan kisah Iblis. Seperti yang sudah diketahui, sebelumnya Iblis adalah Malaikat yang ditugaskan oleh Tuhan untuk memimpin para Malaikat, termasuk Gabriel dan Michael yang berada di bawah komando Iblis.

Iblis bahkan mendapat gelar Kanzul Jannah. Pada suatu masa sebelum Adam diciptakan Iblis pernah ditugaskan oleh Tuhan untuk membasmi makhluk-makhluk di Bumi yang berbuat kerusakan.

Dari kesadaran pengalaman mememarangi makhluk perusak Bumi, ketika Tuhan menciptakan manusia hibrida baru bernama Adam, Iblis protes kepadaNya. Kenapa lagi harus menciptakan manusia lagi yang jelas-jelas tidak berguna keberadaannya. Karena protes Iblis kepada Tuhan, maka Iblis diusir dari alam malakut dan dibuang ke Bumi dan terdampar di pulau Jawa.

Zamasu dan Iblis memiliki latar belakang yang sama dan tujuan masa depan yang sama tentang manusia. Mereka sama-sama makhluk yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia. Namun karena merasa diri mereka lebih mulia dari manusia. Mereka menjadi terbuang dan harus menempati kedudukan sebagai katalisator.

Terdampar

Teknik Bangunan di STM dulu ketika saya sekolah (2003 – 2007) adalah jurusan yang sangat diremehkan banyak orang. Seolah Teknik Bangunan itu sangat hina sekali dan hanya pekerjaan rendahan. Ketika ketemu teman, tetangga atau saudara ditanya sekolah di mana? STM Jurusan Bangunan. Tanggapan mereka biasanya merendahkan, “Mau jadi kuli, mandor, tukang?”

Di sekolah sendiri pun demikian seolah Teknik Bangunan grade-nya paling rendah di antara jurusan-jurusan lain. Siswa-siswa Bangunan dianggap tidak berkomenpeten, sebagian memang buangan dari jurusan lain yang tidak diterima.
Saya waktu itu mantap sekali tanpa ragu banyak memilih Teknik Bangunan. Salah seorang kawan yang tidak diterima di STM Pembangunan Yogyakarta, STM paling tajir se-Yogya tapi kata orang sekarang mahal banget, berkata dengan nada rendah, “Koe ditompo yo? Tapi ger bangunan we.” (Kamu diterima ya, tapi cuma Bangunan ya?)

Mendengar kata-kata itu, saya sebenarnya menjadi agak berkecil hati juga sih. Saya sempat menyesal. Tapi penyesalan tidak berlangsung lama. Saya segera menikmati menjadi seorang siswa Teknik Bangunan. Walaupun yaa huasemmm tenan Teknik Bangunan itu susahnya setengah mati. Delapan puluh persen mata pelajarannya adalah hitung-menghitung. Saya ini blas tidak bisa Matematika dan ilmu hitung.

Kok bisa Jurusan sesusah ini, diremehkan dan direndahkan oleh banyak orang. Hingga saya harus menutup bagian pertama status ini dengan kalimat, “Kalian ini bisa apa tanpa Teknik Bangunan?! Bengkel Mobil, hotel, pabrik, kantor, gedung pencakar langit itu semua karya anak Teknik Bangunan! Selama Planet Bumi masih ada, Teknik Bangunan akan selalu dibutuhkan!”

Memasuki jenjang Perguruan Tinggi, Teknik Bangunan dibagi menjadi Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil. Sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa Biologi, Arsitektur adalah penampilan dan keindahan. Sedangkan Sipil adalah struktur tubuh manusia, termasuk tulang dan dalaman yang lain.

Berbeda dari masa STM, Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil adalah jurusan yang disukai banyak orang, dipuja, dijunjung dengan penuh penghormatan. Berbeda dengan Teknik Bangunan yang disesat-sesatkan bahkan dikafirkan.
Bagaimana dua hal yang sama dengan penyebutan nama yang beda, perlakuan orang bisa berbeda? Di Teknik Bangunan, baik ilmu Arsitektur dan Sipil sama-sama dipelajari. Walaupun memang lebih condong ke Sipil. Sedangkan di tingkat Perguruan Tinggi, wawasannya lebih diperluas pada banyak hal. Sehingga seorang Arsitek itu dituntut untuk mengetahui banyak hal tentang banyak hal. Minimal sedikit hal tentang banyak hal.

Memang tuntutan itu terdengar teoritis, tapi sebenarnya ujungnya Nekat saja. Berani melakukan semuanya dengan modal dengkul. Pinjam dengkulnya Amien Rais juga tidak apa-apa.

***

Zaman sudah berubah, Teknik Bangunan di STM tidak lagi menjadi jurusan yang direndahkan. Indikasinya apa? Banyak siswa cewek yang mendaftar di jurusan Bangunan, Itu saja.
Mbiyen garing tenan, plantangan kabeh. Tapi pekok bersama dalam kebersamaan yang indah.

Sebuah Riwayat Hadis

Beberapa tahun yang lalu, saya Bayu Wiratsongko pernah bertanya sesuatu kepada Kiai Yahya Cholil Staquf via Facebook. Beliau menjawab dengan sebuah hadis yang riwayatnya sangat panjang sekali dari Kiai Yahya sendiri hingga Rasulullah shollallahu ‘alahi wa sallam, Malaikat Jibril ‘alaihi sallam dan Allah Subhana wa ta’ala.

Kiai Yahya berkata bahwa ayahnya (Kiai Cholil Bisri) dan pamannya (Gus Mus) mendengar dari guru beliau berdua, Syeikh Yasin Al-Fadani dan ayah beliau berdua Kiai Bisri Mustofa –rahimahumullah, masing-masing berkata: Aku bertanya kepada Sayyid Guru Umar Hamdan tentang hakikat IKHLAS, dan beliau pun berkata:

Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Sayyid Muhammad Ali Al-Witri tentang hal itu dan beliau berkata, Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada guruku Syeikh Abdul Ghani Al-Mujaddidi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya kepada guruku Syeikh Muhammad Abid As-Sindi Al-Anshari, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Shiddiq bin Ali Al-Mizjaji, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada ayahku, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Hasan Al-Ujaimi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ahmad al-Qasysyasyi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ahmad Syanaawi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada ayahku Syeikh Ali Asy-Syanaawi, dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Al-Haafizh Jalaluddin As-Suyuthi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada A’isyah binti Jaarullah bin Shaleh Ath-Thabari, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Shiddiq dan beliau berkata:

Aku bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abul Abbas Al-Hajjar dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Jakfar Ibn Ali Al-Hamdani, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abul Qasim bin Basykual, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi, beliau berkata:

Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ismail bin Muhammad Al-Fadhal Al-Ashbihani, beliau berkata:

Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Bakar bin Ahmad bin Ali bin Khalaf dan beliau berkata:

Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abdurrahman Al-Baihaqi dan beliau berkata:

Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Sa’id Ats-Tsaghrai dan Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Zakaria dan beliau berdua berkata:

Kami pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Ali bin Ibrahim Asy-Syaqiqi dan beliau berkata:

Aku pernah menanyakan hal itu kepada Syeikh Abu Ya’qub Asy-Syaruthi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ahmad bin Ghassan dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Ahmad bin ‘Atha’ Al-Hujaimi, beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Syeikh Abdul Wahid bin Zaid dan beliau berkata:

Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Imam Hasan Al-Bashari, beliau menjawab,

Aku pernah bertanya kepada shahabat Hudzaifah r.a, beliau menjawab:

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW ikhlas itu apa, beliau menjawab: Aku pernah menanyakan tentang ikhlas itu kepada malaikat Jibril a.s dan beliau menjawab: Aku pernah bertanya tentang hal itu kepada Allah Rabbul ‘Izzaah, dan IA menjawab: “IKHLAS ialah RAHASIA di antara rahasia-rahasiaKu yang Kutitipkan di hati hambaKu yang Aku cintai.”

***
NB: Riwayat Hadis ini dapat juga dibaca di http://gusmus.net/mata-air/hakikat-ikhlas

Ulangan (1)

Seperti biasa setiap selasa pagi, saya membeli koran Kedaultan Rakyat, dan hanya saya baca rubrik Wedang Uwuh-nya saja. Selebihnya sisa kertas saya sedekahkan, tepatnya saya letakan begitu saja, entah siapa yang akan memungutnya.

Pekan lalu, saya tidak mengikuti rubrik Wedang Uwuh, tiba-tiba pekan ini sampai pada sebuah kisah bahwa beberapa puluh tahun yang lalu di Yogya, sebelah barat perempatan jalan Wirobrajan, sisi selatan jalan, ada sebuah angkringan yang dikelola oleh mbah Wongso namanya.

Mbah Wongso adalah seorang yang (saya menyimpulkan dari tulisan ini) seorang yang Tuhan katakan “Kun, fayakun”. Begitu Tuhan menciptakan mbah Wongso “Jadilah” maka berlangsunglah mbah Wongso sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan bagai air yang mengalir.

Ketika membaca kisah mbah Wongso ini, saya menangkap, seolah mbah Wongso adalah seseorang yang tidak mengalami momen sabar atau bersyukur. Malah mungkin mbah Wongso sama sekali tidak tahu konsep sabar dan syukur. Dia hanya tahu tentang menjalani kehidupan dengan ikhlas saja. Bahkan mungkin mbah Wongso tidak peduli dengan kata ikhlas juga.

Orientasi dagangannya bukan bisnis. Untung rugi tetap diperhatikan tapi bukan fokus utama. Fokus utamanya melayani orang-orang yang ingin mengganjal perut mereka dan menjalani darma yang Tuhan tugaskan kepadanya. Kalau pembeli makan tempe lima, dan bilangnya makan dua, mbah Wongso tidak akan mempermasalahkannya.

“Mbah wongso bukan kapitalis, Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.” Demikian sedikit saya kutip satu kalimat dari tulisan di rubrik Wedang Uwuh hari ini selasa 4 April 2017.

Tuhan, Sampean nge-kos di mana?

mezzanine_399
http://image.pbs.org/video-assets/pbs/the-buddha/91554/images/Mezzanine_399.jpg

Orang yang cerdas adalah orang yang kritis terhadap banyak hal. Apa pun yang ia lihat, ia akan mempertanyakannya. Seorang anak kecil ketika dalam proses tumbuh dewasa, ia akan mengalami berbagai kejadian, melihat berbagai macam fenomena, dan mendengar macam-macam suara. Ia akan terus berproses hingga ia akan menyimpulkan sendiri apa yang ia alami. Termasuk dalam masalah agama. Khususnya lagi mengenai pencarian Tuhan.

Kehadiran Tuhan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Entah bagaimana setiap manusia akan menghadirkan Tuhan dengan cara mereka sendiri-sendiri. Bahkan ketika seseorang tidak meyakini adanya Tuhan, pada dasarnya ia akan tetap menghadirkan Tuhan dalam bentuk lain, minimal ia akan menuhankan dirinya sendiri.

Saya tidak akan membahas itu. Saya hanya teringat pada diri saya sendiri saja ketika masih kecil. Saya tidak terlalu kritis mengenai Tuhan. Saya tidak tahu apakah saya termasuk korban doktrin atau bukan. Sepanjang ingatan saya hingga sekarang keluarga saya adalah keluarga yang biasa saja dalam hal agama. Sama sekali bukan simpatisan apalagi sampai ekstrim Sama sekali tidak. Bahasa gampangnya kami hanya agama KTP saja.

Saya langsung percaya saja bahwa Tuhan itu ada. Tanpa harus ada bukti dan janji. Hal ini kadang membuat saya agak menyesal sekarang ini. Wah berarti saya ini kurang kritis ya. Sekarang sudah terlanjur percaya. Lha mbok dulu saya agak-agak bingung dikit atau ada kecendrungan untuk tidak percaya kalau Dia ada. Sialnya itu tidak terjadi.

Tentu saja saya tidak mengatakan kita seperti Sayyidina Ali yang tanpa proses apa-apa langsung melihat Allah di mana pun dalam keadaan apa pun. Ya bukan seperti itu. Perbedaannya sangat jauh sekali. Seandainya mengalami proses seperti Sayyidina Abu Bakar saja sudah lumayan, yang menemukan Tuhan melalui proses budaya. Atau Umar dengan cara radikal, atau Utsman dengan proses perenungan dalam. Tapi ternyata kita tidak seperti empat orang besar itu.

Sebenarnya saya sangat kagum pada kawan-kawan yang mengalami pergolakan batin. Yang melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh. Berproses dengan begitu setia. Mempelajari setiap ilmu. Membaca macam-macam buku agama, buku filsafat, buku geografi, buku memasak untuk menemukan kebenaran. Tidak masalah nanti hasilnya, mereka mau percaya atau tidak percaya. Yang terpenting adalah proses kesungguhannya.

Sekarang kalau saya mau seperti itu ya ndak enak sama Gusti Allah. Nanti malah kena semprot, “Koe ki wes tuo, rasah macem-macem. Telat nakalmu!”

Seorang anak kecil bertanya kepada ibunya, di mana Tuhan berada. Ibunya bingung mau menjawab apa. Kemudian sang ibu menghadirkan pertanyaan anaknya di sebuah status di Facebook. Hmmm… Masalah Tuhan kan, tiba-tiba semua orang menjadi pakar ketuhanan, seolah mereka sudah bertemu Tuhan saja. Jawabannya pun macam-macam di kolom komentar. Ada yang bilang Tuhan itu ada Ka’bah, ada di tempat suci seperti masjid. Ada di hati. Ada di Baitullah. Ada di hati yang terluka.

Saya cuma bergumam di hati, “Kalian pikir Tuhan itu, nge-kos apa?”

Tertipu oleh Diri Sendiri

Sesungguhnya aku menginginkan
Bukan membutuhkan
Sesungguhnya aku bernafsu birahi
Bukan bersemangat
Sesungguhnya aku hanya tertarik
Bukan mencintai
Sesungguhnya aku curiga
Bukan waspada
Sesungguhnya aku terburu-buru
Bukan optimis
Sesungguhnya aku lemah
Bukan bersabar
Sesungguhnya aku ini lembek
Bukan arif bijak
Sesungguhnya aku sangat serakah
Tapi seolah progresif
Sesungguhnya aku pemalas
Bukan bersikap zuhud