Perspektif Ketenangan

Apakah setelah melakansanakan sholat hati kita menjadi tenang? Sebagian akan menjawab ‘Iya’ sebagian akan menjawab ‘kadang iya kadang tidak’ dan sebagian lagi akan menjawab ‘tidak’. Ini dari perspektif muslim, bukan perpektif lain, tidak perlu diperbedatkan kebenaran jawabannya. Setiap jawaban pasti memiliki alasan dan latar belakang yang berbeda.

Suatu sore selepas sholat Ashar yang dilakukan dengan agak malas, seorang teman bertanya kepada saya apakah setelah sholat batin saya menjadi tenang. Saya jawab iya walaupun sholat saya masih termasuk kategorirubuh-rubuh gedang. Dia bertanya kenapa bisa? Saya jawab simple saja bahwa mungkin karena sudah terdoktrin sejak lama bahwa sholat itu membuat tenang, maka saya bisa menjadi tenang. Coba bayangkan kalau saya terdoktrin keyakinan lain, misal setelah pergi ke Gereja, batin akan tenang, maka saya akan menjawab, sholat itu tidak bikin tenang tapi yang bikin tenang adalah beribadah ke Gereja. Ini cuma soal mindset saja, saya singkat begitu. Kalau kita memutuskan mindset itu, yang bikin tenang adalah hal lain selain sholat.

Sebenarnya jawaban saya di atas atas pertanyaan dari teman saya, spontan baru muncul saat itu juga, sebelumnya saya sama sekali tidak tahu akan ditanya demikian dan akan menjawab demikian. Memang kadang jawaban atas sebuah pertanyaan bisa jadi adalah sesuatu yang telah lama terpendam yang tidak saya sadari.

Dari situ kemudian sepanjang malam setelah kejadian itu saya menyimpulkan bahwa apapun yang kita yakini dengan sepenuh hati akan menjadi suatu kebenaran sendiri yang bisa memiliki dua sifat sekaligus; subjektif dan objektif. Dua hal ini akan berseliwerantumpang tindih saling menggantikan peran masing-masing.

Sebagai tambahan catatan yang bersifat personal, kebetulan saya memeluk agama Islam, sehingga apapun yang datang darinya saya yakini dengan sepenuh hati walau sering saya malas melaksanakannya. Saya bukan orang relijius dan saya termasuk katergori Islam KTP, yang akhir-akhir ini saya menyebut diri saya sendiri Muslim Swasta atau Muslim jadi-jadian. Soal teknis-teknis yang buruk adalah persoalan lain yang tidak saya kaitkan dengan keyakinan di hati saya. Bagi saya adalah yang penting percaya dulu, pelaksanaannya belakangan setelah ada niat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s