The Essential

Terinspirasi dari salah satu scene di film ‘Rayya’, di mana ada seorang fotografer professional yang masih menggunakan cara konvensional dalam memfoto, dengan menggunakan kamera SLR lama dan roll film. Di sisi lain sang fotografer yang bernama Arya (diperankan oleh Tio Sadewo) adalah seorang handal dalam fotografi digital tapi tidak mau meninggalkan analog kamera karena jiwanya tidak ingin dimanipulasi dalam berkarya. Ia dinilai sebagai seorang fotografer yang tetap mempertahankan esensi-esensi fotografi analog sejak era digital fotografi muncul. Berangkat dari situ saya tergerak untuk menulis tentang fotografi dengan cara yang sederhana sekali.

Saya tidak pernah mempelajari fotografi secara khusus, dan tidak tahu ilmu dan esensi apa saja yang ada di dalam fofografi. Tapi saya merasakan bahwa salah satu esensi fotografi yang hilang saat ini adalah mencetak foto. Berapa banyak foto yang kita ambil dengan teknologi fotografi saat ini? Menggunakan smartphone, menggunakan kamera digital, tapi kita lupa untuk mencetak foto-foto yang telah kita ambil.

Berbeda dengan fotografi di era sebelum foto digital seperti sekarang ini. Kita dulu bersusah payah hanya untuk mengabadikan momen berharga, harus membeli roll film dan memasangnya dengan resiko roll tidak berputar atau semua hasil foto terbakar tidak bisa dicetak, kemudian harus bersabar lama hingga roll film habis dan baru datang ke percetakan foto dan menunggu beberapa hari untuk melihat foto jepretan.

Merepotkan bukan?

Memang merepotkan dan prosesnya lama tapi ada semacam energi yang dapat kita rasakan dari hasil jepretan yang sudah lama kita nanti itu. Momen yang kita abadikan terasa lebih berkesan dan meninggalkan bekas di memori kita. Saya pribadi merasakan perbedaan antara melihat foto hasil cetak dan melihat foto di layar komputer atau hp.

Mungkin ada yang berkata, karena terlalu mudah memfoto di zaman sekarang ini sehingga foto yang dihasilkan sangat banyak bahkan dalam sekali sesi foto bisa mencapai ribuan foto, tidak mungkin mencetak semua foto itu biayanya akan sangat mahal. Ok, saya setuju dengan statement itu. Tapi kemudian muncul pertanyaan, apa iya dari ribuan foto yang di-jepret itu bagus semua dan momennya pas? Saya yakin tidak semua, hanya beberapa foto saja yang momennya mengena. Mosok ya foto jelek mau dicetak?

Saat ini sebagian besar dari kita tidak lagi menggunakan roll film. Beberapa bulan ini saya sempat berpikir untuk mencetak foto-foto yang pernah saya ambil menggunakan kamera digital. Jumlahnya ribuan, rasanya sia-sia sekali banyak foto terlihat tidak bagus, kadang kemudahan membuat sesuatu justru membuat penggunanya ceroboh dan tidak perhitungan dalam bertindak. Orang jaman dahulu karena harus menghemat roll film, sangat berhati-hati dalam mengambil foto, baik momen, waktu, dan pencahayaannya. Sehingga hasil fotonya pun jauh lebih berkesan daripada hasil foto jaman sekarang. Ini hanya penilaian saya saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s