Fragmen 1

url.jpeg

Suatu waktu,

“Aku ini walau bukan muslim, tapi sangat percaya pada al-Quran.”

“Tapi tertulis di ketetapan Tuhan bahwa kamu tidak akan menjadi muslim.”

“Apa? Maksudnya?”

“Iya, kamu tidak akan pernah menjadi muslim, seumur hidup, kamu akan tetap menjadi apa yang kamu yakini saat ini.”

“Bagaimana kok bisa, kenapa Tuhan tidak menginginkan aku menjadi muslim?”

“Yah, kamu tanya saja sama Dia sendiri. Kok kamu mempertanyakan hal yang bukan kewenangan manusia untuk menjawab?

***

Tidak, dialog di atas hanya imanijer saja, yang berdasarkan pada suatu mimpi yang saya alami, tapi tidak perlu ditulis secara detail bagaimana mimpinya, kata orang mimpi itu tidak boleh diceritakan kepada siapapun kecuali seperlunya saja.

Kurang lebih di dalam mimpi saya, ada seorang teman yang berkata, “Saya ini sangat percaya pada al-Quran…” Kemudian terdengar suara, entah itu suara saya sendiri atau suara siapa, saya tidak tahu. Suara itu berkata, “Tapi di Lauhul Mahudz tertulis kamu tidak akan menjadi muslim.”

Lauhul Mahfudz dalam terminologi Islam adalah suatu “buku” yang mencatat segala ketetapan mengenai segala kejadian dari awal hingga akhir, dari hal terkecil sampai terbesar, dll.

Terlepas dari apa maksud mimpi itu, benar atau tidak, tidak perlu diperdebatkan, toh itu cuma mimpi, kadang mimpi benar, kadang salah, kadang basah. Kemudian pagi ini saya terinpirasi untuk menulis ini ke dalam blog atau Facebook, sudah agak lama saya tidak menulis di blog saya. Setidaknya gara-gara mimpi ini, ada inspirasi untuk menulis.

Saya ingat pada kisah penciptaan Sang Cahaya, sengaja hanya saya tuliskan Sang Cahaya agar tidak terlalu subjektif, sebenarnya siapa Sang Cahaya itu. Di dalam sebuah perkataan, dikatakan bahwa kalau bukan karena dia sang cahaya itu, Tuhan tidak akan menciptakan jagad raya ini, termasuk assesoris pengisi jagad raya, yang saya maksud asesoris adalah manusia kampret seperti kamu itu, iya kamu…

Tuhan menciptakan suatu cahaya, yang kemudian dari cahaya itu membentuk dirinya menjadi makhluk yang sangat indah sekali. Dari cipratan keringat cahaya itu, terciptalah alam semesta, planet, bintang dan segalanya. Dan dari cipratan keringat cahaya itu, terciptalah segala macam makhluk termasuk manusia.

Dari bagian keringat itu pula, setiap keyakinan dan agama manusia sudah ditetapkan. Setiap manusia sudah ditulis oleh Tuhan, keyakinan apa yang akan mereka anut. Kala itu, sudah ada barisan manusia dengan agama A, ada barisan manusia dengan agama B, C, D dan seterusnya. Tidak lupa juga ada barisan manusia yang tidak akan percaya pada adanya Tuhan.

Kisah ini membuat saya merenung, bahwa kita semua tidak diciptakan di dunia untuk menjadi satu seragam, setiap orang harus berbeda-beda, tidak mungkin dipaksakan satu kesamaan. Tidak perlu sedih jika ada orang yang berbeda, bahkan ketika sampai pada ranah keyakinan, tidak masalah ketika setiap manusia meyakini agama yang mereka anut ataupun yang tidak mereka anut. Toh saat ini masing-masing dari kita baik yang yakin atau tidak yakin, semuanya hanya spekulasi. Orang yang beragama spekulasi, agama ini benar atau tidak. Orang yang tidak beragama juga spekulasi jalan ini benar atau tidak. Tapi mungkin kadang karena ego kita yang terlalu tinggi, kita tidak mengakui bahwa kita semua sedang berspekulasi.

Tapi dari semua itu adalah yang terpenting adalah sikap kita terhadap yang lain, yaitu menghargai perbedaan di antara manusia dan tidak memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain. Jika tidak bisa mencintai setidaknya tidak usah membenci, sinis apalagi sampai mengkritik makanan orang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s