Bunga

IMG_20151024_175309
https://www.instagram.com/p/9N7n49nwKg/?taken-by=mattmegavoice

Fragment 1:

“Aku mengenalmu beberapa bulan yang lalu, setiap orang selalu kagum padamu, auramu selalu memancarkan daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang kau temui atau setiap orang yang pernah bertemu atau hanya melihatmu. Kau memang seorang wanita yang ternama. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu terpana kepadamu awalnya, memang kau termasuk wanita yang cantik, kalau tidak cantik bagaimana mungkin setiap pria yang mengenalmu akan rela memberikan hidup mereka kepadamu. Sedangkan aku sendiri waktu itu bukan termasuk di antara pria-pria yang seperti itu. Aku bahkan cenderung tidak peduli walau diam-diam terpana padamu.”

Fragment 2:

“Bunga adalah namamu, bukan namamu sebenarnya karena ini akan tulisan di blog (haha), tapi nama Bunga ini sudah cukup merefleksikan nama dan segala hal yang terasosiasi dengan dirimu, nama yang indah, klasik dan unik dan mungkin nama yang terlalu berat bagimu sebagaimana beratnya beban yang kau pikul.”

Fragment 3:

“Bagi orang sepertiku, aku sama sekali tidak berpikir bahwa aku akan menjadi bagian dari hidupmu dan kau bagian dari hidupku walaupun hanya sesaat saja. Sama sekali tidak terlintas di benakku.”

Fragment 4:

“Bagaimana aku mengenalmu? Bagaimana aku bisa cukup dekat denganmu? Bagaimana aku bisa jatuh hati kepadamu? Dan Bagaimana kau juga jatuh hati kepadaku? Aku tidak benar-benar tahu, semua berlangsung begitu saja seolah tanpa arah yang mengawali perjalanan pendek ini ke tujuan apa. Mungkin banyak perbedaan mendasar antara aku dan kau, di samping banyak kesamaan mendasar yang muncul. Atau persamaan atau perbedaan tersebut hanya euphoria perkenalan pertama saja? Aku memang sudah terkena daya tarikmu setelah beberapa lama mengenalmu, aku mulai melakukan hal-hal untuk menarik perhatianmu, dan kau pun tertarik pada hal yang aku lakukan.”

Fragment 5:

“Hal-hal yang terlalu teknis tentu tidak bisa aku tulis di sini, di tulisan ini hanya sekedar ungkapan rasa syukur dapat mengenalmu dan belajar banyak hal darimu. Tentang akhir hubunganku denganmu pun sebenarnya tidak terlalu pahit. Dan aku tidak bisa menulis di sini alasan-alasan kenapa hubungan kita berakhir, sebagaimana kau yang sangat menghargai privasi orang lain, aku pun akan bersikap demikian di sini, tepat di tulisan yang mengungkapkan isi hatiku secara terbatas saja.”

Fragment 6:

“Aku kira hubungan kita berakhir dengan baik, walau ada beberapa efek yang terkesan kekanak-kanakan, hal yang tidak dapat dihindari karena terkait dengan perasaan, sedangkan kadang manusia tidak bisa mengendalikan perasaannya, entah itu perasaan bahagia atau sedih.”

Fragment 7:

“Kini setelah beberapa bulan kita berpisah, kau pun memiliki kekasih yang lain. Aku tidak marah atau kecewa akan hal itu dan aku tidak akan pernah mempermasalahkannya, walau seharusnya aku boleh dan berhak mempermasalahkan karena alasan-alasan yang pernah kau sampaikan kepadaku untuk meninggalkanku. Tak bisa kupungkiri aku belum bisa menyingkirkan bayanganmu dari hatiku. Kau terus menghantuiku, hanya saja aku tidak merasa tertekan atas hadirnya bayangmu selalu.”

Fin:

“Memang benar kata seorang pakar mantan, bahwa tak seorang pun yang benar-benar move on, yang ada hanya lah usaha untuk melupakan.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s