In the Name of Love

Sampai saat ini saya masih menikmati lagu-lagu lama dan hampir sama sekali tidak menyentuh lagu-lagu baru.

Setidaknya ketika saya dapat jatah dan kesempatan untuk memutar playlist saya di tempat kerja, baik lagu barat atau Indonesia, orang-orang di sekitar akan bergumam, tersenyum, sedikit tercengang dan mengingat masa lalu mereka, entah masa senang atau sedih, masa sekolah atau putus pacar, masa berkelahi atau mencari yang sejati.

Sembari saya tidak berkata apa-apa dan kadang-kadang pura-pura cuek, tapi diam-diam saya menikmati rasa bahagia mereka ketika mengingat segala kenangan. Bagi saya sendiri saat ini tidak ada masa lalu dan masa depan, jadi saya merasa tidak terkenang apapun, hanya menikmati nuansa musiknya saja.

Demi tidak menganggu hati orang lain sekarang saya menyingkirkan Muse, band favorit saya, dari musik yang saya putar. Saya hanya mendengarkan Muse di rumah saja. Karena musiknya Muse sering terlalu gaduh dan melankonis vokalnya, dan itu tidak easy listening sama sekali. Dan ok saya mengalah saja. You know…In the name of love, what more in the name of love.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s