Pulang

19237144126_1eeff20eee_b
Source: https://c1.staticflickr.com/1/264/19237144126_1eeff20eee_b.jpg

Hal paling menyenangkan dalam hidup ini adalah pulang. Entah itu pulang ke rumah, pulang ke kontrakan, pulang ke kos, pulang ke apartemen atau pulang ke hadirat Tuhan. Setiap orang memiliki rumahnya masing-masing.

Kau mungkin sangat exciting sekali melakukan perjalanan jauh, pergi berlibur ke Negara lain, pergi haji, travelling, liburan ke Hawaii, mendapat beasiswa untuk kuliah di luar Negara. Tapi semua kebahagiaan yang kau rasakan saat berangkat akan kalah dengan kebahagiaan yang kau rasakan saat pulang ke kampung halaman.

Agak berat jika topik ini diarahkan ke arah kepulangan hakiki, yaitu menuju ke kehidupan berikutnya. Pada hakikatnya orang yang meninggal dunia adalah orang yang pulang ke rumah asalnya. Bumi tempat kita hidup ini hanyalah rumah sementara. “Urip mung mampir ngombe”, kata bijak Jawa.

Mungkin, bukan mungkin, tapi pasti banyak orang di dunia yang tidak percaya pada kehidupan berikutnya. Setelah mati ya sudah tidak ada apa-apa. Selesai semua urusan. Saya tidak akan memperdebatkan mengenai hal-hal seperti itu, antara orang percaya dan tidak percaya pada kehidupan berikutnya. Karena tidak akan selesai untuk diperdebatkan. Silahkan setiap orang meyakini apa yang diyakininya. Tidak ada paksaan. Toh kita semua sama-sama spekulatif mengenai keyakinan itu.

Setiap sore ketika pulang kerja, saya merasakan ketenangan menuju rumah. Rasa yang tidak bisa saya pungkiri dan membuat saya menikmati setiap momen kepulangan. Udara yang dingin atau panas, matahari sore yang indah, orang-orang yang lewat dan segala macam hal yang terlihat oleh mata.

Di sisi lain, mungkin ada sebagian orang yang tidak bahagia ketika pulang ke rumah. Selalu ada kasus yang berbeda bagi setiap orang. Bisa jadi karena kehidupan rumahnya tidak menyenangkan, banyak percecokan dan di ambang keambrukan. Pada paragraf pertama tulisan ini saya menulis bahwa pulang itu bisa ke mana saja, tidak melulu ke rumah tempat kau dibesarkan.

Home is where your heart belongs.”

Diam-diam setiap orang merindukan tempat ia berasal.

“Pulangkan aku ke orangtuaku, mas!”  kata seorang isteri kepada suaminya. Hmm, ini jenis kepulangan yang sangat menyakitkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s