Yogyakarta

IMG_20151210_212242

Membaca sejarah Yogyakarta, masa-masa terberat Yogyakarta adalah saat pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II sampai Sultan Hamengku Buwono V. Segala macam pergolakan, pertentangan, perlawanan, kekalahan, kepasrahan, tunduk menjadi satu, sehingga semua itu – seharusnya– menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sekarang lebih dewasa di dalam perpolitikan negara kesatuan Republik Indonesia.

Walaupun terlihat monarki, tapi sesungguhnya Yogyakarta jauh lebih demokratis dari Indonesia. Karena rakyat sendiri yang menentukan kepala daerahnya tanpa pemilu, di mana pemilu hanya ditunggangi kepentingan partai politik, di mana orang-orangnya adalah pilihan parpol.

Seandainya penduduk Yogyakarta berkendak Sultan sekarang yang bertahta untuk turun dari jabatan kepala daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya yakin Sultan dengan legowo tidak akan turun, karena secara semena-semena dia mengeluarkan sabda raja yang bertentangan dengan paugeran Kasultanan!

Tiga paragraf di atas adalah tulisan di status Facebook saya sekitar dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu saya menulis: “Sultan dengan legowo akan turun…” Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Orang yang dianggap Raja itu ternyata haus akan kekuasaan. Tidak seperti yang diperkirakan kebanyakan orang saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, diberitakan bahwa seorang pakar hukum menggugat Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut si penggugat Yogyakarta sangatlah tidak demokratis karena yang bisa menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur hanya Raja saja.

Warga Yogya sangat marah akan hal itu. Memang unik, orang Yogya sangat menikmati demokrasi yang bercampur dengan monarki. Penetapan harga mati. Bukan masalah siapa yang memimpin, tapi bentuknya. Saya sendiri toh tidak sejalan dengan Sultan yang sekarang. Artinya orang Yogya itu marah kalau keistimewaan daerahnya diganggu gugat oleh orang lain, apalagi orang itu bukan orang Yogya. Tapi di sisi lain sebenarnya banyak di antara orang Yogya yang tidak peduli dan tidak mengakui Sultan yang sekarang sebagai Raja.

Silahkan datang menge-cek ke alun-alun, ke orang-orang kecil. Akan ditemukan fakta-fakta unik bahwa sang Raja tidak diakui oleh rakyatnya.

Saya sebenarnya sudah tidak mengakui Sultan yang sekarang sebagai Raja. Dia yang sekarang jadi Gubernur DIY hanya hansip saja yang menjaga pintu Kraton, sedangkan Raja yang sesungguhnya belum muncul. Ya entahlah munculnya dari mana. Karena sejauh yang saya ketahui almarhum Sultan Hamengku Buwono IX yang wafat pada tahun 1988 tidak pernah meninggalkan wasiat siapa penggantinya dan  beliau sudah menyerahkan tahtanya untuk rakyat. Silahkan rakyat yang memilih pemimpin yang sesungguhnya.

Yogya, yang katanya adalah ruh dari Indonesia, kini berada di ujung tanduk kehancuran. Banyak sesepuh yang sudah melihat ini. Hal ditandai dengan adanya Sultan yang tidak memiliki seorang putra untuk menjadi penggantinya. Sedangkan apabila seorang Sultan tidak memiliki anak lelaki, maka tahta seharusnya akan turun ke adiknya. Kasus ini pernah terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V yang digantikan oleh adiknya Gusti Raden Mas Mustojo yang kemudian burgelar menjadi Sultan Hamengku Buwono VI.

Jika pola sejarah memang harus terulang, maka tidak lama lagi akan terjadi pertentangan dan pemberontakan dari dalam Yogyakarta sendiri.

Saya tidak akan memperpanjang tulisan ini, karena saya bukan ahli sejarah, bukan ahli politik, atau bukan apapun. Tulisan ini hanya sekedar ungkapan keprihatinan atas apa yang terjadi di tanah Mataram saat ini.

Satu hal yang perlu menjadi catatan tambahan, saya sebagai penulis blog ini, hanyalah rakyat jelata biasa yang tidak jelas nasabnya, tidak memiliki ikatan darah dengan pihak Kraton, tidak ada warna biru di dalam tubuh saya. Sehingga tidak ada sentimen kepentingan apapun dalam tulisan ini.

Suatu hari kerajaan baru suatu hari akan muncul untuk meneruskan kerajaan yang lama dengan sistem yang baru.

***

Segala macam informasi yang saya terima sangatlah acak sekali. Apa yang ditulis belum benar dan sesuai fakta sekarang dan fakta sejarah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s