Merokok

IMG_20160512_192448
https://www.instagram.com/p/BFTp5DTHwMc/?taken-by=mattmegavoice

Sebelum saya memutuskan untuk merokok, saya memastikan diri saya tidak terpengaruh oleh siapa pun. Pertama kali merokok sekitar dua tahun yang lalu ketika, saya datang ke proyek konstruksi bangunan di suatu daerah di pulau seberang, di mana seorang mandor membelikan saya dua bungus rokok kretek hamper setiap satu atau dua minggu sekali. Waktu itu saya tidak merokok setiap hari, hanya sesekali saja, sisanya saya berikan kepada teman-teman saya.

Seiring dengan waktu yang berjalan, masa kerja di sana selesai, dan saya kembali ke tanah Kerajaan Ngayogyakarta. Saya masih belum merokok dengan pasti, mungkin hanya sesekali saja ketika ada kawan yang menawari. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah sebelumnya selama hidup bertahun-tahun walau saya tidak pernah merokok, saya tidak pernah menolak rokok sama sekali. Saya tidak menolak dan tidak menerimanya.

Kemudian saya pelan-pelan mempelajari sejarah rokok di Indonesia. Saya menemukan perbedaan mendasar antara rokok Indonesia dengan rokok import. Rokok Indonesia yang dimaksud tentu adalah rokok kretek Nusantara. Berdasarkan data yang saya baca, kretek pertama kali ditemukan digunakan sebagai obat oleh seorang Haji yang merasa kesakitan dengan tubuhnya kemudian menemukan metode penyembuhan dengan membakar tembakau yang kemudian dihisapnya, sehingga ia sembuh setelah menghisap tembakau itu yang dilinting.

Saya teringat ucapan Markesot, bahwa rokok itu tidak perlu dilarang-larang apalagi dianjurkan. Silahkan setiap orang mempertimbangkan tubuh mereka sendiri, apakah tubuh mereka kuat atau tidak ketika merokok. Jika kuat merokoklah, silahkan. Jika tidak kuat merokok maka tinggalkan saja rokok, tanpa perlu harus mencela para perokok.

Mempertimbangkan hal-hal di atas, akhirnya saya memutuskan untuk merokok saja. Dan saya merokok kretek bukan rokok import putih.

Secara resmi saya baru saja merokok kretek sejak tanggal 17 April 2016. Sejak hari itu saya merokok setiap hari, tapi tetap mengingat batas, bahwa saya tidak mampu menikmati rokok lebih dari tiga batang sehari.

Hingga sampai saat ini saya tidak pernah merasa kecanduan rokok kretek, apalagi di bulan puasa ini, di waktu puasa saya tidak merokok dan tidak merasa menderita sama sekali, seperti yang diberitakan bahwa rokok (kretek) bikin kecanduan. Ini kretek lho, kalau rokok putih saya tidak tahu wong saya tidak suka, walau kadang mau kalau ada teman yang menawari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s