Tiang Peradaban

00012123
http://www.wowkeren.com/images/news/00012123.jpg

“Menikah adalah tiang peradaban.”

“Kata Soe Hok Gie, pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”

“Itu pernikahan dalam arti sempit. Pernikahan bukan hanya soal kebutuhan seksual saja.”

“Lalu apa pernikahan dalam arti luas.”

“Sebenarnya aku tidak terlalu paham juga sieh… Haha. Tapi akan kucoba untuk keluarkan apa terbesit di pikiranku yang merupakan buah dari hati, yang akhir-akhir ini agak mengangguku.

Pernikahan dalam arti luas adalah seperti petani yang bertani di sawahnya, maka didapatkan lah hasil bumi. Di sini petani berperan sebagai suami dan sawah sebagai istri, dan hasil bumi adalah peradaban itu sendiri.”

“Hmmm… Aku bukan petani, bisa kasih contoh yang lain.”

“Dasar rewel… Haha… Tapi baiklah. Pernikahan arti luas dalam bentuk lain adalah seperti pemerintah yang menikah dengan rakyat, maka lahirlah negara. Pemerintah adalah suami dan rakyat adalah istri, dan negara adalah anak.

Dalam sudut pandang lain, pernikahan adalah untuk menjaga keseimbangan alam. Seperti Yin dan Yang, aku tidak terlalu paham juga sih tapi setidaknya keduanya adalah keseimbangan. Tidak mungkin keseimbangan terwujud hanya dengan –misal– Yin dan Yin. Harus ada keduanya, panas – dingin, lelaki – perempuan, siang – malam, atas – bawah, kanan – kiri, dan lain-lain sebagainya. Semua di alam semesta ini menikah dari dua hal yang memiliki karakter berbeda dan berlawanan, karena perbedaan itu lah mereka saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan masing-masing.

Dari sudut pandang ini lah, mengenai pernikahan manusia, aku tidak setuju dengan pernikahan sesama jenis kelamin. Karena menurut ku itu meruntuhkan keseimbangan alam. Entah keseimbangan apa. Terlepas dari problematika mereka kenapa bisa tertarik dengan sejenis. Aku tidak mencela mereka dan tidak mendukung mereka, karena ini merupakan issue yang sensitif sekali.”

“Haha… Penjelasanmu terlalu ngelantur. Bisa kita persempit saja soal pernikahan laki-laki dan perempuan saja? Dan ehhh… Sejak kapan kamu punya pemikiran kayak gini? Bukan sejak 2 minggu yang lalu kan?”

“Haha… Asyuuu koe. Yah sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini, dan yah memang sih akibat 2 minggu yang lalu itu aku jadi lebih memikirkan lebih mendalam lagi. Tapi enggak ada unsur baper-nya. Kalau pun ada juga gak apa-apa kan? Manusia jeeee… Bukan robot.”

***

Original post saya ambil dari Tumblr saya: http://pemainluarpagar.tumblr.com/post/139053092828/19

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s