Melipat Ruang dan Waktu

636005841607656170-64416323_fast-forward
https://www.theodysseyonline.com/concept-time

Selama satu minggu ini saya bekerja di luar Yogya. Berangkat pagi dan pulang sore setelah berbuka puasa di kantin basement Hotel. Sampai di kos badan sudah lelah, biasanya langsung bleg tidur lelap, atau menikmati dulu satu atau dua batang kretek sebentar untuk mengolah nafas agar tidak terlalu lelah (Merokok untuk mengolah nafas?! Dunia kesehatan bisa marah ini! Haha…) Tapi umumnya tidak sempat untuk menghibur diri, bahkan hanya untuk mendengarkan satu atau dua lagu favorit. Ya bisa mendengarkan, tapi langsung ketiduran dan bermimpi indah.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis di blog ini juga tentang keinginan saya untuk tidak lagi mendengarkan musik gratisan demi menghargai karya seni musik yang sudah susah-susah ditulis dan digubah oleh para musisi. Dalam hal ini saya memilih layanan musik Spotify, dengan biaya sekitar Rp 49.990 per bulan. Setelah sekitar satu bulan berlangganan, saya merasa berat melanjutkan pembayaran. Menjadi orang yang baik dan tertip memang susah. Akhirnya tanpa kemunafikan, saya mengakui saya belum mampu melakukannya. Ya sudah lah, dengerin lagu-lagu koleksi di komputer saja, toh semua bukan gratisan. Ada beberapa puluh lagu yang saya beli secara legal dari CD yang kemudian saya ripping ke dalam format mp3.

Saya tidak memiliki bakat untuk memainkan alat musik. Mendengarkan musik bagi saya adalah suatu cara mengungkapkan perasaan di dalam kesunyian batin. Biasanya saya hanya diam saja mendengarkan musik, tidak ikut menyanyikan liriknya, karena saya menyadari bahwa suara saya sangat-sangat tidak merdu untuk diperdengarkan. Sama sekali fales total, apalagi untuk suara-suara tinggi. Untuk beberapa suara rendah memang kadang –cuma kadang—agak terdengar bagus sedikit saja. Sekalipun hanya diam, tapi sebenarnya di dalam batin meronta-ronta berteriak-teriak tidak karuan mengikuti alunan musik dan vokal. Sungguh saya sangat berharap sekali saya bisa memainkan instrumen musik dan bernyanyi dengan lantang. Boleh kan berharap? Kalau tidak terkabul kan sudah biasa. Syukur-syukur suatu hari nanti saya memiliki anak cucu yang memiliki bakat dalam seni musik. Ketidakmampuan saya saat ini adalah tirakat untuk keberhasilan anak cucu, semoga saja begitu, Tuhan memberi kehendak yang tepat.

Ketika mendengarkan musik favorit, saya menyadari saya tidak bisa mendengarkannya sambil melakukan hal lain. Misal sambil bekerja yang bagi sebagian besar orang merasa nyaman, bagi saya malah sebaliknya, pekerjaan saya akan terganggu, karena saya akan lebih fokus mendengarkan musik.

Di dalam komputer, saya memiliki ribuan lagu yang tidak mungkin saya mampu mendengarkan semuanya. Kadang saya berpikir apakah mungkin saya bisa mendengarkan semua lagu koleksi saya dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak harus menunggu lama sekali untuk menikmatinya. Istilahnya saya ingin mampu melipat ruang dan waktu.

Di dalam khazanah dunia sufistik, banyak diceritakan bagaimana para wali Allah, diberikan ijin oleh Allah untuk melipat ruang dan waktu. Dengan kemampuan melipat ruang dan waktu mereka dapat melakukan berbagai hal dalam waktu yang sangat singkat sekali. Mereka dapat menempuh perjalanan mengelilingi Bumi dalam beberapa saat saja. Mereka mampu membaca satu Quran penuh hingga katam dalam satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.

Dalam bahasa modern melipat ruang dan waktu bisa diartikan masuk ke dalam interval jeda waktu antara detik satu dengan detik berikutnya, menit satu dengan menit berikutnya, jam satu dengan jam berikutnya. Dengan memasuki interval jeda waktu, satu detik bisa terasa seperti satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan berhenti sama sekali bagi mereka yang mengalami.

Pernah ingat bukan film seri yang diputar di Indosiar pada sekitar tahun 1999 – 2000 yang berjudul “Honey, I Shrunk the Kids”, di salah satu episodenya Wayne menciptakan alat untuk mempercepat gerakan sehingga bisa ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Suatu ketika alat itu rusak dan Wayne terjebak di dalam interval jeda waktu satu detik yang menjadi berhenti sama sekali, dan Wayne hilang dari dunia nyata, padahal dia tidak ke mana-mana. Wayne melihat semua yang di sekitarnya berhenti.

Tapi itu kan cuma film fiksi ilmiah. Yah ya tidak apa-apa.

Di sisi lain dari kemampuan ini, wali-wali Allah adalah orang-orang pilihan yang sangat rendah hatinya, sangat menyadari bahwa mereka walau memiliki kedudukan tinggi di sisi Tuhan, tapi sebenarnya mereka bukan apa-apa. Biasanya ketika mendapat kemampuan seperti itu, mereka akan merasa sangat malu kepadaNya.

Jadi sebenarnya saya hanya membayangkan saja, dan agak berharap saya bisa melipat ruang dan waktu untuk mendengarkan musik. Tapi agak menggelikan juga sih, mereka wali-wali Allah yang diberi kemampuan malah malu kepadaNya, sedangkan saya sangat kotor sekali, malah mencari-cari hal seperti itu apalagi mencarinya untuk melakukan hal-hal pribadi saja, yang bagi orang modern itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Akhir pekan ini saya pulang ke Yogya, tiba di rumah, saya langsung memutar lagu-lagu yang saya angankan untuk didengarkan selama seminggu ini. Wah! Rasanya seperti pertama mendengarkan lagu-lagu itu. Dan pastinya langsung menulis tulisan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s