Malioboro Bukan Sekedar Tempat Belanja dan Nongkrong

02 Malioboro

Yogyakarta adalah kota pelajar, setiap tahunnya ribuan pelajar datang ke kota ini. Di saat yang sama ribuan pelajar juga meninggalkannya dan sebagian lagi terpaksa harus jatuh hati pada tempat ini. Secara administrasi sebutan kota pelajar adalah sebutan yang agak aneh karena sebagian kampus-kampus ternama tidak terletak di dalam kota Yogya sendiri tapi di wilayah administrasi kabupaten-kabupaten yang mengelilingi kota Yogya.

Banyak tempat menarik di Yogya untuk dikunjungi dan dijadikan tempat nongkrong, terlepas dari issu bahwa kota Yogyakarta tidak memiliki ruang terbuka hijau yang cukup memadai bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, tapi toh orang tetap menikmatinya dan menganggapnya sebagai kota yang nyaman.

Bagi pendatang baru mungkin yang mereka ketahui tentang Yogya adalah Malioboro, Kraton, Pantai atau pun tempat-tempat seru lainnya yang sering dipublikasikan di berbagai media. Bagi mereka yang sudah lama menginap di Yogya, pastinya sudah tahu banyak tempat menarik lainnya. Tapi pernahkah kita sadari bahwa berbagai tempat di Yogya itu memiliki filosofi-filosofi yang unik untuk dipelajari? Pernahkah kitatahu pelajaran apa yang diam-diam diajarkan oleh para pendiri daerah yang masih menganut sistem kerajaan ini?

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Yogyakarta untuk kita jadikan referensi untuk memotivasi diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Salah satunya adalah tempat yang paling populer yang terletak di jantung kota Yogya, yaitu Malioboro.

Tahukah kita arti nama Malioboro? Atau lebih tepatnya nama jalan yang berada di sumbu filosofi dari Tugu sampai Kraton. Mengutip dari Markesot yang pernah hidup menggelandang di Malioboro selama lima tahun, bahwa nama-nama jalan di sumbu filosofi itu memiliki makna-makna dalam tentang perjalanan hidup seorang manusia.

  1. Margoutomo

Dahulu dari Tugu sampai rel kereta api di sebelah timur stasiun Tugu bernama jalan Margoutomo yang berarti bahwa seorang manusia harus memiliki keutamaan dan pegangan dalam hidupnya, entah itu ilmu, keyakinan agama, pandangan hidup atau pun hal lainnya karena Margoutomo bisa ditafsirkan kepada banyak hal.

  1. Malioboro

Dari rel sampai di perempatan jalan sebelum kampung Ketandan adalah jalan Malioboro, jadilah orang pengembara, melakukan perjalanan untuk menemukan kesejatian dalam hidup. Bukan hanya memiliki ilmu saja yang didapatkan di Margoutomo, tapi seorang manusia harus berani mengeksplorasi diri untuk menemukan potensi diri yang tersimpan dan tersembunyi; kreatifitas, intelektual, dan lain sebagainya.

  1. Margomulyo

Dari perempatan jalan di utara kampung Ketandan sampai perempatan nol kilometer adalah jalan Margomulyo, yang berarti jalan kemuliaan. Setelah melewati tahap-tahap di Margoutomo dan Malioboro seseorang baru akan memperoleh kelebihan dan keistimewaan dari dalam dirinya.

  1. Pangurakan

Dan terakhir dari nol kilometer hingga Alun-Alun Kraton adalah jalan Pangurakan. Seseorang sudah menjadi urakan. Dalam bahasa Jawa “urakan” selama ini memiliki arti –kurang lebih—brutal, terlihat garang, semaunya sendiri. Tapi yang dimaksud urakan di dalam sumbu filosofi yang menghubungkan Tugu dan Kraton adalah seseorang yang mendobrak untuk membuat suatu perubahan ke arah positif.

Pada masa pemerintah Presiden Soeharto nama-nama jalan itu pernah diganti menjadi Jalan Pangeran Mangkubumi (Margoutomo), Jalan Jenderal Ahmad Yani (Margomulyo), dan Jalan Trikora (Pangurakan). Setelah Keistimewaan disahkan pada tahun 2012, nama jalan-jalan tersebut direstorasi menjadi nama aslinya.

Sebagai catatan tambahan agar tidak rancu mengenai Sumbu Filosofi dan Garis Imajiner di Yogyakarta, bahwa yang disebut Sumbu Filosofi adalah garis yang terhubung dari Tugu sampai Kraton, Garis Imajiner adalah garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi ke Tugu hingga Kraton, Panggung Krapyak dan berakhir di Laut Selatan.

***

Pernah dimuat di http://keluarmain.com/malioboro-bukan-sekedar-tempat-belanja-dan-nongkrong-ada-4-hal-yang-bisa-kita-jadikan-pelajaran-hidup/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s