Embraced by Words Into the Silence

Radiohead’s Ok Computer Artworks

Kata-kata adalah sesuatu yang mengherankan. Bagaimana jutaan orang bisa tersihir dengan kata-kata? Di balik kata-kata ada huruf-huruf yang menyusunnya. Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan seterusnya hingga membentuk berbagai macam bentuk buku, undang-undang, peraturan, surat, bahkan tulisan ini.

Jutaan tulisan mempengaruhi pikiran manusia. Bagaimana manusia bisa patuh kepada jutaan tulisan itu yang sebenarnya cuma berasal dari huruf yang lemah dan papa, tak sanggup melukai secara fisik tapi mampu menghancurkan secara mental.

Orang-orang bertengkar karena sebuah keputusan yang tertuang dalam susunan huruf dan kata yang tertata ke dalam selembar kertas. Padahal itu Cuma selembar kertas yang belum diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tentu sebenarnya semua itu bisa dilanggar kalau semua orang sepakat untuk melanggarnya.

Seorang pengendara tanpa SIM dan STNK takut pada selembar kertas yang dikeluarkan petugas polisi lalu lintas. SIM dan STNK itu juga hanya susunan huruf dan kata, lembaran kertas dari pak polisi juga Cuma susunan huruf dan kata. Kenapa bisa dipatuhi?

Kutu buku sangat percaya pada apa yang dibacanya padahal apa yang dibaca belum tentu benar. Ada hal-hal tentang ilmu pengetahuan yang tidak bisa menempel di atas kertas. Apakah hal-hal itu? Salah satunya dalah citarasa. Citarasa tidak dapat menempel di atas kertas. Kau mungkin kutu buku yang membaca ribuan buku yang seolah membuatmu merasa pintar dan tahu segalanya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan cita rasa dari jutaan buku yang kau baca.

Tidak usah buku. Kitab suci saja, sesuci-sucinya, sedalam apa pun kau menghayatinya, belum tentu kau akan mendapatkan cita rasanya.

Bahwa tulisan-tulisan yang merefleksikan ilmu belum tentu tertuang di buku dan kertas. Bukan hanya kadang tapi Tuhan selalu memberikan ilmu ke dalam berbagai bentuk. Suara angin adalah tulisan yang bergerak dan hidup. Suara gonggongan anjing tetangga yang berisik juga merupakan suatu tulisan tanpa huruf dan kata.

Aku bukan pembaca buku berat, dan tidak terlalu percaya pada isi buku. Memang buku itu penting untuk merekam segala hal yang otak manusia tidak mampu menampungnya dan mengingatnya. Seperti pepatah China, tinta paling kabur masih lebih baik dari ingatan paling kuat. Lalu bagaimana jika semua buku dibakar? Tentu semua akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s