Terdampar

Teknik Bangunan di STM dulu ketika saya sekolah (2003 – 2007) adalah jurusan yang sangat diremehkan banyak orang. Seolah Teknik Bangunan itu sangat hina sekali dan hanya pekerjaan rendahan. Ketika ketemu teman, tetangga atau saudara ditanya sekolah di mana? STM Jurusan Bangunan. Tanggapan mereka biasanya merendahkan, “Mau jadi kuli, mandor, tukang?”

Di sekolah sendiri pun demikian seolah Teknik Bangunan grade-nya paling rendah di antara jurusan-jurusan lain. Siswa-siswa Bangunan dianggap tidak berkomenpeten, sebagian memang buangan dari jurusan lain yang tidak diterima.
Saya waktu itu mantap sekali tanpa ragu banyak memilih Teknik Bangunan. Salah seorang kawan yang tidak diterima di STM Pembangunan Yogyakarta, STM paling tajir se-Yogya tapi kata orang sekarang mahal banget, berkata dengan nada rendah, “Koe ditompo yo? Tapi ger bangunan we.” (Kamu diterima ya, tapi cuma Bangunan ya?)

Mendengar kata-kata itu, saya sebenarnya menjadi agak berkecil hati juga sih. Saya sempat menyesal. Tapi penyesalan tidak berlangsung lama. Saya segera menikmati menjadi seorang siswa Teknik Bangunan. Walaupun yaa huasemmm tenan Teknik Bangunan itu susahnya setengah mati. Delapan puluh persen mata pelajarannya adalah hitung-menghitung. Saya ini blas tidak bisa Matematika dan ilmu hitung.

Kok bisa Jurusan sesusah ini, diremehkan dan direndahkan oleh banyak orang. Hingga saya harus menutup bagian pertama status ini dengan kalimat, “Kalian ini bisa apa tanpa Teknik Bangunan?! Bengkel Mobil, hotel, pabrik, kantor, gedung pencakar langit itu semua karya anak Teknik Bangunan! Selama Planet Bumi masih ada, Teknik Bangunan akan selalu dibutuhkan!”

Memasuki jenjang Perguruan Tinggi, Teknik Bangunan dibagi menjadi Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil. Sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa Biologi, Arsitektur adalah penampilan dan keindahan. Sedangkan Sipil adalah struktur tubuh manusia, termasuk tulang dan dalaman yang lain.

Berbeda dari masa STM, Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil adalah jurusan yang disukai banyak orang, dipuja, dijunjung dengan penuh penghormatan. Berbeda dengan Teknik Bangunan yang disesat-sesatkan bahkan dikafirkan.
Bagaimana dua hal yang sama dengan penyebutan nama yang beda, perlakuan orang bisa berbeda? Di Teknik Bangunan, baik ilmu Arsitektur dan Sipil sama-sama dipelajari. Walaupun memang lebih condong ke Sipil. Sedangkan di tingkat Perguruan Tinggi, wawasannya lebih diperluas pada banyak hal. Sehingga seorang Arsitek itu dituntut untuk mengetahui banyak hal tentang banyak hal. Minimal sedikit hal tentang banyak hal.

Memang tuntutan itu terdengar teoritis, tapi sebenarnya ujungnya Nekat saja. Berani melakukan semuanya dengan modal dengkul. Pinjam dengkulnya Amien Rais juga tidak apa-apa.

***

Zaman sudah berubah, Teknik Bangunan di STM tidak lagi menjadi jurusan yang direndahkan. Indikasinya apa? Banyak siswa cewek yang mendaftar di jurusan Bangunan, Itu saja.
Mbiyen garing tenan, plantangan kabeh. Tapi pekok bersama dalam kebersamaan yang indah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s