Bukan Tadabbur Quran

Siapa bilang menulis itu gampang? Untuk menulis tulisan sepanjang 300 kata di Facebook saja, saya harus berdiam diri tidak mengungkapkan apa pun selama lebih dari dua hari. Sekali lagi saya tulis di sini tentang tulisan saya beberapa hari lalu, membaca tulisan kurang dari 300 kata, banyak orang yang mengomel, “Tulisanmu kok panjang-panjang sih?” Yang kemudian saya sesalkan, ini merupakan indikasi orang Indonesia memiliki budaya malas baca. Termasuk saya juga sebenarnya. Selama hampir sembilan bulan ini, tidak ada satu buku pun yang saya baca. Ini artinya saya semakin tidak tahu banyak hal.

Setiap orang bisa mengambil foto di zaman sekarang karena banyak kamera pocket yang tertanam di smartphone. Tidak ada smartphone yang tidak memiliki kamera. Sejelek-jelek smartphone pasti memiliki kamera walau resolusi jelek juga sih. Tapi kan ada. Akan tetapi tidak semua orang adalah fotografer. Begitu juga dengan tulisan, setiap orang itu bisa menulis di mana pun sekarang ini, di Tumblr, Facebook, Twitter, Blogger, WordPress, dan segala macam media online lainnya. Tetapi tidak semua orang adalah penulis, apalagi sampai di taraf Profesional. Kualitas setiap tulisan, baik buruknya, benar ngawurnya tidak bisa dijamin. Tidak semua orang mampu menulis di koran, majalah, untuk membuat tulisan yang bermutu dan bonafit.

Pun termasuk saya, suka menulis di sosial media dan meng-upload foto-foto di Instagram sama sekali tidak mengindikasikan saya adalah penulis dan fotografer. Semua ini hanya sekedar pelampiasan dan pelarian nafsu. Nafsu di dalam diri saya perlu tempat untuk mengungkapkan segala keinginannya yang tak terbatas, yang bagaikan api yang membakar apa pun yang dilewatinya.

Lho, lho, lho, jangan mengira nafsu itu hanya soal nafsu birahi atau nafsu sex dan nafsu makan. Secara sederhana, nafsu itu adalah “The other you in yourself”. Dia adalah kuda liar yang harus dikendalikan, tentu saja diri kita sendiri yang harus mengendalikan. Dalam khazanah sufistik setidaknya nafsu itu ada enam atau tujuh, maaf saya lupa. Atau saya tidak tahu secara mendetail. Maklum saya hanya orang awam, yang tidak paham pada banyak hal. Hanya sedikit hal yang saya tahu.

Nafsu paling jahat dalam diri manusia disebut nafs al-amarah bisu, semoga ejaannya benar. Nafsu jenis ini atau kita sebut, diri kita yang lain dalam jenis amarah ini, selalu mengajak ke keburukan. Dia mengajak pemiliknya ke Sarkem, Dolly, atau Sunan Kuning. Dia mengajak pemiliknya untuk teler di Bosche. Segala jenis keburukan yang merusak diri manusia.

Sementara itu diri kita yang paling baik adalah nafs muthmainah, semoga lagi tidak salah ejaan tulisan. Jenis diri kita yang baik ini, selalu berada dalam keadaan dicintai oleh Tuhan, membuat kita yang menghuni jasad ini untuk selalu melakukan kebaikan.

Keinginan kita untuk meniti karir, berjualan di pasar, berbisnis, narik becak, bikin acara konser amal, menjalin relasi dengan banyak orang, diam-diam sebenarnya adalah keinginan nafsu. Hanya saja mungkin bukan nafsu amarah bisu itu, tapi nafsu yang lain yang baik dan tidak macam-macam.

Dalam proses pengendalian diri yang sangat rumit ini, dipukul memakai tongkat lebih ringan daripada ditusuk dengan pisau. Maksud saya kalau harus memilih di antara dua keburukan, maka saya memilih keburukan paling ringan. Saya tidak bilang hobi menulis dan fotografi adalah keburukan, hobi bagi saya adalah suatu cara untuk mengendalikan nafsu. Daripada menghabiskan keinginan nafsu pada hal-hal yang haram, lebih baik dialihkan ke hal-hal yang agak mubazir, tapi tingkatannya tidak sampai terlarang.

Misal saya suka memfoto pakai kamera mekanik. Ini kan agak boros dari segi produksi yang mahal, mulai dari beli film negatif, cuci film, sampai scan film. Apalagi kalau sampai cetak, bisa kanker (kantong kering) sepanjang bulan setelah gajian. Dan nafsu sangat menyukai sifat boros ini. Tapi kan ada hasilnya, ada foto yang bisa saya kagumi keindahannya, bisa share di Instagram, membuat banyak orang senang melihat keindahan-keindahan ciptaan Tuhan yang diabadikan dalam bingkai. Untungnya kamera saya sedang rusak, sehingga tidak terlalu boros.

Pun mengenai tulis menulis, ini bukan soal saya punya bakat menulis. Saya tidak punya bakat ini. Kalau sampai pada titik belakang ini tulisan saya sudah mencapai enam ratus empat puluh enam karakter. Itu bukan berarti bakat menulis. Sama persis seperti pada hobi saya memfoto, ini hanya soal mengenai melampiaskan nafsu pada hal-hal mubah dan makruh, agar nafsu tidak cenderung ke hal-hal yang haram.

Ketika bisa menulis sampai sejauh ini tepatnya enam ratus sembilan puluh empat karakter di titik belakang ini. Ada semacam perasaan sombong dan bangga, sekalipun tulisan ini tidak bermutu sama sekali. Setidaknya membuat nafsu senang sedikit, sehingga dia bisa dikendalikan. Apalagi tulisan sepanjang ada yang sampai membaca sampai di kalimat ini, lalu merespon dengan meng-klik atau menyentuh tombol “Suka” atau “Like”, nafsu di dalam diri saya semakin senang.

Betapa ribet kan tulisan macam ini, topiknya random sekali, mengenai hubungan menulis, fotografi dengan pengelolaan nafsu di dalam diri manusia. Dan alhamdulillah nyambung juga ternyata. Ya dipaksa nyambung. Dan betapa beruntung orang yang mau membaca sampai akhir tulisan ini, karena saya akan menghadiahkan sebuah ayat dari Kitab Suci sebagai penutup tulisan saya yang tidak bermutu dan tidak jelas ini, agar ada manfaatnya sedikit berkat firman Tuhan yang Maha Pengasih, karena sepanjang berfesbukan saya tidak pernah berani mengutip ayat Quran. Kecuali hari ini saja.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Quran Surah Yusuf Ayat 53)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s