Kebocoran Psikologis

Dahulu kala ada seorang Santri yang ingin menempuh jalan sunyi Gurunya.

“Mbah saya selama tiga puluh tahun ini sudah berpuasa di siang hari, dan sholat malam secara tekun. Saya sudah meninggalkan macam-macam keinginan. Tapi kok saya belum pernah menemukan semua yang simbah ceritakan. Padahal sak estu kulo percoyo banget.”

“Walaupun kau sholat selama 300 tahun, kalau keadaanmu seperti sekarang, ora bakal koe entuk opo-opo, cung!”

“Kok saget mbah?”

“Kau tertutup oleh dirimu sendiri!”

“Bagaimana agar saya tidak tertutup oleh diri sendiri?”

“Kau tidak akan mau melakukannya, dan tidak mampu melakukan.”

“Saya akan melakukannya mbah!”

“Oke kalau gitu. Sekarang pergi ke Barbershop terdekat, potong rambutmu dan cukur jenggotmu. Lepas pakaiannmu ini, dan ganti dengan pakaian yang biasa. Bawalah sebuah kantong yang sudah diisi makanan. Lalu kumpulkan anak-anak kecil. Katakan kepada mereka: ‘Ayo siapa berani menamparku, akan kuberi makanan.’ Setelah itu masuklah ke tempat di mana kau biasa dihormati sehingga mereka melihat kekonyolanmu.”

“Subhanallah”, kata Santri itu.

“Ucapan ‘subhanallah’-mu itu syirik!” Kata mbah Guru.

“Kok bisa mbah?”

“Cangkem mu itu mensucikan Allah, tapi hatimu itu sedang mensucikan dirimu sendiri.”

“Ada metode lain mbah?

“Ndak ada lee! Mulai dengan cara itu dulu, baru aku ajarkan cara lain.”

“Saya ndak mampu mbah.”

“Kandani kok, koe ki ngeyel. Aku kan sudah ngomong tadi, kau tidak akan mampu dan tidak mau!”

Catatan:
1. Melakukan dan atau menempuh jalan sunyi, melakukan latihan-latihan batin harus dibawah pengawasan seorang Profesional dan Expert.

2. Tulisan ini terinpirasi dam diambil dari kisah Syeikh Abu Yazid dan muridnya.

***

Saat ini sebenarnya kita bangsa Indonesia sedang mengalami kebocoran psikologis yang sangat akut sekali. Dan kebanyakan dari kita tidak menyadarinya sama sekali. Baik dalam skala lokal, regional sampai nasional. Dalam bidang politik dan agama khususnya.

Contoh tidak sederhananya adalah mengenai masalah Pemimpin Bangsa. Hampir setiap orang di negeri ini menuhankan idola pemimpin mereka. Parah kan? Yang menuhankan Jokowi misal maka akan menganggap pengikut Prabowo neraka semua. Sebaliknya yang menuhankan Prabowo juga akan menganggap pengikut Jokowi neraka semua. Begitulah pertengkaran rebutan tuhan berlangsung dengan penuh kekhusyukan sejak bertahun-tahun lalu hingga 2019 nanti.

Hastag #2019gantipresiden adalah salah satu kebocoran psikologis yang sangat asyik untuk ditertawakan. Memang mau ganti siapa?

Ada 300 juta lebih manusia di Indonesia, Anda-anda semua kan intelektual yang bijaksana tapi kok mau-maunya disuruh memilih satu di antara dua atau tiga kambing pilihan Par-Tai politik. Apa sudah tidak ada manusia yang layak memimpin Indonesia sehingga harus mencalonkan kambing-kambing yang dicalonkan oleh partai-partai kambing?

Oh maaf saya bukan pakar politik. Saya cuma menganalisisa kebocoran psikologis manusia Indonesia modern yang pintar, cerdas, tak terkalahkan, dan selalu benar sendiri. Saya sendiri Bayu Wiratsongko mungkin mengalami kebocoran psikologis yang jauh lebih parah. Mungkin saja saya malah orang bodoh yang tidak menyadari kebodohannya. Saya adalah orang apatis terhadap Indonesia. Mungkin begitu adanya.

Aku bodoh karena tidak memilih memihak kambing mana pun.

Sementara itu, kebenaran hamba-hamba kambing itu adalah: “Menjadi benar dengan menyalahkan yang lain.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s