Chaos

Melalui media sosial, muncul sebuah ancaman dari suatu kelompok yang menamakan dirinya –semacam– komunitas pembebas. Ancaman itu berisi ambisi untuk menghancurkan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Karena dinilai tidak sejalan dengan demokrasi Indonesia. Di dalam ancaman yang beredar di sosial media kelompok pembebas siap bertarung dengan masyarakat Yogyakarta.

Sebelum muncul ancaman itu, kemarin terjadi kerusuhan di Jalan Solo. Saya tidak mengikuti kronologinya, padahal kemarin siang saya ada di sana tapi di sisi barat perbatasan kota. Masih melalui sosial media, ada sebuah tulisan di tembok, “Bunuh Sultan”. Pelaku penulis sepertinya tertangkap. Mohon konfirmasinya bagi yang tahu detailnya.

Apa yang hendak saya tulis ini adalah pendapat pribadi. Tentang Yogya dan yang terkait. Pertama, saya termasuk orang yang tidak sejalan dengan Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan saya tidak terlalu mengakui dia adalah Raja. Tapi saya masih berada di ranah kewajaran. Tidak mengakui sebagai Raja tapi saya tetap menghormatinya sebagai manusia. Saya tetap mengakui HB X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ancaman membunuh Sultan adalah tindakan yang berlebihan. Memang ada prilaku Sultan yang tidak layak di-expose dan keterlaluan. Tapi saya tidak akan menuliskannya di sini. Itu masuk ke ranah internal Kraton, dan biar diselesaikan oleh orang dalam.

Menghancurkan Kasultanan Yogyakarta adalah agenda lama, sejak awal-awal kemerdekaan sudah ada hingga saat ini, baik dari dalam atau dari luar. Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dikebiri Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1965 dengan menurunkan status DIY menjadi Provinsi DIY. Terdapat perbedaan mendasar antara hanya DIY saja dengan Provinsi DIY. Secara de jure Daerah Istimewa Yogyakarta tidak ada sejak tahun 1965 hingga tahun 2012.

Pihak asing pun tidak lepas dari rencana mengkebiri Yogyakarta. Tidak perlu saya sebut siapa yang terlibat. Akan terlalu panjang. Yang paling menonjol adalah Sultan HB X sendiri. Secara tidak sadar ada beberapa keputusan dan kebijakannya yang sebenarnya akan menghapus keistimewaan Yogya.

Namun saya percaya Keistimewaan DIY tidak akan pernah hilang. Kasultanan Yogyakarta bersama Kadipaten Pakualaman tidak akan hancur. Yogyakarta adalah ibunda Indonesia. Indonesia adalah Malin Kundang. Tapi Yogyakarta bukan ibu yang akan mengutuk anaknya menjadi batu. Ibu macam apa yang tega mengutuk anaknya? Yogyakarta akan selalu menjadi pohon apel yang selalu memberikan apelnya untuk anak asuhnya yang tidak tahu terimakasih.

Masalah demo atas nama buruh tapi ditumpangi hasutan untuk meruntuhkan Kasultanan Yogya mungkin bukan perkara besar, setidaknya menurut saya. Suatu hari nanti bisa jadi akan ada Chaos yang lebih besar kalau Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan tahta kerajaan kepada putrinya.

Sabda Raja tempo tahun sudah bikin sebagian warga Jogja adem panas, kecuali yang tidak.

Menurut sejarah yang pernah dialami Jogja, jika seorang Raja tidak memiliki putra lelaki maka tahta turun kepada adik lelaki Raja. Tapi sekali lagi rakyat jelata seperti kita tidak perlu ikut campur. Mau ada Raja atau Ratu, konsekuensi dari alam ditanggung mereka sendiri.

Apalagi Indonesia dan Pemerintah Indonesia, tidak usah ikut campur masalah Jogja. Usut diusut para pelaku kerusuhan adalah orang luar negeri Ngayogyakarta Hadiningrat. Tentu saja menjadi pertanyaan besar: Kenapa mereka ribut soal Kasultanan Yogyakarta? Orang Jogja saja tenang-tenang saja tidak peduli siapa Rajanya.

Eh maksud saya, saya sendiri yang tidak peduli mau Hamengku Buwono kek, mau Hamengku Bawono kek, atau Hamengku Wanito.

Tapi saya tetap yakin, Yogyakarta tidak akan dipimpin seorang Sultanah (Sultan Wanita). Bukan masalah HAM atau Peran Wanita. Tapi Raja Yogya seorang lelaki itu adalah masalah estetika. Tidak layak kan sesendok garam dimasukan ke dalam segelas kopi. Jodohnya kopi itu ya gula. Tentu bisa saja, ada orang minum kopi dicampur garam. Halal itu, tidak haram, tapi pekok.

Kalau misal suatu hari nanti akan ada seorang Ratu tentu bisa saja. Agar tidak pekok karena minum kopi pakai garam, maka sang Ratu nanti ngambil Kabupaten Bantul misal untuk dijadikan Kerajaan baru sendiri, yang berbeda dari Kasultanan Yogyakarta.

Lho kreatif kan ide saya ini. Bikin Kerajaan pecahan Mataram kelima. Lokasi Bantul.

Advertisements