Ruang

Ketika berada di Planet Bumi, kita mengenal arah mata angin. Utara, selatan, barat, timur. Kita juga mengenal depan dan belakang. Dan kita tahu atas dan bawah. Begitu kita berada di luar atmosfer Bumi atau simpelnya adalah langit tingkat satu, pengetahuan kita mengenai arah mata angin menjadi batal. Begitu juga dengan pengetahuan kita mengenai atas bawah menjadi hilang. Di ruang angkasa tidak ada atas bawah.

Seluruh bintang, planet, tata surya, galaksi, gugusan galaksi berada di langit satu. Kita hidup di langit satu. Sedangkan jumlah langit berdasarkan pengalaman perjalanan Miraj Kanjeng Nabi Muhammad ada tujuh. Kita tidak bisa membayangkan betapa luasnya jagad raya, sementara langit tingkat satu saja, tidak ada teknologi manusia yang mampu menjangkaunya. Kita tidak pernah mengenal tetangga kita yang tinggal di suatu planet yang terletak galaksi sebelah.

Jangankan galaksi sebelah, jumlah planet di Bimasakti saja, jumlahnya miliaran, dan kita tidak tahu jenis manusia lain yang tinggal di planet-planet lain.

Lalu bagaimana kalau kita berada di langit kedua, ketiga, sampai ketujuh? Saya membayangkan bahwa semakin tinggi langit, pengetahuan kita semakin hilang. Mungkin ada suatu keadaan di atas sana di mana tidak ada atas bawah, dan depan belakang.

Tidak ada dekat dan jauh. Tidak ada ruang waktu. Tidak ada depan belakang. Tidak ada panjang pendek. Tidak ada pergi dan kembali. Aneh dan membingungkan bukan? Nalar dan logika kita tidak mampu mencapainya.

Saya tidak sedang berfilsafat. Saya sedang menulis suatu keadaan dan pengetahuan (science) yang belum pernah saya alami, tapi saya imajinasikan dalam redaksi tulisan saya sendiri.

Advertisements