Sakit

Sakit

Ketika terjadi erupsi Merapi 2010 lalu, ada ustadz cangkeman yang ngomong, itu akibat orang Jogja musrik kepada Allah. Mendengar itu, saya merasa jengkel sekali, pengen tak gajul ndase. Maklum waktu itu saya masih muda, secara pengecut saya mudah terpancing.

Padahal, erupsi Merapi adalah perilaku alamiah gunung Merapi. Setiap gunung memiliki kewajiban untuk taat kepada Allah, dengan mengeluarkan isi perut Bumi. Dan orang Yogya sendiri, tidak menganggap kegiatan Merapi sebagai bencana. Bencana adalah sudut pandang manusia jaman now.

Tadi malam saya masih sakit flu, tidak enak badan. Saya tidur ditemani beberapa mimpi yang bisa disebut buruk, yang merupakan efek dari sakit flu. Pagi bangun, saya membaca di Timeline bahwa tadi malam terjadi gempa yang cukup menggoyang dan katanya berlangsung hampir 2 menit.

Ada beberapa komentar yang menggelitik. Gempa tadi malam terjadi akibat LGBT yang beritanya sedang menghangat di seantero negeri. Saya pikir ini agak ngawur juga gara-gara perkara LGBT terjadi gempa.

Saya ini termasuk barisan yang menolak dengan keras LGBT. Karena LGBT itu adalah sesuatu yang melawan kodrat. Tidak empan papan. Sesuatu yang tidak terletak pada tempatnya. Tapi saya yakin, Tuhan tidak akan meng-adzab manusia hanya karena perkara seperti ini.

Cak Nun pernah mengungkapkan bahwa adzab dari Tuhan terjadi bukan karena dosa, kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan manusia. Tuhan tidak marah atas kekafiran manusia. Tapi Tuhan akan sangat marah jika hati para kekasih-Nya yaitu para Nabi dan Wali tersakiti.

Peristiwa yang dialami umat Nabi Luth alaihi sallam, bukan terjadi karena mereka LGBT, tapi karena hati Nabi Luth tersinggung dan merasa sakit hati atas perilaku umatnya. Seketika Tuhan pun marah jika kekasih-Nya sakit hati. Begitu juga dengan peristiwa-peristiwa lain yang dialami para Nabi.

Namun hal ini tidak terjadi pada masa Nabi Muhammad shollallahi wa sallam. Karena hati Nabi Muhammad tidak tersakiti. Pernah suatu ketika setelah Kanjeng Nabi dilempari batu, Malaikat Jibril menawarkan untuk menimpakan gunung di atas penduduk Taif. Tapi Nabi Muhammad menolak. Beliau sangat sabar dan tidak sakit hati. Beliau berharap jika mereka tidak mau beriman, siapa tahu anak cucu mereka yang beriman.

Dan sampai saat ini sejak era Nabi Muhammad, tidak pernah terjadi bencana yang sampai meluluh-lantahkan suatu masyarakat besar. Kecuali kegiatan-kegiatan alam biasa untuk memenuhi kewajaran alam.

Advertisements

The Other Me

Malam ini, makan malam saya sangat mewah dan istimewa. Mie goreng instant merek Indomie. Saya ingin memasak dua bungkus mie instant. Tapi ketika mau mengambil dua, saya bimbang sesaat satu atau dua ya. Nafsu saya ingin dua tapi hati berbisik satu saja. Akhirnya saya putuskan satu saja.
Di tengah-tengah memanaskan mie instant, tiba-tiba kompornya mati. Gas-nya habis. Mau beli gas sudah malam, malas keluar melewati udara malam gunung yang dingin. Untungnya mienya sudah 80 persen matang. Setidaknya itu sudah cukup kenyal dimakan.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya mengikuti keinginan nafsu saya untuk makan dua porsi mie. Bisa-bisa saya harus makan mie yang belum matang. Koyo mangan kerikil.

Membedakan keinginan dan kebutuhan memang bukan hal yang mudah. Bedanya pun tipis sekali. Tapi biasanya keinginan nafsu itu bersifat berlebihan. Nafsu bagaikan api, membakar apa saja yang bisa dibakar.

Seringnya saya gagal mengendalikan nafsu. Tulisan ini pun mungkin adalah bagian dari gerakan nafsu yang terselubung agar dianggap hebat bisa nulis dari kasus sederhana dikaitkan dengan kondisi batin manusia mengenai nafsu.

Di dalam diri Bayu Wiratsongko ternyata terdapat Bayu-Bayu yang lain, yang menempati berbagai keadaan. Kadang mereka diri di dalam diri saling bekerja sama, kadang bertengkar, kadang saling bersengketa, kadang masing-masing Bayu di dalam Bayu ini membentuk koalisi untuk saling menjatuhkan lawan politiknya.

Diri saya memfitnah, menyerang diri saya sendiri. Lalu siapa yang paling mendominasi di dalam diri saya? Bayu yang mana? Yang berada di kelompok nafsu, kelompok hati, atau kelompok akal.

Apakah Musik Memiliki Agama?

Ada seorang teman saya yang beragama Nasrani. Saya tidak tahu jenis Nasraninya, entah Kristen, Katolik, Protestan atau apa. Yang pasti dia sangat bertaqwa, cinta pada Yesus dan sangat sholehah. Wah buka kartu ini, ketahuan ini teman cewek.

Beberapa tahun lalu, dia menghadiri suatu acara bersama Kiaikanjeng. Saya juga tidak tahu tepatnya, di acara Mocopat Syafaat atau di tempat umum. Tidak kebetulan dan memang disengaja, Kiaikanjeng membawakan sebuah lagu Natal. Teman saya ini merasa bahagia sekali ada sebuah grupmusik bernafaskan Islam membawakan lagu Natal.

Wah keren katanya dia merasa dirangkul dan dihangatkan hatinya dengan keyakinannya. Dan teman saya ini sangat bangga ketika menceritakan momen bahagianya itu. Dan kalau ditanya apa yang dia tangkap selama acara berlangsung selama 8 jam semalam itu, dia tidak ingat, yang dia ingat hanya nuansa itu. Pas ada lagu Natalnya.

Dan sampai saat ini, teman saya tetap Nasrani dan tetap bertaqwa, tidak berubah keyakinannya.

Dalam bahasa akademis momen yang dialami teman saya ini disebut “Lali rupane, eling rasane”.

***

Banyak hal yang kita alami, tapi kita tidak harus ingat detail kejadiannya. Kita mendengarkan suatu hal, tidak penting kata-katanya, tidak penting keindahan kalimat-kalimat, namun yang terpenting kita pernah mendengar dan apa yang kita dengar merasuk ke dalam hati. Menyatu ke dalam tubuh kita. Mengisi sel-sel tubuh kita. Hingga pada saatnya apa yang kita lupakan dan serap itu akan muncul sebagai sesuatu yang baru, autentik yang hadir dari diri kita masing-masing.

***

Mohon diijinkan, saya tidak akan menuliskan hal-hal teknis terkait tulisan ini. Bagi umat Islam garis Kagetan. Tulisan ini pastinya mengundang kontroversi. Musik itu sudah haram menurut mereka, ini malah bawa lagu Natal. 

Setahu saya sih tidak haram. Halal, haram, itu tidak terletak pada bendanya tapi penempatannya. Puasa itu wajib ada juga yang sunnah, tapi haram kalau dilaksanakan pada hari tasrik.

Memperdengarkan musik di depan orang yang sakit gigi, jelas ini sangat haram. Iso dipacul ndasmu.

Dan satu hal lagi, lagu itu tidak memiliki agama. Tidak ada sebenarnya lagu Islam, Kristen, Hindu, Buddha. Lagu adalah produk budaya. Lagu Indonesia Raya, Natal, lagunya Dewa, Guns ‘n Roses, L’Arc~en~Ciel itu sama genrenya. Sama-sama lagu Barat.

Sebuah Prolog 

Liburan selama lebih dari satu minggu ini membuat pikiran saya melayang-layang ke dalam ruang-ruang yang saya sendiri tidak memahaminya. Saya mohon dimaafkan jika tulisan-tulisan saya menganggu timeline teman-teman. Mohon dimaklumi kelebayan saya yang hadir di beranda Facebook.

Space illustration (found on Google Image)

Apalagi banyak hal-hal yang menyerbu ruang pikiran dan menggempur hati. Ketika akhir Ramadhan, ketika hari raya tiba, segala momen yang datang sesudahnya.

Seharusnya saya update status mengenai kemeriahan hari raya di kampung saya. Tapi saya malah menulis sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan perayaan Idul Fitri waktu hari raya kemarin. Atau seharusnya saya upload foto-foto liburan dan mudik saya dari rumah saya di Siti Gadhing Mataram ke Siti Panekar.

Apalagi itu Siti, siti seperti nama orang saja? Ah itu cuma nama-nama lawas dan kuno untuk wilayah Yogyakarta era Kasultanan masih berkuasa penuh dan berkuasa parsial bareng Hindia Belanda dulu. Semoga kesibukan di hari kerja dua hari lagi akan meredam kenakalan dan keliaran pikiran, yang kadang datang dengan sendirinya atau terinspirasi oleh orang lain.

Setidaknya kesibukan akan mengurangi aktifitas pikiran yang tidak harus dilempar dalam bentuk tulisan. Setidaknya lagi dapat ditunda sampai pada waktu yang luang.

Apa yang akan keluar lagi ini?

Ada sesuatu yang hendak saya tuliskan lagi. Tapi saya tahan-tahan, malah yang keluar adalah prolog macam ini. Sebenarnya saya hanya ingin menulis sebuah prolog di paragraf pertama di atas untuk sebuah tema yang tidak menarik dibahas karena dilihat dari segi kemanfaatannya sangat kecil, hanya saja tema itu terasa keren untuk ditulis.

Lho tapi malah luber-luber sampai detail-detail yang tidak perlu seperti ini.

Lalu apa yang akan saya tulis? Saya sengaja memindahkan tulisan ini dari timeline di Facebook ke blog saya ini, karena para pembaca di Facebook itu suka rewel dengan sebuah tulisan yang panjang. Padahal apa yang saya tulis sebagai status di Facebook tidak pernah lebih dari tiga ratus kata. Tiga ratus kata itu hanya sepanjang satu lembat kertas A4.

Ini mau dibedah lagi. Kenapa kita suka mencela tulisan panjang? Apa karena budaya baca kita rendah? Begitu menurut sebuah survey. Tapi bukankah membaca itu tidak harus buku dan tulisan? Membaca bisa sekali mencakup banyak hal. Membaca alam, membaca keadaan, membaca hati, membaca situasi dan segala macam bacaan lain yang amat banyak kemungkinannya.

Luber lagi tulisan saya. Ini belum sampai topik yang hendak saya tuliskan lho. Tapi sudah sangat awut-awutan seperti ini? Apa karena saya tidak bisa fokus pada satu hal? Sehingga sebuah tulisan bisa melebar ke mana-mana tanpa arah. Tanpa kendali. Tanpa rem. Yang saya lakulan malah nge-gas terus.

Sebentar ada kata “Tanpa Arah” di paragraf di atas ini. Ini mendekati tema yang hendak saya niatkan dari awal tadi yang tidak masuk ke topik dari tadi.

Arah mata angin hanya berlaku di Bumi dan planet-planet. Ketika kita naik ke ruang angkasa, pengetahuan kita tentang arah menjadi batal. Di ruang angkasa tidak ada arah utara, selatan, timur di barat.

Ketika masih di Bumi, kanan kiri, depan belakang adalah subjektivitas masing-masing orang. Sementara arah mata angin adalah objektivitas. Menjalani kehidupan kita dituntut untuk lebih objektif daripada subjektif, walaupun ada hal-hal tertentu yang kita harus tetap subjektif.

Namun ketika kita berada di ruang angkasa, objektivitas kita mengenai mata angin menjadi hilang. Di ruang itu hanya ada kanan kiri. Atas bawah pun menjadi batal dan sirna. Apa maksud dari perubahan ruang ini? Apakah ada pelajaran dan rahasia yang harus kita temukan? Apakah semakin tinggi langit yang kita raih semua menjadi sirna? Jangan-jangan kanan kiri pun akan hilang? Dan pada akhirnya diri kita sendiri akan hilang juga?

Saya tidak mampu menjawabnya.

Nah, tidak penting kan tema yang saya tulis.

Nature_2

Saat usia saya sekitar 5 tahun, saya ingat saya pernah bertanya-tanya sendiri. Kehidupan sekarang ini adalah yang pertama atau pernah ada alam semesta di rentang waktu yang berbeda lalu kiamat, kita menerima rapor hasil penilaian. Kemudian semua penciptaan dan kehancuran diulang lagi.

Selama bertahun-tahun tidak pernah ada jawaban, sampai saya lupa dengan pertanyaan saya sendiri.
Hingga akhir-akhir ini tiba-tiba ada jawaban atas pertanyaan tersebut. Jawabannya tidak mutlak benar, karena si pemberi jawaban mewanti-wanti bahwa apa yang ia sampaikan belum tentu benar. Kebenaran sejati hanya milik Tuhan, kata dia, manusia dinamis memiliki potensi benar dan salah.

Merenungkannya.

Titik awal sekaligus titik akhir. Pukul 00.00 adalah awal hari tapi juga sekaligus akhir hari karena pukul 24.00 adalah 00.00. Sehingga sebenarnya mungkin hakikatnya tak ada awal dan tak ada akhir. Waktu hanya berputar saja.
Mungkin kita pernah hidup di rentan waktu yang bukan masa lalu, masa depan atau masa sekarang. Mungkin kita pernah hidup di Bumi yang sama tapi bukan ini.

Tuhan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Mungkin sekarang sebenarnya kita masih berada di rentang waktu enam hari itu. Mungkin sekarang adalah hari ke empat, atau kelima. Kita berharapnya sih masih hari kedua. Ben iseh suwé le kiamat. Haha…

Setelah enam hari ini berakhir suatu hari nanti. Di hari ke tujuh, kita akan memperoleh rapot, entah Surga atau Neraka atau cukup di emperan Surga saja.

Begitu hari ke enam selesai plus 1 hari ketujuh, mungkin (lagi) akan ada enam hari berikutnya. Semua diulang dari hari pertama sampai hari ke enam. Terus hidup lagi ketemu Indonesia lagi… Ribut Pilpres lagi, bertengkar milih Cagub lagi. Hah… Ketemu Cah gentho-gentho maneh. Weruh rupamu meneh…

Zamasu & Iblis

Zamasu adalah Dewa Kai dari Alam Semesta ke-10. Tugas Kai adalah menjaga kesetabilan alam semesta dan mengayomi makhluk-makhluk di alam semesta. Namun di sisi lain Zamasu merasa dirinya lebih mulia dari manusia. Dia beranggapan manusia hanya berbuat kerusakan saja dan tidak bisa diandalkan. Berawal dari situ Zamasu bertekad untuk memusnahkan manusia. Namun hal itu diperingatkan oleh gurunya agar tidak dilakukan karena memusnahkan adalah tugas Beerus Dewa Penghancur.

Di timeline waktu yang berbeda, Zamasu mengambil tubuh Son Goku dan menggunakan tubuh Son Goku untuk menghancurkan Bumi dan memusnahkan manusia. Di serial Dragon Ball Super dikenal dengan nama Black Goku.

Episode Dragon Ball Super Future Trunks Saga ternyata mirip dengan kisah Iblis. Seperti yang sudah diketahui, sebelumnya Iblis adalah Malaikat yang ditugaskan oleh Tuhan untuk memimpin para Malaikat, termasuk Gabriel dan Michael yang berada di bawah komando Iblis.

Iblis bahkan mendapat gelar Kanzul Jannah. Pada suatu masa sebelum Adam diciptakan Iblis pernah ditugaskan oleh Tuhan untuk membasmi makhluk-makhluk di Bumi yang berbuat kerusakan.

Dari kesadaran pengalaman mememarangi makhluk perusak Bumi, ketika Tuhan menciptakan manusia hibrida baru bernama Adam, Iblis protes kepadaNya. Kenapa lagi harus menciptakan manusia lagi yang jelas-jelas tidak berguna keberadaannya. Karena protes Iblis kepada Tuhan, maka Iblis diusir dari alam malakut dan dibuang ke Bumi dan terdampar di pulau Jawa.

Zamasu dan Iblis memiliki latar belakang yang sama dan tujuan masa depan yang sama tentang manusia. Mereka sama-sama makhluk yang memiliki kedudukan tinggi dan mulia. Namun karena merasa diri mereka lebih mulia dari manusia. Mereka menjadi terbuang dan harus menempati kedudukan sebagai katalisator.

Terdampar

Teknik Bangunan di STM dulu ketika saya sekolah (2003 – 2007) adalah jurusan yang sangat diremehkan banyak orang. Seolah Teknik Bangunan itu sangat hina sekali dan hanya pekerjaan rendahan. Ketika ketemu teman, tetangga atau saudara ditanya sekolah di mana? STM Jurusan Bangunan. Tanggapan mereka biasanya merendahkan, “Mau jadi kuli, mandor, tukang?”

Di sekolah sendiri pun demikian seolah Teknik Bangunan grade-nya paling rendah di antara jurusan-jurusan lain. Siswa-siswa Bangunan dianggap tidak berkomenpeten, sebagian memang buangan dari jurusan lain yang tidak diterima.
Saya waktu itu mantap sekali tanpa ragu banyak memilih Teknik Bangunan. Salah seorang kawan yang tidak diterima di STM Pembangunan Yogyakarta, STM paling tajir se-Yogya tapi kata orang sekarang mahal banget, berkata dengan nada rendah, “Koe ditompo yo? Tapi ger bangunan we.” (Kamu diterima ya, tapi cuma Bangunan ya?)

Mendengar kata-kata itu, saya sebenarnya menjadi agak berkecil hati juga sih. Saya sempat menyesal. Tapi penyesalan tidak berlangsung lama. Saya segera menikmati menjadi seorang siswa Teknik Bangunan. Walaupun yaa huasemmm tenan Teknik Bangunan itu susahnya setengah mati. Delapan puluh persen mata pelajarannya adalah hitung-menghitung. Saya ini blas tidak bisa Matematika dan ilmu hitung.

Kok bisa Jurusan sesusah ini, diremehkan dan direndahkan oleh banyak orang. Hingga saya harus menutup bagian pertama status ini dengan kalimat, “Kalian ini bisa apa tanpa Teknik Bangunan?! Bengkel Mobil, hotel, pabrik, kantor, gedung pencakar langit itu semua karya anak Teknik Bangunan! Selama Planet Bumi masih ada, Teknik Bangunan akan selalu dibutuhkan!”

Memasuki jenjang Perguruan Tinggi, Teknik Bangunan dibagi menjadi Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil. Sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa Biologi, Arsitektur adalah penampilan dan keindahan. Sedangkan Sipil adalah struktur tubuh manusia, termasuk tulang dan dalaman yang lain.

Berbeda dari masa STM, Teknik Arsitektur dan Teknik Sipil adalah jurusan yang disukai banyak orang, dipuja, dijunjung dengan penuh penghormatan. Berbeda dengan Teknik Bangunan yang disesat-sesatkan bahkan dikafirkan.
Bagaimana dua hal yang sama dengan penyebutan nama yang beda, perlakuan orang bisa berbeda? Di Teknik Bangunan, baik ilmu Arsitektur dan Sipil sama-sama dipelajari. Walaupun memang lebih condong ke Sipil. Sedangkan di tingkat Perguruan Tinggi, wawasannya lebih diperluas pada banyak hal. Sehingga seorang Arsitek itu dituntut untuk mengetahui banyak hal tentang banyak hal. Minimal sedikit hal tentang banyak hal.

Memang tuntutan itu terdengar teoritis, tapi sebenarnya ujungnya Nekat saja. Berani melakukan semuanya dengan modal dengkul. Pinjam dengkulnya Amien Rais juga tidak apa-apa.

***

Zaman sudah berubah, Teknik Bangunan di STM tidak lagi menjadi jurusan yang direndahkan. Indikasinya apa? Banyak siswa cewek yang mendaftar di jurusan Bangunan, Itu saja.
Mbiyen garing tenan, plantangan kabeh. Tapi pekok bersama dalam kebersamaan yang indah.