Ulangan (1)

Seperti biasa setiap selasa pagi, saya membeli koran Kedaultan Rakyat, dan hanya saya baca rubrik Wedang Uwuh-nya saja. Selebihnya sisa kertas saya sedekahkan, tepatnya saya letakan begitu saja, entah siapa yang akan memungutnya.

Pekan lalu, saya tidak mengikuti rubrik Wedang Uwuh, tiba-tiba pekan ini sampai pada sebuah kisah bahwa beberapa puluh tahun yang lalu di Yogya, sebelah barat perempatan jalan Wirobrajan, sisi selatan jalan, ada sebuah angkringan yang dikelola oleh mbah Wongso namanya.

Mbah Wongso adalah seorang yang (saya menyimpulkan dari tulisan ini) seorang yang Tuhan katakan “Kun, fayakun”. Begitu Tuhan menciptakan mbah Wongso “Jadilah” maka berlangsunglah mbah Wongso sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan bagai air yang mengalir.

Ketika membaca kisah mbah Wongso ini, saya menangkap, seolah mbah Wongso adalah seseorang yang tidak mengalami momen sabar atau bersyukur. Malah mungkin mbah Wongso sama sekali tidak tahu konsep sabar dan syukur. Dia hanya tahu tentang menjalani kehidupan dengan ikhlas saja. Bahkan mungkin mbah Wongso tidak peduli dengan kata ikhlas juga.

Orientasi dagangannya bukan bisnis. Untung rugi tetap diperhatikan tapi bukan fokus utama. Fokus utamanya melayani orang-orang yang ingin mengganjal perut mereka dan menjalani darma yang Tuhan tugaskan kepadanya. Kalau pembeli makan tempe lima, dan bilangnya makan dua, mbah Wongso tidak akan mempermasalahkannya.

“Mbah wongso bukan kapitalis, Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.” Demikian sedikit saya kutip satu kalimat dari tulisan di rubrik Wedang Uwuh hari ini selasa 4 April 2017.

Markesot (Bagian 1)

Pak Nevi Budianto

Gerombolan Gentho itu sering datang ke berbagai tempat di Nusantara, merusak jadwal biologis jam tidur manusia pada umumnya. Selain merusak jam biologis, Genk Gentho itu juga sering merusak pemikiran-pemikiran manusia dan memporakporandakan apa yang selama ini telah disepakati oleh umumnya manusia. Orang-orang dari berbagai lapisan khususnya masyarakat bawah yang sering terinjak-injak oleh orang-orang besar yang berkuasa secara politik dan ekonomi, datang menghampiri Genk Gentho yang suka menabuh dan membuat kebisingan musik semalaman. Tidak diketahui mengapa rakyat jelata mendatangi Gentho-Gentho yang berasal dari sebuah Kerajaan yang masih eksis tapi sekarat di Bumi Nusantara.

Apa yang rakyat jelata cari? Hiburan? Curian sandal? Solusi pemecahan masalah? Lelucon? Pendidikan? Atau pengajian? Apa pengajian? Tentu saja bukan, Gentho-Gentho itu memainkan musik! Bukan melantunkan ayat-ayat Tuhan secara tekstual. Entahlah, tetapi yang pasti setiap orang membawa niatnya masing-masing.

Gerombolan Gentho itu dipimpin oleh kepala Genk yang merupakan ndas-ndasane dan sumber kekacauan yang sengaja mereka buat.

***

Emha Ainun Nadjib atau biasa yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Nun adalah seorang budayawan yang dianggap memiliki kemampuan multidimensi dan memperoleh berbagai gelar akademis. Di antara gelar-gelar akademis itu adalah Emha Kafir, Emha Sesat, Emha Syiah, Emha Antek Yahudi, Emha Alat Negara, Emha Jawa Sentris dan berbagai gelar akademis lainnya yang mungkin orang lain tidak akan mampu memanggul gelar-gelar luar biasa tersebut. Semakin banyak gelar yang ia peroleh, ia semakin berterimakasih kepada mereka yang memberi gelar-gelar itu.

Saya belum mengenal Emha secara langsung. Di beberapa kesempatan saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengannya. Saya juga bukan bagian dari Maiyah dan tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari suatu komunitas tanpa struktur tersebut yang dirintis oleh Emha dan saya tidak akan pernah mau memasuki lingkaran Maiyah. Jangankan Maiyah, dalam berbagai pengajian atau kajian yang lain saya tidak pernah memasukinya, entah itu sholawatan, acara motivasi, pengajian politik, pengajian teroris dan segala macam tetek bengek lainnya. Saya hanya berada di luar arena. Saya menyebut diri saya sendiri Pemain Luar Pagar. Artinya saya tidak memiliki kredibilitas menulis ini. Jika pun ini saya tulis, ini cuma untuk kegiatan mengasah kemampuan menulis, apakah saya bisa menulis dengan bagus atau tidak.

Banyak orang yang kagum kepada Emha, dan banyak pula yang membencinya. Saya meletakan diri saya tidak pada kedua kubu itu. Saya hanya melihat peran apa yang diperankan oleh Emha di dunia ini dan apa yang ditugaskan kepadanya, mengambil apa yang baik darinya, dan membuang apa yang –mungkin– buruk darinya.

Saya memiliki seorang teman (iya teman), dalam pandangan kawan saya, Emha adalah seorang pemuda yang suka nongkrong di tempat pelacuran dan suka main di surga dunia itu. Dan sampai saat ini pandangan itu terus tertanam di benak kawan saya itu. Sehingga kawan saya itu tidak memandang Emha kecuali dengan agak sinis, tanpa mengetahui kebenarannya, apa yang sebenarnya dilakukan Emha di tempat pelacuran. Saya juga tidak tahu kebenarannya bagaimana, dan rasanya tidak perlu tahu pun tidak perlu, apalagi harus tahu, semakin tidak perlu tahu untuk tahu dan tidak tahu.

Saya teringat kisah-kisah sufi, di mana para sufi sering datang ke tempat pelacuran. Bukan untuk main dengan para pelacur, tapi para sufi melakukan kegiatan penyuluhan, memberi bimbingan kepada pelacur, agar bila mereka pensiun dari pekerjaan itu, mereka siap terjun di masyarakat dan memulai hidup baru tanpa ada guncangan terlalu berarti.

Apa pemuda? Itu berarti puluhan tahun yang lalu, sekarang Emha bukan lagi seorang pemuda, ia sudah berubah menjadi seorang kakek.

Emha memang dikenal agak kontroversial walaupun tidak sekontroversial Gus Dur. Banyak peranyataan-pernyataannya yang membuat orang-orang tercengang. Yang membuat saya heran adalah kenapa orang-orang bisa tercengang, padahal apa yang dikatakan Emha sebenarnya bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah lama terpendam dan dilupakan orang, sehingga ketika Emha mengeluarkannya orang-orang kaget dengan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak kontroversial.

Sebagai contoh, Emha pernah mengatakan dalam suatu forum, bahwa mungkin saja sebenarnya Allah itu bukan bernama Allah. Tapi Sang Pencipta Langit dan Bumi menyebut DiriNya dengan sebutan Allah adalah untuk mempermudah manusia berkomunikasi denganNya. Ini hanya urusan administrasi saja. Maka alangkah baiknya jika umat yang menyembah Pencipta Langit dan Bumi dengan sebutan Allah, tidak marah dan tidak mengklaim bahwa Allah hanya milik mereka ketika di saat yang sama Sang Pencipta Langit dan Bumi memiliki nama-nama lain. Misal orang Jawa menemukan Allah dengan nama Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widi, Sang Hyang Wenang. Di sisi lain, bukankah Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan milyaran planet, bintang, galaksi. Bukankah di planet lain nan jauh di sana, yang memiliki makhluk lain yang tidak pernah kita ketahui wujudnya, bisa jadi Tuhan memperkenalkan diriNya kepada mereka dengan sebutan nama lain yang bukan Allah.

Halah… Contoh case yang saya tulis terlalu melantur dan kepanjangan sehingga saya merasa tulisan ini akan kehilangan esensi objektivitasnya. Maka tidak perlu saya memberi contoh yang lain.

Ini bagian pertama dari tiga seri tulisan berjudul Markesot yang hendak saya tulis. Lalu kenapa judulnya Markesot bukan Emha Ainun Nadjib? Bukankah Markesot adalah sahabat Emha, dan di tulisan ini, saya tidak akan menulis tentang Markesot. Dan bukankah Markesot adalah salah satu judul dari buku “Markesot Bertutur” yang beberapa tahun lalu ditulis oleh Emha?

Dan itu fotonya siapa?

To be continued…

Malioboro Bukan Sekedar Tempat Belanja dan Nongkrong

02 Malioboro

Yogyakarta adalah kota pelajar, setiap tahunnya ribuan pelajar datang ke kota ini. Di saat yang sama ribuan pelajar juga meninggalkannya dan sebagian lagi terpaksa harus jatuh hati pada tempat ini. Secara administrasi sebutan kota pelajar adalah sebutan yang agak aneh karena sebagian kampus-kampus ternama tidak terletak di dalam kota Yogya sendiri tapi di wilayah administrasi kabupaten-kabupaten yang mengelilingi kota Yogya.

Banyak tempat menarik di Yogya untuk dikunjungi dan dijadikan tempat nongkrong, terlepas dari issu bahwa kota Yogyakarta tidak memiliki ruang terbuka hijau yang cukup memadai bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, tapi toh orang tetap menikmatinya dan menganggapnya sebagai kota yang nyaman.

Bagi pendatang baru mungkin yang mereka ketahui tentang Yogya adalah Malioboro, Kraton, Pantai atau pun tempat-tempat seru lainnya yang sering dipublikasikan di berbagai media. Bagi mereka yang sudah lama menginap di Yogya, pastinya sudah tahu banyak tempat menarik lainnya. Tapi pernahkah kita sadari bahwa berbagai tempat di Yogya itu memiliki filosofi-filosofi yang unik untuk dipelajari? Pernahkah kitatahu pelajaran apa yang diam-diam diajarkan oleh para pendiri daerah yang masih menganut sistem kerajaan ini?

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Yogyakarta untuk kita jadikan referensi untuk memotivasi diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Salah satunya adalah tempat yang paling populer yang terletak di jantung kota Yogya, yaitu Malioboro.

Tahukah kita arti nama Malioboro? Atau lebih tepatnya nama jalan yang berada di sumbu filosofi dari Tugu sampai Kraton. Mengutip dari Markesot yang pernah hidup menggelandang di Malioboro selama lima tahun, bahwa nama-nama jalan di sumbu filosofi itu memiliki makna-makna dalam tentang perjalanan hidup seorang manusia.

  1. Margoutomo

Dahulu dari Tugu sampai rel kereta api di sebelah timur stasiun Tugu bernama jalan Margoutomo yang berarti bahwa seorang manusia harus memiliki keutamaan dan pegangan dalam hidupnya, entah itu ilmu, keyakinan agama, pandangan hidup atau pun hal lainnya karena Margoutomo bisa ditafsirkan kepada banyak hal.

  1. Malioboro

Dari rel sampai di perempatan jalan sebelum kampung Ketandan adalah jalan Malioboro, jadilah orang pengembara, melakukan perjalanan untuk menemukan kesejatian dalam hidup. Bukan hanya memiliki ilmu saja yang didapatkan di Margoutomo, tapi seorang manusia harus berani mengeksplorasi diri untuk menemukan potensi diri yang tersimpan dan tersembunyi; kreatifitas, intelektual, dan lain sebagainya.

  1. Margomulyo

Dari perempatan jalan di utara kampung Ketandan sampai perempatan nol kilometer adalah jalan Margomulyo, yang berarti jalan kemuliaan. Setelah melewati tahap-tahap di Margoutomo dan Malioboro seseorang baru akan memperoleh kelebihan dan keistimewaan dari dalam dirinya.

  1. Pangurakan

Dan terakhir dari nol kilometer hingga Alun-Alun Kraton adalah jalan Pangurakan. Seseorang sudah menjadi urakan. Dalam bahasa Jawa “urakan” selama ini memiliki arti –kurang lebih—brutal, terlihat garang, semaunya sendiri. Tapi yang dimaksud urakan di dalam sumbu filosofi yang menghubungkan Tugu dan Kraton adalah seseorang yang mendobrak untuk membuat suatu perubahan ke arah positif.

Pada masa pemerintah Presiden Soeharto nama-nama jalan itu pernah diganti menjadi Jalan Pangeran Mangkubumi (Margoutomo), Jalan Jenderal Ahmad Yani (Margomulyo), dan Jalan Trikora (Pangurakan). Setelah Keistimewaan disahkan pada tahun 2012, nama jalan-jalan tersebut direstorasi menjadi nama aslinya.

Sebagai catatan tambahan agar tidak rancu mengenai Sumbu Filosofi dan Garis Imajiner di Yogyakarta, bahwa yang disebut Sumbu Filosofi adalah garis yang terhubung dari Tugu sampai Kraton, Garis Imajiner adalah garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi ke Tugu hingga Kraton, Panggung Krapyak dan berakhir di Laut Selatan.

***

Pernah dimuat di http://keluarmain.com/malioboro-bukan-sekedar-tempat-belanja-dan-nongkrong-ada-4-hal-yang-bisa-kita-jadikan-pelajaran-hidup/

Tiang Peradaban

00012123
http://www.wowkeren.com/images/news/00012123.jpg

“Menikah adalah tiang peradaban.”

“Kata Soe Hok Gie, pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”

“Itu pernikahan dalam arti sempit. Pernikahan bukan hanya soal kebutuhan seksual saja.”

“Lalu apa pernikahan dalam arti luas.”

“Sebenarnya aku tidak terlalu paham juga sieh… Haha. Tapi akan kucoba untuk keluarkan apa terbesit di pikiranku yang merupakan buah dari hati, yang akhir-akhir ini agak mengangguku.

Pernikahan dalam arti luas adalah seperti petani yang bertani di sawahnya, maka didapatkan lah hasil bumi. Di sini petani berperan sebagai suami dan sawah sebagai istri, dan hasil bumi adalah peradaban itu sendiri.”

“Hmmm… Aku bukan petani, bisa kasih contoh yang lain.”

“Dasar rewel… Haha… Tapi baiklah. Pernikahan arti luas dalam bentuk lain adalah seperti pemerintah yang menikah dengan rakyat, maka lahirlah negara. Pemerintah adalah suami dan rakyat adalah istri, dan negara adalah anak.

Dalam sudut pandang lain, pernikahan adalah untuk menjaga keseimbangan alam. Seperti Yin dan Yang, aku tidak terlalu paham juga sih tapi setidaknya keduanya adalah keseimbangan. Tidak mungkin keseimbangan terwujud hanya dengan –misal– Yin dan Yin. Harus ada keduanya, panas – dingin, lelaki – perempuan, siang – malam, atas – bawah, kanan – kiri, dan lain-lain sebagainya. Semua di alam semesta ini menikah dari dua hal yang memiliki karakter berbeda dan berlawanan, karena perbedaan itu lah mereka saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan masing-masing.

Dari sudut pandang ini lah, mengenai pernikahan manusia, aku tidak setuju dengan pernikahan sesama jenis kelamin. Karena menurut ku itu meruntuhkan keseimbangan alam. Entah keseimbangan apa. Terlepas dari problematika mereka kenapa bisa tertarik dengan sejenis. Aku tidak mencela mereka dan tidak mendukung mereka, karena ini merupakan issue yang sensitif sekali.”

“Haha… Penjelasanmu terlalu ngelantur. Bisa kita persempit saja soal pernikahan laki-laki dan perempuan saja? Dan ehhh… Sejak kapan kamu punya pemikiran kayak gini? Bukan sejak 2 minggu yang lalu kan?”

“Haha… Asyuuu koe. Yah sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini, dan yah memang sih akibat 2 minggu yang lalu itu aku jadi lebih memikirkan lebih mendalam lagi. Tapi enggak ada unsur baper-nya. Kalau pun ada juga gak apa-apa kan? Manusia jeeee… Bukan robot.”

***

Original post saya ambil dari Tumblr saya: http://pemainluarpagar.tumblr.com/post/139053092828/19

Merokok

IMG_20160512_192448
https://www.instagram.com/p/BFTp5DTHwMc/?taken-by=mattmegavoice

Sebelum saya memutuskan untuk merokok, saya memastikan diri saya tidak terpengaruh oleh siapa pun. Pertama kali merokok sekitar dua tahun yang lalu ketika, saya datang ke proyek konstruksi bangunan di suatu daerah di pulau seberang, di mana seorang mandor membelikan saya dua bungus rokok kretek hamper setiap satu atau dua minggu sekali. Waktu itu saya tidak merokok setiap hari, hanya sesekali saja, sisanya saya berikan kepada teman-teman saya.

Seiring dengan waktu yang berjalan, masa kerja di sana selesai, dan saya kembali ke tanah Kerajaan Ngayogyakarta. Saya masih belum merokok dengan pasti, mungkin hanya sesekali saja ketika ada kawan yang menawari. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah sebelumnya selama hidup bertahun-tahun walau saya tidak pernah merokok, saya tidak pernah menolak rokok sama sekali. Saya tidak menolak dan tidak menerimanya.

Kemudian saya pelan-pelan mempelajari sejarah rokok di Indonesia. Saya menemukan perbedaan mendasar antara rokok Indonesia dengan rokok import. Rokok Indonesia yang dimaksud tentu adalah rokok kretek Nusantara. Berdasarkan data yang saya baca, kretek pertama kali ditemukan digunakan sebagai obat oleh seorang Haji yang merasa kesakitan dengan tubuhnya kemudian menemukan metode penyembuhan dengan membakar tembakau yang kemudian dihisapnya, sehingga ia sembuh setelah menghisap tembakau itu yang dilinting.

Saya teringat ucapan Markesot, bahwa rokok itu tidak perlu dilarang-larang apalagi dianjurkan. Silahkan setiap orang mempertimbangkan tubuh mereka sendiri, apakah tubuh mereka kuat atau tidak ketika merokok. Jika kuat merokoklah, silahkan. Jika tidak kuat merokok maka tinggalkan saja rokok, tanpa perlu harus mencela para perokok.

Mempertimbangkan hal-hal di atas, akhirnya saya memutuskan untuk merokok saja. Dan saya merokok kretek bukan rokok import putih.

Secara resmi saya baru saja merokok kretek sejak tanggal 17 April 2016. Sejak hari itu saya merokok setiap hari, tapi tetap mengingat batas, bahwa saya tidak mampu menikmati rokok lebih dari tiga batang sehari.

Hingga sampai saat ini saya tidak pernah merasa kecanduan rokok kretek, apalagi di bulan puasa ini, di waktu puasa saya tidak merokok dan tidak merasa menderita sama sekali, seperti yang diberitakan bahwa rokok (kretek) bikin kecanduan. Ini kretek lho, kalau rokok putih saya tidak tahu wong saya tidak suka, walau kadang mau kalau ada teman yang menawari.

Yogyakarta

IMG_20151210_212242

Membaca sejarah Yogyakarta, masa-masa terberat Yogyakarta adalah saat pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II sampai Sultan Hamengku Buwono V. Segala macam pergolakan, pertentangan, perlawanan, kekalahan, kepasrahan, tunduk menjadi satu, sehingga semua itu – seharusnya– menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sekarang lebih dewasa di dalam perpolitikan negara kesatuan Republik Indonesia.

Walaupun terlihat monarki, tapi sesungguhnya Yogyakarta jauh lebih demokratis dari Indonesia. Karena rakyat sendiri yang menentukan kepala daerahnya tanpa pemilu, di mana pemilu hanya ditunggangi kepentingan partai politik, di mana orang-orangnya adalah pilihan parpol.

Seandainya penduduk Yogyakarta berkendak Sultan sekarang yang bertahta untuk turun dari jabatan kepala daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya yakin Sultan dengan legowo tidak akan turun, karena secara semena-semena dia mengeluarkan sabda raja yang bertentangan dengan paugeran Kasultanan!

Tiga paragraf di atas adalah tulisan di status Facebook saya sekitar dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu saya menulis: “Sultan dengan legowo akan turun…” Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Orang yang dianggap Raja itu ternyata haus akan kekuasaan. Tidak seperti yang diperkirakan kebanyakan orang saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, diberitakan bahwa seorang pakar hukum menggugat Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut si penggugat Yogyakarta sangatlah tidak demokratis karena yang bisa menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur hanya Raja saja.

Warga Yogya sangat marah akan hal itu. Memang unik, orang Yogya sangat menikmati demokrasi yang bercampur dengan monarki. Penetapan harga mati. Bukan masalah siapa yang memimpin, tapi bentuknya. Saya sendiri toh tidak sejalan dengan Sultan yang sekarang. Artinya orang Yogya itu marah kalau keistimewaan daerahnya diganggu gugat oleh orang lain, apalagi orang itu bukan orang Yogya. Tapi di sisi lain sebenarnya banyak di antara orang Yogya yang tidak peduli dan tidak mengakui Sultan yang sekarang sebagai Raja.

Silahkan datang menge-cek ke alun-alun, ke orang-orang kecil. Akan ditemukan fakta-fakta unik bahwa sang Raja tidak diakui oleh rakyatnya.

Saya sebenarnya sudah tidak mengakui Sultan yang sekarang sebagai Raja. Dia yang sekarang jadi Gubernur DIY hanya hansip saja yang menjaga pintu Kraton, sedangkan Raja yang sesungguhnya belum muncul. Ya entahlah munculnya dari mana. Karena sejauh yang saya ketahui almarhum Sultan Hamengku Buwono IX yang wafat pada tahun 1988 tidak pernah meninggalkan wasiat siapa penggantinya dan  beliau sudah menyerahkan tahtanya untuk rakyat. Silahkan rakyat yang memilih pemimpin yang sesungguhnya.

Yogya, yang katanya adalah ruh dari Indonesia, kini berada di ujung tanduk kehancuran. Banyak sesepuh yang sudah melihat ini. Hal ditandai dengan adanya Sultan yang tidak memiliki seorang putra untuk menjadi penggantinya. Sedangkan apabila seorang Sultan tidak memiliki anak lelaki, maka tahta seharusnya akan turun ke adiknya. Kasus ini pernah terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V yang digantikan oleh adiknya Gusti Raden Mas Mustojo yang kemudian burgelar menjadi Sultan Hamengku Buwono VI.

Jika pola sejarah memang harus terulang, maka tidak lama lagi akan terjadi pertentangan dan pemberontakan dari dalam Yogyakarta sendiri.

Saya tidak akan memperpanjang tulisan ini, karena saya bukan ahli sejarah, bukan ahli politik, atau bukan apapun. Tulisan ini hanya sekedar ungkapan keprihatinan atas apa yang terjadi di tanah Mataram saat ini.

Satu hal yang perlu menjadi catatan tambahan, saya sebagai penulis blog ini, hanyalah rakyat jelata biasa yang tidak jelas nasabnya, tidak memiliki ikatan darah dengan pihak Kraton, tidak ada warna biru di dalam tubuh saya. Sehingga tidak ada sentimen kepentingan apapun dalam tulisan ini.

Suatu hari kerajaan baru suatu hari akan muncul untuk meneruskan kerajaan yang lama dengan sistem yang baru.

***

Segala macam informasi yang saya terima sangatlah acak sekali. Apa yang ditulis belum benar dan sesuai fakta sekarang dan fakta sejarah.

Sejarah Iblis (1)

“Sejarah Tuhan” karya Karen Armstrong sudah terlalu mainstream. Saya heran Tuhan kok bisa disejarahkan? Tuhan itu yang bikin sejarah je, malah Dia disejarahkan. Agama adalah bagian dari Tuhan tapi Tuhan bukan bagian dari agama. Waktu adalah di dalam kekuasaan Tuhan tapi Tuhan tidak terikat ruang dan waktu, masa lalu, sekarang atau depan. Saya kira seharusnya judulnya adalah “Sejarah Agama-Agama”, tapi ya tidak apa-apa, segala hal kalau diketahui hakikatnya, kehidupan akan menjadi mandeg tak berjalan.

Hampir setiap umat beragama berkeyakinan bahwa Iblis adalah sosok jahat yang harus dimusnahkan. Padahal Iblis adalah seniornya para malaikat, jauh lebih sepuh (tua) dibanding malaikat. Semua malaikat hormat kepada Iblis tapi waktu itu, saya gak lihat sih, tapi kira-kira begitu.

jeritan_iblis

Ketika Tuhan hendak membikin manusia Adam, Iblis sempat protes kepadaNya, “Tuhan kenapa Anda bikin manusia, bukankah dia hanya akan berbuat kerusakan di alam?”

“Kamu diem saja, Blis. Aku Maha Lebih Tahu apa yang Aku lakukan.”

Dari dialog imajiner modifikasi saya, yang bersumber pada kitab Suci, itu saja sudah dapat disimpulkan, bahwa sebelumnya Tuhan sudah pernah menciptakan manusia. Tapi manusia-manusia pra-Adam selalu bikin onar di Bumi.

Entah bagaimana saya agak lupa, Iblis terusir dari Surga. Surga atau apa entahlah juga, pokoknya Iblis terbuang ke Bumi. Dan mendarat di pulau Jawa. Tentu saja waktu itu namanya belum pulau Jawa, dan bentuk daratannya tidak seperti sekarang ini.

Di saat yang hampir bersamaan, untuk menyelesaikan proyek manusia hibrida baru, Tuhan memerintah pada malaikat Jibril untuk mengambil sampel tanah Bumi di pulau Jawa. Mengetahui kehadiran Jibril, Iblis berusaha menghalangi Jibril agar tidak bisa mengambil tanah Bumi. Karean Iblis lebih senior, Jibril tak mampu mengalahkannya. Pemimpin para malaikat kembali ke hadirat Tuhan dengan tangan kosong. Tuhan tahulah apa yang terjadi, tapi skenario panjang harus tetap dijalankan. Tuhan memerintahkan kepada Mikail, Israfil. Semua gagal kembali dengan tangan kosong tanpa tanah pesanan Tuhan. “Lha piye to iki? Mosok pada kalah sama Iblis?!”

Akhirnya Tuhan mengutus malaikat pencabut nyawa untuk mengambil sampel tanah itu. Karena sudah kelelahan menghadapi banyak malaikat sebelumnya, Iblis kali ini kecapekan dan menjadi lengah. Dia kecolongan! Izrail si pencabut nyawa berhasil mengambil sampel tanah di tempat yang kelak disebut pulau Jawa.

Iblis langsung mengumpat! Tapi ya tidak tahu saya gimana mengumpatnya? Kalau dilihat dari kebiasaan masyarakat yang tinggal di pulau Jawa sekarang, misuhnya kalau ndakAsu’ ya ‘Jancuk’.

***

Agak nekad juga saya, menulis ginian. Tentu saja ada sumber ceritanya, tapi saya tidak mau menyebut.

***

Ribuan tahun berikutnya energi Iblis sebenarnya masih tersimpan di tanah ini. Dan mengendap di dalam jiwa manusia-manusia yang tinggal di pulau Jawa. Sang Iblis sendiri sudah pindah entah ke mana, tidak nge-kos lagi di tempat yang kini disebut Indonesia. Maka  hati-hati lah terhadap orang-orang Indonesia, jangan terlalu kebangetan merampok mereka. Kalau mereka tersinggung beneran, energi iblisnya bisa keluar lho.

Bersambung…