Nyeruput Wédang Uwuh

Selama bertahun-tahun saya tidak pernah mampu membaca tulisan Cak Nun di media mana pun, di buku apa pun. Setiap kali membaca, otak saya terasa berat. Saya baru mulai membaca tulisan Cak Nun secara rutin sejak Cak Nun menulis esai Daur pada awal tahun 2016 dan Wédang Uwuh menjelang akhir tahun. Agak memalukan sebenarnya, bagi orang seperti saya yang asli made in Jogja, yang notabenenya Kota Pelajar, seharusnya memiliki budaya membaca yang baik terhadap segala macam literasi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya; Sangat malas membaca.

Ngombe Wédang Uwuh memberi kesegaran tersendiri bagi saya. Ada rasa Jogja klasik yang seolah menembus ruang batin, seolah membawa pembaca ke Jogja tempo doeloe. Walaupun banyak rasa lain yang berseliweran di dalamnya. Ada rasa Indonesia, ada rasa kagol, ada rasa Jawa, ada rasa kesedihan sekaligus rasa haru, kelucuan dan kekonyolan.

Pun ketika saya mencoba mengolah kembali dari apa yang saya minum, menjadi sebuah sajian baru seperti tulisan ini, seolah lagi ada aliran kata-kata yang mengalir begitu saja tanpa ada konteks yang mendahului. Sebagaimana yang sering saya lakukan di media sosial, semacam review setelah membaca kolom Wédang Uwuh setiap selasa pagi.

Padahal apa yang saya tulis hanya sebatas sebagai refleksi pribadi, belum tentu benar-benar menunjukkan rasa sejati dari Wédang Uwuh yang diracik sendiri oleh pembuatnya yang asli Jombang namun sudah menjadi peracik wedang senior di telatah Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Walaupun sebenarnya Kakek Penulis Wédang Uwuh berasal dari Kauman, Jogja yang kemudian bermigrasi keluar Kerajaan pada waktu itu.

Asyik saja rasanya, setelah meminum Wédang Uwuh, kemudian saya mencoba menggambarkan rasa yang muncul dari minuman itu. Melalui tulisan gaya sendiri tanpa ada teknik copy-paste. Setiap kali membacanya, imajinasi seperti terpancing untuk mengolah kembali dimensi-dimensi lain dari Jogja yang jarang diketahui umum.

Nama Wédang Uwuh sendiri sangat unik. Minuman para Bangsawan Kraton namun namanya memiliki arti tekstual “Minuman Sampah”, bahasa Inggrisnya Trash Drink. Saya memaknai Wédang Uwuh  sebagai semacam pembelajaran bahwa para pemimpin harus merakyat, merasakan bahwa mereka adalah mantan rakyat yang mendapat amanat. Bukan menjadikan negara sebagai lading kepentingan pribadi dan perusahaan yang siap kapan saja bisa diakusisi oleh negara lain baik secara diam-diam ataupun terang-terangan.

Lho apa ini kok melebar ke negara segala? Fokus Wédang Uwuh saja. Wédang Uwuh-nya bisa dibeli seharga Rp 3.000,- saja. Penjualnya akan menjejerkan Wédang Uwuh dengan wédang-wedang lain di estalase tokonya.

Selama tiga bulan ini, saya berhenti membeli Wédang Uwuh . Mungkin saya sudah ketinggalan banyak hal. Sehingga membuat tulisan saya ini tidak up-to-date.

Bagi yang berminat meminumnya, kita tidak harus paham kenapa rasa Wédang Uwuh-nya macam-macam, rasanya meloncat-loncat dari satu nuansa ke nuansa lainnya. Resapi saja, tidak perlu terlalu dipikirkan bahannya apa saja untuk menghasilkan rasa yang beraneka ragam seperti itu. Akan tiba saatnya untuk mengerti ketika kita menghadapi situasi tertentu kelak entah kapan. Saya sendiri tidak terlalu berani membahas rasa-rasa yang dihasilkan dari Wédang Uwuh nya. Sulit bagi saya untuk meracik ulang. Cukup saya nyeruput pelan-pelan agar tidak kecantang.

Selesai diracik di Yogya pada 15 Februari 2018

Advertisements

Bukan Tadabbur Quran

Siapa bilang menulis itu gampang? Untuk menulis tulisan sepanjang 300 kata di Facebook saja, saya harus berdiam diri tidak mengungkapkan apa pun selama lebih dari dua hari. Sekali lagi saya tulis di sini tentang tulisan saya beberapa hari lalu, membaca tulisan kurang dari 300 kata, banyak orang yang mengomel, “Tulisanmu kok panjang-panjang sih?” Yang kemudian saya sesalkan, ini merupakan indikasi orang Indonesia memiliki budaya malas baca. Termasuk saya juga sebenarnya. Selama hampir sembilan bulan ini, tidak ada satu buku pun yang saya baca. Ini artinya saya semakin tidak tahu banyak hal.

Setiap orang bisa mengambil foto di zaman sekarang karena banyak kamera pocket yang tertanam di smartphone. Tidak ada smartphone yang tidak memiliki kamera. Sejelek-jelek smartphone pasti memiliki kamera walau resolusi jelek juga sih. Tapi kan ada. Akan tetapi tidak semua orang adalah fotografer. Begitu juga dengan tulisan, setiap orang itu bisa menulis di mana pun sekarang ini, di Tumblr, Facebook, Twitter, Blogger, WordPress, dan segala macam media online lainnya. Tetapi tidak semua orang adalah penulis, apalagi sampai di taraf Profesional. Kualitas setiap tulisan, baik buruknya, benar ngawurnya tidak bisa dijamin. Tidak semua orang mampu menulis di koran, majalah, untuk membuat tulisan yang bermutu dan bonafit.

Pun termasuk saya, suka menulis di sosial media dan meng-upload foto-foto di Instagram sama sekali tidak mengindikasikan saya adalah penulis dan fotografer. Semua ini hanya sekedar pelampiasan dan pelarian nafsu. Nafsu di dalam diri saya perlu tempat untuk mengungkapkan segala keinginannya yang tak terbatas, yang bagaikan api yang membakar apa pun yang dilewatinya.

Lho, lho, lho, jangan mengira nafsu itu hanya soal nafsu birahi atau nafsu sex dan nafsu makan. Secara sederhana, nafsu itu adalah “The other you in yourself”. Dia adalah kuda liar yang harus dikendalikan, tentu saja diri kita sendiri yang harus mengendalikan. Dalam khazanah sufistik setidaknya nafsu itu ada enam atau tujuh, maaf saya lupa. Atau saya tidak tahu secara mendetail. Maklum saya hanya orang awam, yang tidak paham pada banyak hal. Hanya sedikit hal yang saya tahu.

Nafsu paling jahat dalam diri manusia disebut nafs al-amarah bisu, semoga ejaannya benar. Nafsu jenis ini atau kita sebut, diri kita yang lain dalam jenis amarah ini, selalu mengajak ke keburukan. Dia mengajak pemiliknya ke Sarkem, Dolly, atau Sunan Kuning. Dia mengajak pemiliknya untuk teler di Bosche. Segala jenis keburukan yang merusak diri manusia.

Sementara itu diri kita yang paling baik adalah nafs muthmainah, semoga lagi tidak salah ejaan tulisan. Jenis diri kita yang baik ini, selalu berada dalam keadaan dicintai oleh Tuhan, membuat kita yang menghuni jasad ini untuk selalu melakukan kebaikan.

Keinginan kita untuk meniti karir, berjualan di pasar, berbisnis, narik becak, bikin acara konser amal, menjalin relasi dengan banyak orang, diam-diam sebenarnya adalah keinginan nafsu. Hanya saja mungkin bukan nafsu amarah bisu itu, tapi nafsu yang lain yang baik dan tidak macam-macam.

Dalam proses pengendalian diri yang sangat rumit ini, dipukul memakai tongkat lebih ringan daripada ditusuk dengan pisau. Maksud saya kalau harus memilih di antara dua keburukan, maka saya memilih keburukan paling ringan. Saya tidak bilang hobi menulis dan fotografi adalah keburukan, hobi bagi saya adalah suatu cara untuk mengendalikan nafsu. Daripada menghabiskan keinginan nafsu pada hal-hal yang haram, lebih baik dialihkan ke hal-hal yang agak mubazir, tapi tingkatannya tidak sampai terlarang.

Misal saya suka memfoto pakai kamera mekanik. Ini kan agak boros dari segi produksi yang mahal, mulai dari beli film negatif, cuci film, sampai scan film. Apalagi kalau sampai cetak, bisa kanker (kantong kering) sepanjang bulan setelah gajian. Dan nafsu sangat menyukai sifat boros ini. Tapi kan ada hasilnya, ada foto yang bisa saya kagumi keindahannya, bisa share di Instagram, membuat banyak orang senang melihat keindahan-keindahan ciptaan Tuhan yang diabadikan dalam bingkai. Untungnya kamera saya sedang rusak, sehingga tidak terlalu boros.

Pun mengenai tulis menulis, ini bukan soal saya punya bakat menulis. Saya tidak punya bakat ini. Kalau sampai pada titik belakang ini tulisan saya sudah mencapai enam ratus empat puluh enam karakter. Itu bukan berarti bakat menulis. Sama persis seperti pada hobi saya memfoto, ini hanya soal mengenai melampiaskan nafsu pada hal-hal mubah dan makruh, agar nafsu tidak cenderung ke hal-hal yang haram.

Ketika bisa menulis sampai sejauh ini tepatnya enam ratus sembilan puluh empat karakter di titik belakang ini. Ada semacam perasaan sombong dan bangga, sekalipun tulisan ini tidak bermutu sama sekali. Setidaknya membuat nafsu senang sedikit, sehingga dia bisa dikendalikan. Apalagi tulisan sepanjang ada yang sampai membaca sampai di kalimat ini, lalu merespon dengan meng-klik atau menyentuh tombol “Suka” atau “Like”, nafsu di dalam diri saya semakin senang.

Betapa ribet kan tulisan macam ini, topiknya random sekali, mengenai hubungan menulis, fotografi dengan pengelolaan nafsu di dalam diri manusia. Dan alhamdulillah nyambung juga ternyata. Ya dipaksa nyambung. Dan betapa beruntung orang yang mau membaca sampai akhir tulisan ini, karena saya akan menghadiahkan sebuah ayat dari Kitab Suci sebagai penutup tulisan saya yang tidak bermutu dan tidak jelas ini, agar ada manfaatnya sedikit berkat firman Tuhan yang Maha Pengasih, karena sepanjang berfesbukan saya tidak pernah berani mengutip ayat Quran. Kecuali hari ini saja.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Quran Surah Yusuf Ayat 53)

Embraced by Words Into the Silence

Radiohead’s Ok Computer Artworks

Kata-kata adalah sesuatu yang mengherankan. Bagaimana jutaan orang bisa tersihir dengan kata-kata? Di balik kata-kata ada huruf-huruf yang menyusunnya. Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan seterusnya hingga membentuk berbagai macam bentuk buku, undang-undang, peraturan, surat, bahkan tulisan ini.

Jutaan tulisan mempengaruhi pikiran manusia. Bagaimana manusia bisa patuh kepada jutaan tulisan itu yang sebenarnya cuma berasal dari huruf yang lemah dan papa, tak sanggup melukai secara fisik tapi mampu menghancurkan secara mental.

Orang-orang bertengkar karena sebuah keputusan yang tertuang dalam susunan huruf dan kata yang tertata ke dalam selembar kertas. Padahal itu Cuma selembar kertas yang belum diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tentu sebenarnya semua itu bisa dilanggar kalau semua orang sepakat untuk melanggarnya.

Seorang pengendara tanpa SIM dan STNK takut pada selembar kertas yang dikeluarkan petugas polisi lalu lintas. SIM dan STNK itu juga hanya susunan huruf dan kata, lembaran kertas dari pak polisi juga Cuma susunan huruf dan kata. Kenapa bisa dipatuhi?

Kutu buku sangat percaya pada apa yang dibacanya padahal apa yang dibaca belum tentu benar. Ada hal-hal tentang ilmu pengetahuan yang tidak bisa menempel di atas kertas. Apakah hal-hal itu? Salah satunya dalah citarasa. Citarasa tidak dapat menempel di atas kertas. Kau mungkin kutu buku yang membaca ribuan buku yang seolah membuatmu merasa pintar dan tahu segalanya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan cita rasa dari jutaan buku yang kau baca.

Tidak usah buku. Kitab suci saja, sesuci-sucinya, sedalam apa pun kau menghayatinya, belum tentu kau akan mendapatkan cita rasanya.

Bahwa tulisan-tulisan yang merefleksikan ilmu belum tentu tertuang di buku dan kertas. Bukan hanya kadang tapi Tuhan selalu memberikan ilmu ke dalam berbagai bentuk. Suara angin adalah tulisan yang bergerak dan hidup. Suara gonggongan anjing tetangga yang berisik juga merupakan suatu tulisan tanpa huruf dan kata.

Aku bukan pembaca buku berat, dan tidak terlalu percaya pada isi buku. Memang buku itu penting untuk merekam segala hal yang otak manusia tidak mampu menampungnya dan mengingatnya. Seperti pepatah China, tinta paling kabur masih lebih baik dari ingatan paling kuat. Lalu bagaimana jika semua buku dibakar? Tentu semua akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Melipat Ruang dan Waktu

636005841607656170-64416323_fast-forward
https://www.theodysseyonline.com/concept-time

Selama satu minggu ini saya bekerja di luar Yogya. Berangkat pagi dan pulang sore setelah berbuka puasa di kantin basement Hotel. Sampai di kos badan sudah lelah, biasanya langsung bleg tidur lelap, atau menikmati dulu satu atau dua batang kretek sebentar untuk mengolah nafas agar tidak terlalu lelah (Merokok untuk mengolah nafas?! Dunia kesehatan bisa marah ini! Haha…) Tapi umumnya tidak sempat untuk menghibur diri, bahkan hanya untuk mendengarkan satu atau dua lagu favorit. Ya bisa mendengarkan, tapi langsung ketiduran dan bermimpi indah.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis di blog ini juga tentang keinginan saya untuk tidak lagi mendengarkan musik gratisan demi menghargai karya seni musik yang sudah susah-susah ditulis dan digubah oleh para musisi. Dalam hal ini saya memilih layanan musik Spotify, dengan biaya sekitar Rp 49.990 per bulan. Setelah sekitar satu bulan berlangganan, saya merasa berat melanjutkan pembayaran. Menjadi orang yang baik dan tertip memang susah. Akhirnya tanpa kemunafikan, saya mengakui saya belum mampu melakukannya. Ya sudah lah, dengerin lagu-lagu koleksi di komputer saja, toh semua bukan gratisan. Ada beberapa puluh lagu yang saya beli secara legal dari CD yang kemudian saya ripping ke dalam format mp3.

Saya tidak memiliki bakat untuk memainkan alat musik. Mendengarkan musik bagi saya adalah suatu cara mengungkapkan perasaan di dalam kesunyian batin. Biasanya saya hanya diam saja mendengarkan musik, tidak ikut menyanyikan liriknya, karena saya menyadari bahwa suara saya sangat-sangat tidak merdu untuk diperdengarkan. Sama sekali fales total, apalagi untuk suara-suara tinggi. Untuk beberapa suara rendah memang kadang –cuma kadang—agak terdengar bagus sedikit saja. Sekalipun hanya diam, tapi sebenarnya di dalam batin meronta-ronta berteriak-teriak tidak karuan mengikuti alunan musik dan vokal. Sungguh saya sangat berharap sekali saya bisa memainkan instrumen musik dan bernyanyi dengan lantang. Boleh kan berharap? Kalau tidak terkabul kan sudah biasa. Syukur-syukur suatu hari nanti saya memiliki anak cucu yang memiliki bakat dalam seni musik. Ketidakmampuan saya saat ini adalah tirakat untuk keberhasilan anak cucu, semoga saja begitu, Tuhan memberi kehendak yang tepat.

Ketika mendengarkan musik favorit, saya menyadari saya tidak bisa mendengarkannya sambil melakukan hal lain. Misal sambil bekerja yang bagi sebagian besar orang merasa nyaman, bagi saya malah sebaliknya, pekerjaan saya akan terganggu, karena saya akan lebih fokus mendengarkan musik.

Di dalam komputer, saya memiliki ribuan lagu yang tidak mungkin saya mampu mendengarkan semuanya. Kadang saya berpikir apakah mungkin saya bisa mendengarkan semua lagu koleksi saya dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak harus menunggu lama sekali untuk menikmatinya. Istilahnya saya ingin mampu melipat ruang dan waktu.

Di dalam khazanah dunia sufistik, banyak diceritakan bagaimana para wali Allah, diberikan ijin oleh Allah untuk melipat ruang dan waktu. Dengan kemampuan melipat ruang dan waktu mereka dapat melakukan berbagai hal dalam waktu yang sangat singkat sekali. Mereka dapat menempuh perjalanan mengelilingi Bumi dalam beberapa saat saja. Mereka mampu membaca satu Quran penuh hingga katam dalam satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.

Dalam bahasa modern melipat ruang dan waktu bisa diartikan masuk ke dalam interval jeda waktu antara detik satu dengan detik berikutnya, menit satu dengan menit berikutnya, jam satu dengan jam berikutnya. Dengan memasuki interval jeda waktu, satu detik bisa terasa seperti satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan berhenti sama sekali bagi mereka yang mengalami.

Pernah ingat bukan film seri yang diputar di Indosiar pada sekitar tahun 1999 – 2000 yang berjudul “Honey, I Shrunk the Kids”, di salah satu episodenya Wayne menciptakan alat untuk mempercepat gerakan sehingga bisa ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Suatu ketika alat itu rusak dan Wayne terjebak di dalam interval jeda waktu satu detik yang menjadi berhenti sama sekali, dan Wayne hilang dari dunia nyata, padahal dia tidak ke mana-mana. Wayne melihat semua yang di sekitarnya berhenti.

Tapi itu kan cuma film fiksi ilmiah. Yah ya tidak apa-apa.

Di sisi lain dari kemampuan ini, wali-wali Allah adalah orang-orang pilihan yang sangat rendah hatinya, sangat menyadari bahwa mereka walau memiliki kedudukan tinggi di sisi Tuhan, tapi sebenarnya mereka bukan apa-apa. Biasanya ketika mendapat kemampuan seperti itu, mereka akan merasa sangat malu kepadaNya.

Jadi sebenarnya saya hanya membayangkan saja, dan agak berharap saya bisa melipat ruang dan waktu untuk mendengarkan musik. Tapi agak menggelikan juga sih, mereka wali-wali Allah yang diberi kemampuan malah malu kepadaNya, sedangkan saya sangat kotor sekali, malah mencari-cari hal seperti itu apalagi mencarinya untuk melakukan hal-hal pribadi saja, yang bagi orang modern itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Akhir pekan ini saya pulang ke Yogya, tiba di rumah, saya langsung memutar lagu-lagu yang saya angankan untuk didengarkan selama seminggu ini. Wah! Rasanya seperti pertama mendengarkan lagu-lagu itu. Dan pastinya langsung menulis tulisan ini.

Google

 

nexus-5-35828372-6361
http://www.cnet.com/products/google-nexus-5/

Di salah satu artikel Hibwee, saya mengomentari tentang usulan ICMI kepada Pengelola (maksud saya Pemerintah, tapi saya tidak suka kata ‘Pemerintah’ maka saya ganti ‘Pengelola Negara’). Tentang usulan pemblokiran Google. Komentar saya sama seperti status saya kemarin malam di Fesbuk ini: “Memblokir Google sama saja dengan memblokir Operating System Android yang tertanam di hampir setiap smartphone.”

Kemudian ada yang komentar, yang diblokir itu cuma Google search engine, bro, bukan operating system. Saya cuma menjawab singkat saja, default search engine di Android adalah Google. Malas menjawab panjang untuk menghindari perdebatan pengecut di dunia maya.

Sebenarnya saya bisa saja menjawab seperti ini. Bagaimana mungkin pemerintah -eh maksud saya pengelola- mau memblokir Google, sementara Google itu memuat PlayStore yang merupakan gudangnya segala macam aplikasi yang digunakan untuk OS Android? Google memuat Gmail, Drive, Maps, Documents, Blog dan lain sebagainya. Jika Anda membuka Google dot com tentu saja tidak hanya search engine yang muncul kan? Di pojok kanan atas itu ada kotak-kotak kecil yang memuat layanan Google yang lain.

***

Di dunia gadget (Mobile OS) terdapat banyak OS (Operating System), yang paling umum dikenal adalah iOS, Windows Mobile, Blackberry dan Android.

Android adalah Operating System (OS) yang digunakan oleh sebagian besar smartphone, Android bukan lah smartphone atau hp itu sendiri. Android dikembangkan oleh Google dan Google memberikan OSnya kepada pembuat-pembuat smartphone seperti Samsung, Sony, HTC, Asus dan merek lainnya. Kemudian pembuat smartphone memodifikasi OS itu sesuai kebutuhan masing-masing merek.

Pure Android tanpa modifikasi dibuat oleh merek Nexus. Nexus adalah merek smartphone yang dibuat Google bekerja sama dengan beberapa manufactures.

Nexus One oleh Google & HTC; Nexus S oleh Google & Samsung; Galaxy Nexus oleh Google & Samsung; Nexus 4 oleh Google & LG; Nexus 5 oleh Google & LG; Nexus 6 oleh Google & Motorola; Nexus 5X oleh Google & LG; Nexus 6P oleh Google & Huawei.

Agak lucu juga ketika orang pergi ke toko hp mau beli Android. Karena Andorid bukan hp itu sendiri. Seperti zaman dulu ketika orang-orang desa melihat sepeda motor dan mereka menyebutnya Honda.

Long way to be

Jangankan pengetahuan, bahkan wawasan saya tentang arsitektur masih sangat sedikit sekali. Banyak hal yang belum saya mengerti. Secara teknis mungkin saya bisa menggambar tapi banyak bagian yang membuat saya buyar.

Saya merasa kebodohan saya ini berawal dari rasa takut saya untuk terjun ke lapangan ketika masih sekolah dan kuliah dulu. Entahlah saya merasa takut melakukannya. Dilihat dari background sekolah teknik seharusnya saya sudah menjadi seorang professional ditambah dengan kuliah selama lima tahun.

Menjelang kelulusan STM, saya mendapat kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan kontraktor yang besar. Saya mengikuti tes lulus tapi gagal di wawancara. Saya perkirakan kegagalan di wawancara dikarenakan saya mengatakan saya ingin kuliah. Ok saya salah jurus, setelah itu saya justru bekerja di Digital Printing sehingga makin jauh saya dari terjun dan terlibat ke dunia konstruksi bangunan.

Dua tahun setelah bekerja, saya memutuskan untuk melanjutkan belajar di jenjang universitas mengambil jurusan arsitektur. Di semester awal, saya memang terlihat berprestasi, dengan nilai IP lumayan 3.5 , tidak buruk untuk seorang yang sudah pernah di STM. Seiring waktu di semester berikutnya, berikutnya dan berikutnya, nilai saya justru anjlok. Yah saya hanya semangat di awal saja, setelah itu semangat menurun. Penurunan yang hampir drastis, walau tidak terlalu parah tapi dampaknya cukup signifikan jika diakumulasi nilai IPK dari semester 1 hingga 10.

Selama kuliah, banyak dari kawan-kawan yang belajar kepada saya dengan wawasan seadanya. Uniknya di waktu-waktu berikutnya, kawan-kawan yang belajar kepada saya justru malah unggul di atas saya. Saya sendiri tetap biasa saja. Saya menyadari ini karena saya termasuk orang yang malas belajar pada hal-hal baru kecuali hal-hal tertentu saja yang saya sukai.

Di semester-semester berikutnya, kawan-kawan banyak yang terlibat secara mandiri ke dunia proyek dan perencanaan. Kontan, kemampuan mereka meningkat pesat, sementara saya masih di belakang. Di waktu itu saya memang merasa ragu untuk ikut terjun ke pekerjaan, saya justru bekerja di bidang lain. Memang sekali waktu saya bekerja di bidang arsitektur, tapi tidak terlalu sering.

Saya baru benar-benar memasuki dunia kerja, setelah menyelesaikan ujian tugas akhir. Saya mendapat kesempatan untuk bekerja di sebuah perusahaan konstruksi yang dulu menolak saya ketika STM. Satu kesempatan yang langka sekali, tapi hanya berlangsung dalam waktu singkat saja, karena proyek pekerjaannya tidak terlalu besar, sehingga selesai dalam waktu 4 bulan. Dan saya memutuskan untuk pindah di bidang yang sama sekali jauh dari dunia bangunan. Empat bulan adalah waktu yang masih sangat kurang untuk mendapat pengalaman seorang professional.

Dunia arsitektur bidang ilmu pengetahuan yang luas sekali. Di dalamnya memuat berbagai cabang disiplin ilmu yang lain. Banyak hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan dalam proses perencanaan. Seorang arsitek dituntut untuk mampu berpikir micro dan macro, secara khusus dan global, secara umum dan mendetail. Tidak semua arsitek mampu melakukannya. Bahkan  tidak perlu jauh-jauh arsitek, cukup seorang desainer junior saja harus mampu berpikir seluas itu. Jika tidak mampu, bisa dipastikan sebuah desain tidak aka n meninggalkan kesan.

Ada beberapa rumus sederhana; Tahu banyak hal mengenai banyak hal. Tahu banyak hal mengenai sedikit hal. Tahu sedikit hal tentang banyak hal. Tahun sedikit hal mengenai sedikit hal. Seorang desainer cukup memegang “Tahu sedikit hal tentang banyak hal”, ini minimal. Tentu saja kalau bisa adalah “Tahu banyak hal mengenai banyak hal.” Siapa yang bisa seperti itu? Jelas hanya sedikit orang saja. Sedangkan level saya masih yang terendah, tahu sedikit hal mengenai sedikit hal. Dan masih sangat sedikit sekali.

 

Muse-sic

10927_original

Ketika masih sekolah STM  (saya bukan anak SMA) setidaknya setiap 1 atau2 bulan sekali saya membeli kaset karena sekolah saya dekat dengan toko CD dan Kaset. Saya mulai berhenti membeli kaset ketika radio-tape saya rusak dan saya mulai berpindah ke CD, tapi karena harga CD yang relatif lebih mahal, saya menjadi agak malas dan enggak niat beli. Pada saat itu memang sudah ada digital musik yang berformat Mp3 atau Mp4.

Seiring waktu dengan dua masalah di atas, dengan tidak terpaksa saya pun mulai mendengarkan musik secara gratisan dengan mendownload lagu-lagu secara ilegal. Saya tidak lagi membeli kaset atau CD. Sama sekali saya tidak peduli apakah itu dosa atau tidak, dan rasanya tidak perlu dilihat dari kacamata dosa dan pahala, karena mungkin terlalu aneh. Dan ini berlangsung bertahun-tahun hingga sekarang.

10723_original

Baru akhir-akhir ini saya mulai berpikir bahwa musik adalah sebuah karya seni, tidak seharusnya sebuah karya seni tidak dihargai dan diapresiasi. Saya melihat salah satu cara mengapresiasi karya seni musik adalah dengan membeli lagu originalnya, selain kualitas sound-nya lebih bagus, juga kita bisa men-support musisinya sebagai rasa terimakasih atas karyanya yang bisa kita nikmati. Sedangkan cara lainnya untuk mengapresiasi seni musik adalah dengan nonton konsernya langsung dengan tidak memanjat pohon (memanjat pohon?! Jadul banget!)

Sekarang orang suka mendengarkan musik digital, tapi pelayanan musik digital tidak dimaksimalkan buat mereka yang tidak punya kartu kredit. Lha mending cari download gratisan daripada memaksakan diri buat kartu kredit, yang sebagian besar orang tidak punya, termasuk saya.

Mereka menganjurkan untuk membeli lagu digital original, tapi pembeli tidak dipermudah cara membelinya.

10596_original

Spotify sudah tersedia di Indonesia. Tapi untuk berlangganan harus membeli dengan kartu kredit. Lha mbok potong pulsa saja, seperti membeli applikasi di Playstore, wes saya yakin banyak yang berlangganan.

Ada alternative lain buat pengguna Android yaitu Google Music tapi Google Music tidak tersedia di Indonesia, tentu saya tidak akan mendengarkan lagu secara gratisan kalau Google Music tersedia dan mudah cara pembayarannya.