Kebocoran Psikologis

Dahulu kala ada seorang Santri yang ingin menempuh jalan sunyi Gurunya.

“Mbah saya selama tiga puluh tahun ini sudah berpuasa di siang hari, dan sholat malam secara tekun. Saya sudah meninggalkan macam-macam keinginan. Tapi kok saya belum pernah menemukan semua yang simbah ceritakan. Padahal sak estu kulo percoyo banget.”

“Walaupun kau sholat selama 300 tahun, kalau keadaanmu seperti sekarang, ora bakal koe entuk opo-opo, cung!”

“Kok saget mbah?”

“Kau tertutup oleh dirimu sendiri!”

“Bagaimana agar saya tidak tertutup oleh diri sendiri?”

“Kau tidak akan mau melakukannya, dan tidak mampu melakukan.”

“Saya akan melakukannya mbah!”

“Oke kalau gitu. Sekarang pergi ke Barbershop terdekat, potong rambutmu dan cukur jenggotmu. Lepas pakaiannmu ini, dan ganti dengan pakaian yang biasa. Bawalah sebuah kantong yang sudah diisi makanan. Lalu kumpulkan anak-anak kecil. Katakan kepada mereka: ‘Ayo siapa berani menamparku, akan kuberi makanan.’ Setelah itu masuklah ke tempat di mana kau biasa dihormati sehingga mereka melihat kekonyolanmu.”

“Subhanallah”, kata Santri itu.

“Ucapan ‘subhanallah’-mu itu syirik!” Kata mbah Guru.

“Kok bisa mbah?”

“Cangkem mu itu mensucikan Allah, tapi hatimu itu sedang mensucikan dirimu sendiri.”

“Ada metode lain mbah?

“Ndak ada lee! Mulai dengan cara itu dulu, baru aku ajarkan cara lain.”

“Saya ndak mampu mbah.”

“Kandani kok, koe ki ngeyel. Aku kan sudah ngomong tadi, kau tidak akan mampu dan tidak mau!”

Catatan:
1. Melakukan dan atau menempuh jalan sunyi, melakukan latihan-latihan batin harus dibawah pengawasan seorang Profesional dan Expert.

2. Tulisan ini terinpirasi dam diambil dari kisah Syeikh Abu Yazid dan muridnya.

***

Saat ini sebenarnya kita bangsa Indonesia sedang mengalami kebocoran psikologis yang sangat akut sekali. Dan kebanyakan dari kita tidak menyadarinya sama sekali. Baik dalam skala lokal, regional sampai nasional. Dalam bidang politik dan agama khususnya.

Contoh tidak sederhananya adalah mengenai masalah Pemimpin Bangsa. Hampir setiap orang di negeri ini menuhankan idola pemimpin mereka. Parah kan? Yang menuhankan Jokowi misal maka akan menganggap pengikut Prabowo neraka semua. Sebaliknya yang menuhankan Prabowo juga akan menganggap pengikut Jokowi neraka semua. Begitulah pertengkaran rebutan tuhan berlangsung dengan penuh kekhusyukan sejak bertahun-tahun lalu hingga 2019 nanti.

Hastag #2019gantipresiden adalah salah satu kebocoran psikologis yang sangat asyik untuk ditertawakan. Memang mau ganti siapa?

Ada 300 juta lebih manusia di Indonesia, Anda-anda semua kan intelektual yang bijaksana tapi kok mau-maunya disuruh memilih satu di antara dua atau tiga kambing pilihan Par-Tai politik. Apa sudah tidak ada manusia yang layak memimpin Indonesia sehingga harus mencalonkan kambing-kambing yang dicalonkan oleh partai-partai kambing?

Oh maaf saya bukan pakar politik. Saya cuma menganalisisa kebocoran psikologis manusia Indonesia modern yang pintar, cerdas, tak terkalahkan, dan selalu benar sendiri. Saya sendiri Bayu Wiratsongko mungkin mengalami kebocoran psikologis yang jauh lebih parah. Mungkin saja saya malah orang bodoh yang tidak menyadari kebodohannya. Saya adalah orang apatis terhadap Indonesia. Mungkin begitu adanya.

Aku bodoh karena tidak memilih memihak kambing mana pun.

Sementara itu, kebenaran hamba-hamba kambing itu adalah: “Menjadi benar dengan menyalahkan yang lain.”

Advertisements

Bukan Tadabbur Quran

Siapa bilang menulis itu gampang? Untuk menulis tulisan sepanjang 300 kata di Facebook saja, saya harus berdiam diri tidak mengungkapkan apa pun selama lebih dari dua hari. Sekali lagi saya tulis di sini tentang tulisan saya beberapa hari lalu, membaca tulisan kurang dari 300 kata, banyak orang yang mengomel, “Tulisanmu kok panjang-panjang sih?” Yang kemudian saya sesalkan, ini merupakan indikasi orang Indonesia memiliki budaya malas baca. Termasuk saya juga sebenarnya. Selama hampir sembilan bulan ini, tidak ada satu buku pun yang saya baca. Ini artinya saya semakin tidak tahu banyak hal.

Setiap orang bisa mengambil foto di zaman sekarang karena banyak kamera pocket yang tertanam di smartphone. Tidak ada smartphone yang tidak memiliki kamera. Sejelek-jelek smartphone pasti memiliki kamera walau resolusi jelek juga sih. Tapi kan ada. Akan tetapi tidak semua orang adalah fotografer. Begitu juga dengan tulisan, setiap orang itu bisa menulis di mana pun sekarang ini, di Tumblr, Facebook, Twitter, Blogger, WordPress, dan segala macam media online lainnya. Tetapi tidak semua orang adalah penulis, apalagi sampai di taraf Profesional. Kualitas setiap tulisan, baik buruknya, benar ngawurnya tidak bisa dijamin. Tidak semua orang mampu menulis di koran, majalah, untuk membuat tulisan yang bermutu dan bonafit.

Pun termasuk saya, suka menulis di sosial media dan meng-upload foto-foto di Instagram sama sekali tidak mengindikasikan saya adalah penulis dan fotografer. Semua ini hanya sekedar pelampiasan dan pelarian nafsu. Nafsu di dalam diri saya perlu tempat untuk mengungkapkan segala keinginannya yang tak terbatas, yang bagaikan api yang membakar apa pun yang dilewatinya.

Lho, lho, lho, jangan mengira nafsu itu hanya soal nafsu birahi atau nafsu sex dan nafsu makan. Secara sederhana, nafsu itu adalah “The other you in yourself”. Dia adalah kuda liar yang harus dikendalikan, tentu saja diri kita sendiri yang harus mengendalikan. Dalam khazanah sufistik setidaknya nafsu itu ada enam atau tujuh, maaf saya lupa. Atau saya tidak tahu secara mendetail. Maklum saya hanya orang awam, yang tidak paham pada banyak hal. Hanya sedikit hal yang saya tahu.

Nafsu paling jahat dalam diri manusia disebut nafs al-amarah bisu, semoga ejaannya benar. Nafsu jenis ini atau kita sebut, diri kita yang lain dalam jenis amarah ini, selalu mengajak ke keburukan. Dia mengajak pemiliknya ke Sarkem, Dolly, atau Sunan Kuning. Dia mengajak pemiliknya untuk teler di Bosche. Segala jenis keburukan yang merusak diri manusia.

Sementara itu diri kita yang paling baik adalah nafs muthmainah, semoga lagi tidak salah ejaan tulisan. Jenis diri kita yang baik ini, selalu berada dalam keadaan dicintai oleh Tuhan, membuat kita yang menghuni jasad ini untuk selalu melakukan kebaikan.

Keinginan kita untuk meniti karir, berjualan di pasar, berbisnis, narik becak, bikin acara konser amal, menjalin relasi dengan banyak orang, diam-diam sebenarnya adalah keinginan nafsu. Hanya saja mungkin bukan nafsu amarah bisu itu, tapi nafsu yang lain yang baik dan tidak macam-macam.

Dalam proses pengendalian diri yang sangat rumit ini, dipukul memakai tongkat lebih ringan daripada ditusuk dengan pisau. Maksud saya kalau harus memilih di antara dua keburukan, maka saya memilih keburukan paling ringan. Saya tidak bilang hobi menulis dan fotografi adalah keburukan, hobi bagi saya adalah suatu cara untuk mengendalikan nafsu. Daripada menghabiskan keinginan nafsu pada hal-hal yang haram, lebih baik dialihkan ke hal-hal yang agak mubazir, tapi tingkatannya tidak sampai terlarang.

Misal saya suka memfoto pakai kamera mekanik. Ini kan agak boros dari segi produksi yang mahal, mulai dari beli film negatif, cuci film, sampai scan film. Apalagi kalau sampai cetak, bisa kanker (kantong kering) sepanjang bulan setelah gajian. Dan nafsu sangat menyukai sifat boros ini. Tapi kan ada hasilnya, ada foto yang bisa saya kagumi keindahannya, bisa share di Instagram, membuat banyak orang senang melihat keindahan-keindahan ciptaan Tuhan yang diabadikan dalam bingkai. Untungnya kamera saya sedang rusak, sehingga tidak terlalu boros.

Pun mengenai tulis menulis, ini bukan soal saya punya bakat menulis. Saya tidak punya bakat ini. Kalau sampai pada titik belakang ini tulisan saya sudah mencapai enam ratus empat puluh enam karakter. Itu bukan berarti bakat menulis. Sama persis seperti pada hobi saya memfoto, ini hanya soal mengenai melampiaskan nafsu pada hal-hal mubah dan makruh, agar nafsu tidak cenderung ke hal-hal yang haram.

Ketika bisa menulis sampai sejauh ini tepatnya enam ratus sembilan puluh empat karakter di titik belakang ini. Ada semacam perasaan sombong dan bangga, sekalipun tulisan ini tidak bermutu sama sekali. Setidaknya membuat nafsu senang sedikit, sehingga dia bisa dikendalikan. Apalagi tulisan sepanjang ada yang sampai membaca sampai di kalimat ini, lalu merespon dengan meng-klik atau menyentuh tombol “Suka” atau “Like”, nafsu di dalam diri saya semakin senang.

Betapa ribet kan tulisan macam ini, topiknya random sekali, mengenai hubungan menulis, fotografi dengan pengelolaan nafsu di dalam diri manusia. Dan alhamdulillah nyambung juga ternyata. Ya dipaksa nyambung. Dan betapa beruntung orang yang mau membaca sampai akhir tulisan ini, karena saya akan menghadiahkan sebuah ayat dari Kitab Suci sebagai penutup tulisan saya yang tidak bermutu dan tidak jelas ini, agar ada manfaatnya sedikit berkat firman Tuhan yang Maha Pengasih, karena sepanjang berfesbukan saya tidak pernah berani mengutip ayat Quran. Kecuali hari ini saja.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Quran Surah Yusuf Ayat 53)

Ulangan (1)

Seperti biasa setiap selasa pagi, saya membeli koran Kedaultan Rakyat, dan hanya saya baca rubrik Wedang Uwuh-nya saja. Selebihnya sisa kertas saya sedekahkan, tepatnya saya letakan begitu saja, entah siapa yang akan memungutnya.

Pekan lalu, saya tidak mengikuti rubrik Wedang Uwuh, tiba-tiba pekan ini sampai pada sebuah kisah bahwa beberapa puluh tahun yang lalu di Yogya, sebelah barat perempatan jalan Wirobrajan, sisi selatan jalan, ada sebuah angkringan yang dikelola oleh mbah Wongso namanya.

Mbah Wongso adalah seorang yang (saya menyimpulkan dari tulisan ini) seorang yang Tuhan katakan “Kun, fayakun”. Begitu Tuhan menciptakan mbah Wongso “Jadilah” maka berlangsunglah mbah Wongso sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan bagai air yang mengalir.

Ketika membaca kisah mbah Wongso ini, saya menangkap, seolah mbah Wongso adalah seseorang yang tidak mengalami momen sabar atau bersyukur. Malah mungkin mbah Wongso sama sekali tidak tahu konsep sabar dan syukur. Dia hanya tahu tentang menjalani kehidupan dengan ikhlas saja. Bahkan mungkin mbah Wongso tidak peduli dengan kata ikhlas juga.

Orientasi dagangannya bukan bisnis. Untung rugi tetap diperhatikan tapi bukan fokus utama. Fokus utamanya melayani orang-orang yang ingin mengganjal perut mereka dan menjalani darma yang Tuhan tugaskan kepadanya. Kalau pembeli makan tempe lima, dan bilangnya makan dua, mbah Wongso tidak akan mempermasalahkannya.

“Mbah wongso bukan kapitalis, Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.” Demikian sedikit saya kutip satu kalimat dari tulisan di rubrik Wedang Uwuh hari ini selasa 4 April 2017.

Embraced by Words Into the Silence

Radiohead’s Ok Computer Artworks

Kata-kata adalah sesuatu yang mengherankan. Bagaimana jutaan orang bisa tersihir dengan kata-kata? Di balik kata-kata ada huruf-huruf yang menyusunnya. Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan seterusnya hingga membentuk berbagai macam bentuk buku, undang-undang, peraturan, surat, bahkan tulisan ini.

Jutaan tulisan mempengaruhi pikiran manusia. Bagaimana manusia bisa patuh kepada jutaan tulisan itu yang sebenarnya cuma berasal dari huruf yang lemah dan papa, tak sanggup melukai secara fisik tapi mampu menghancurkan secara mental.

Orang-orang bertengkar karena sebuah keputusan yang tertuang dalam susunan huruf dan kata yang tertata ke dalam selembar kertas. Padahal itu Cuma selembar kertas yang belum diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tentu sebenarnya semua itu bisa dilanggar kalau semua orang sepakat untuk melanggarnya.

Seorang pengendara tanpa SIM dan STNK takut pada selembar kertas yang dikeluarkan petugas polisi lalu lintas. SIM dan STNK itu juga hanya susunan huruf dan kata, lembaran kertas dari pak polisi juga Cuma susunan huruf dan kata. Kenapa bisa dipatuhi?

Kutu buku sangat percaya pada apa yang dibacanya padahal apa yang dibaca belum tentu benar. Ada hal-hal tentang ilmu pengetahuan yang tidak bisa menempel di atas kertas. Apakah hal-hal itu? Salah satunya dalah citarasa. Citarasa tidak dapat menempel di atas kertas. Kau mungkin kutu buku yang membaca ribuan buku yang seolah membuatmu merasa pintar dan tahu segalanya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan cita rasa dari jutaan buku yang kau baca.

Tidak usah buku. Kitab suci saja, sesuci-sucinya, sedalam apa pun kau menghayatinya, belum tentu kau akan mendapatkan cita rasanya.

Bahwa tulisan-tulisan yang merefleksikan ilmu belum tentu tertuang di buku dan kertas. Bukan hanya kadang tapi Tuhan selalu memberikan ilmu ke dalam berbagai bentuk. Suara angin adalah tulisan yang bergerak dan hidup. Suara gonggongan anjing tetangga yang berisik juga merupakan suatu tulisan tanpa huruf dan kata.

Aku bukan pembaca buku berat, dan tidak terlalu percaya pada isi buku. Memang buku itu penting untuk merekam segala hal yang otak manusia tidak mampu menampungnya dan mengingatnya. Seperti pepatah China, tinta paling kabur masih lebih baik dari ingatan paling kuat. Lalu bagaimana jika semua buku dibakar? Tentu semua akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Melipat Ruang dan Waktu

636005841607656170-64416323_fast-forward
https://www.theodysseyonline.com/concept-time

Selama satu minggu ini saya bekerja di luar Yogya. Berangkat pagi dan pulang sore setelah berbuka puasa di kantin basement Hotel. Sampai di kos badan sudah lelah, biasanya langsung bleg tidur lelap, atau menikmati dulu satu atau dua batang kretek sebentar untuk mengolah nafas agar tidak terlalu lelah (Merokok untuk mengolah nafas?! Dunia kesehatan bisa marah ini! Haha…) Tapi umumnya tidak sempat untuk menghibur diri, bahkan hanya untuk mendengarkan satu atau dua lagu favorit. Ya bisa mendengarkan, tapi langsung ketiduran dan bermimpi indah.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis di blog ini juga tentang keinginan saya untuk tidak lagi mendengarkan musik gratisan demi menghargai karya seni musik yang sudah susah-susah ditulis dan digubah oleh para musisi. Dalam hal ini saya memilih layanan musik Spotify, dengan biaya sekitar Rp 49.990 per bulan. Setelah sekitar satu bulan berlangganan, saya merasa berat melanjutkan pembayaran. Menjadi orang yang baik dan tertip memang susah. Akhirnya tanpa kemunafikan, saya mengakui saya belum mampu melakukannya. Ya sudah lah, dengerin lagu-lagu koleksi di komputer saja, toh semua bukan gratisan. Ada beberapa puluh lagu yang saya beli secara legal dari CD yang kemudian saya ripping ke dalam format mp3.

Saya tidak memiliki bakat untuk memainkan alat musik. Mendengarkan musik bagi saya adalah suatu cara mengungkapkan perasaan di dalam kesunyian batin. Biasanya saya hanya diam saja mendengarkan musik, tidak ikut menyanyikan liriknya, karena saya menyadari bahwa suara saya sangat-sangat tidak merdu untuk diperdengarkan. Sama sekali fales total, apalagi untuk suara-suara tinggi. Untuk beberapa suara rendah memang kadang –cuma kadang—agak terdengar bagus sedikit saja. Sekalipun hanya diam, tapi sebenarnya di dalam batin meronta-ronta berteriak-teriak tidak karuan mengikuti alunan musik dan vokal. Sungguh saya sangat berharap sekali saya bisa memainkan instrumen musik dan bernyanyi dengan lantang. Boleh kan berharap? Kalau tidak terkabul kan sudah biasa. Syukur-syukur suatu hari nanti saya memiliki anak cucu yang memiliki bakat dalam seni musik. Ketidakmampuan saya saat ini adalah tirakat untuk keberhasilan anak cucu, semoga saja begitu, Tuhan memberi kehendak yang tepat.

Ketika mendengarkan musik favorit, saya menyadari saya tidak bisa mendengarkannya sambil melakukan hal lain. Misal sambil bekerja yang bagi sebagian besar orang merasa nyaman, bagi saya malah sebaliknya, pekerjaan saya akan terganggu, karena saya akan lebih fokus mendengarkan musik.

Di dalam komputer, saya memiliki ribuan lagu yang tidak mungkin saya mampu mendengarkan semuanya. Kadang saya berpikir apakah mungkin saya bisa mendengarkan semua lagu koleksi saya dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak harus menunggu lama sekali untuk menikmatinya. Istilahnya saya ingin mampu melipat ruang dan waktu.

Di dalam khazanah dunia sufistik, banyak diceritakan bagaimana para wali Allah, diberikan ijin oleh Allah untuk melipat ruang dan waktu. Dengan kemampuan melipat ruang dan waktu mereka dapat melakukan berbagai hal dalam waktu yang sangat singkat sekali. Mereka dapat menempuh perjalanan mengelilingi Bumi dalam beberapa saat saja. Mereka mampu membaca satu Quran penuh hingga katam dalam satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.

Dalam bahasa modern melipat ruang dan waktu bisa diartikan masuk ke dalam interval jeda waktu antara detik satu dengan detik berikutnya, menit satu dengan menit berikutnya, jam satu dengan jam berikutnya. Dengan memasuki interval jeda waktu, satu detik bisa terasa seperti satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan berhenti sama sekali bagi mereka yang mengalami.

Pernah ingat bukan film seri yang diputar di Indosiar pada sekitar tahun 1999 – 2000 yang berjudul “Honey, I Shrunk the Kids”, di salah satu episodenya Wayne menciptakan alat untuk mempercepat gerakan sehingga bisa ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Suatu ketika alat itu rusak dan Wayne terjebak di dalam interval jeda waktu satu detik yang menjadi berhenti sama sekali, dan Wayne hilang dari dunia nyata, padahal dia tidak ke mana-mana. Wayne melihat semua yang di sekitarnya berhenti.

Tapi itu kan cuma film fiksi ilmiah. Yah ya tidak apa-apa.

Di sisi lain dari kemampuan ini, wali-wali Allah adalah orang-orang pilihan yang sangat rendah hatinya, sangat menyadari bahwa mereka walau memiliki kedudukan tinggi di sisi Tuhan, tapi sebenarnya mereka bukan apa-apa. Biasanya ketika mendapat kemampuan seperti itu, mereka akan merasa sangat malu kepadaNya.

Jadi sebenarnya saya hanya membayangkan saja, dan agak berharap saya bisa melipat ruang dan waktu untuk mendengarkan musik. Tapi agak menggelikan juga sih, mereka wali-wali Allah yang diberi kemampuan malah malu kepadaNya, sedangkan saya sangat kotor sekali, malah mencari-cari hal seperti itu apalagi mencarinya untuk melakukan hal-hal pribadi saja, yang bagi orang modern itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Akhir pekan ini saya pulang ke Yogya, tiba di rumah, saya langsung memutar lagu-lagu yang saya angankan untuk didengarkan selama seminggu ini. Wah! Rasanya seperti pertama mendengarkan lagu-lagu itu. Dan pastinya langsung menulis tulisan ini.

Tiang Peradaban

00012123
http://www.wowkeren.com/images/news/00012123.jpg

“Menikah adalah tiang peradaban.”

“Kata Soe Hok Gie, pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”

“Itu pernikahan dalam arti sempit. Pernikahan bukan hanya soal kebutuhan seksual saja.”

“Lalu apa pernikahan dalam arti luas.”

“Sebenarnya aku tidak terlalu paham juga sieh… Haha. Tapi akan kucoba untuk keluarkan apa terbesit di pikiranku yang merupakan buah dari hati, yang akhir-akhir ini agak mengangguku.

Pernikahan dalam arti luas adalah seperti petani yang bertani di sawahnya, maka didapatkan lah hasil bumi. Di sini petani berperan sebagai suami dan sawah sebagai istri, dan hasil bumi adalah peradaban itu sendiri.”

“Hmmm… Aku bukan petani, bisa kasih contoh yang lain.”

“Dasar rewel… Haha… Tapi baiklah. Pernikahan arti luas dalam bentuk lain adalah seperti pemerintah yang menikah dengan rakyat, maka lahirlah negara. Pemerintah adalah suami dan rakyat adalah istri, dan negara adalah anak.

Dalam sudut pandang lain, pernikahan adalah untuk menjaga keseimbangan alam. Seperti Yin dan Yang, aku tidak terlalu paham juga sih tapi setidaknya keduanya adalah keseimbangan. Tidak mungkin keseimbangan terwujud hanya dengan –misal– Yin dan Yin. Harus ada keduanya, panas – dingin, lelaki – perempuan, siang – malam, atas – bawah, kanan – kiri, dan lain-lain sebagainya. Semua di alam semesta ini menikah dari dua hal yang memiliki karakter berbeda dan berlawanan, karena perbedaan itu lah mereka saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan masing-masing.

Dari sudut pandang ini lah, mengenai pernikahan manusia, aku tidak setuju dengan pernikahan sesama jenis kelamin. Karena menurut ku itu meruntuhkan keseimbangan alam. Entah keseimbangan apa. Terlepas dari problematika mereka kenapa bisa tertarik dengan sejenis. Aku tidak mencela mereka dan tidak mendukung mereka, karena ini merupakan issue yang sensitif sekali.”

“Haha… Penjelasanmu terlalu ngelantur. Bisa kita persempit saja soal pernikahan laki-laki dan perempuan saja? Dan ehhh… Sejak kapan kamu punya pemikiran kayak gini? Bukan sejak 2 minggu yang lalu kan?”

“Haha… Asyuuu koe. Yah sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini, dan yah memang sih akibat 2 minggu yang lalu itu aku jadi lebih memikirkan lebih mendalam lagi. Tapi enggak ada unsur baper-nya. Kalau pun ada juga gak apa-apa kan? Manusia jeeee… Bukan robot.”

***

Original post saya ambil dari Tumblr saya: http://pemainluarpagar.tumblr.com/post/139053092828/19

Merokok

IMG_20160512_192448
https://www.instagram.com/p/BFTp5DTHwMc/?taken-by=mattmegavoice

Sebelum saya memutuskan untuk merokok, saya memastikan diri saya tidak terpengaruh oleh siapa pun. Pertama kali merokok sekitar dua tahun yang lalu ketika, saya datang ke proyek konstruksi bangunan di suatu daerah di pulau seberang, di mana seorang mandor membelikan saya dua bungus rokok kretek hamper setiap satu atau dua minggu sekali. Waktu itu saya tidak merokok setiap hari, hanya sesekali saja, sisanya saya berikan kepada teman-teman saya.

Seiring dengan waktu yang berjalan, masa kerja di sana selesai, dan saya kembali ke tanah Kerajaan Ngayogyakarta. Saya masih belum merokok dengan pasti, mungkin hanya sesekali saja ketika ada kawan yang menawari. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah sebelumnya selama hidup bertahun-tahun walau saya tidak pernah merokok, saya tidak pernah menolak rokok sama sekali. Saya tidak menolak dan tidak menerimanya.

Kemudian saya pelan-pelan mempelajari sejarah rokok di Indonesia. Saya menemukan perbedaan mendasar antara rokok Indonesia dengan rokok import. Rokok Indonesia yang dimaksud tentu adalah rokok kretek Nusantara. Berdasarkan data yang saya baca, kretek pertama kali ditemukan digunakan sebagai obat oleh seorang Haji yang merasa kesakitan dengan tubuhnya kemudian menemukan metode penyembuhan dengan membakar tembakau yang kemudian dihisapnya, sehingga ia sembuh setelah menghisap tembakau itu yang dilinting.

Saya teringat ucapan Markesot, bahwa rokok itu tidak perlu dilarang-larang apalagi dianjurkan. Silahkan setiap orang mempertimbangkan tubuh mereka sendiri, apakah tubuh mereka kuat atau tidak ketika merokok. Jika kuat merokoklah, silahkan. Jika tidak kuat merokok maka tinggalkan saja rokok, tanpa perlu harus mencela para perokok.

Mempertimbangkan hal-hal di atas, akhirnya saya memutuskan untuk merokok saja. Dan saya merokok kretek bukan rokok import putih.

Secara resmi saya baru saja merokok kretek sejak tanggal 17 April 2016. Sejak hari itu saya merokok setiap hari, tapi tetap mengingat batas, bahwa saya tidak mampu menikmati rokok lebih dari tiga batang sehari.

Hingga sampai saat ini saya tidak pernah merasa kecanduan rokok kretek, apalagi di bulan puasa ini, di waktu puasa saya tidak merokok dan tidak merasa menderita sama sekali, seperti yang diberitakan bahwa rokok (kretek) bikin kecanduan. Ini kretek lho, kalau rokok putih saya tidak tahu wong saya tidak suka, walau kadang mau kalau ada teman yang menawari.