Ulangan (1)

Seperti biasa setiap selasa pagi, saya membeli koran Kedaultan Rakyat, dan hanya saya baca rubrik Wedang Uwuh-nya saja. Selebihnya sisa kertas saya sedekahkan, tepatnya saya letakan begitu saja, entah siapa yang akan memungutnya.

Pekan lalu, saya tidak mengikuti rubrik Wedang Uwuh, tiba-tiba pekan ini sampai pada sebuah kisah bahwa beberapa puluh tahun yang lalu di Yogya, sebelah barat perempatan jalan Wirobrajan, sisi selatan jalan, ada sebuah angkringan yang dikelola oleh mbah Wongso namanya.

Mbah Wongso adalah seorang yang (saya menyimpulkan dari tulisan ini) seorang yang Tuhan katakan “Kun, fayakun”. Begitu Tuhan menciptakan mbah Wongso “Jadilah” maka berlangsunglah mbah Wongso sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan bagai air yang mengalir.

Ketika membaca kisah mbah Wongso ini, saya menangkap, seolah mbah Wongso adalah seseorang yang tidak mengalami momen sabar atau bersyukur. Malah mungkin mbah Wongso sama sekali tidak tahu konsep sabar dan syukur. Dia hanya tahu tentang menjalani kehidupan dengan ikhlas saja. Bahkan mungkin mbah Wongso tidak peduli dengan kata ikhlas juga.

Orientasi dagangannya bukan bisnis. Untung rugi tetap diperhatikan tapi bukan fokus utama. Fokus utamanya melayani orang-orang yang ingin mengganjal perut mereka dan menjalani darma yang Tuhan tugaskan kepadanya. Kalau pembeli makan tempe lima, dan bilangnya makan dua, mbah Wongso tidak akan mempermasalahkannya.

“Mbah wongso bukan kapitalis, Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.” Demikian sedikit saya kutip satu kalimat dari tulisan di rubrik Wedang Uwuh hari ini selasa 4 April 2017.

Advertisements

Embraced by Words Into the Silence

Radiohead’s Ok Computer Artworks

Kata-kata adalah sesuatu yang mengherankan. Bagaimana jutaan orang bisa tersihir dengan kata-kata? Di balik kata-kata ada huruf-huruf yang menyusunnya. Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan seterusnya hingga membentuk berbagai macam bentuk buku, undang-undang, peraturan, surat, bahkan tulisan ini.

Jutaan tulisan mempengaruhi pikiran manusia. Bagaimana manusia bisa patuh kepada jutaan tulisan itu yang sebenarnya cuma berasal dari huruf yang lemah dan papa, tak sanggup melukai secara fisik tapi mampu menghancurkan secara mental.

Orang-orang bertengkar karena sebuah keputusan yang tertuang dalam susunan huruf dan kata yang tertata ke dalam selembar kertas. Padahal itu Cuma selembar kertas yang belum diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tentu sebenarnya semua itu bisa dilanggar kalau semua orang sepakat untuk melanggarnya.

Seorang pengendara tanpa SIM dan STNK takut pada selembar kertas yang dikeluarkan petugas polisi lalu lintas. SIM dan STNK itu juga hanya susunan huruf dan kata, lembaran kertas dari pak polisi juga Cuma susunan huruf dan kata. Kenapa bisa dipatuhi?

Kutu buku sangat percaya pada apa yang dibacanya padahal apa yang dibaca belum tentu benar. Ada hal-hal tentang ilmu pengetahuan yang tidak bisa menempel di atas kertas. Apakah hal-hal itu? Salah satunya dalah citarasa. Citarasa tidak dapat menempel di atas kertas. Kau mungkin kutu buku yang membaca ribuan buku yang seolah membuatmu merasa pintar dan tahu segalanya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan cita rasa dari jutaan buku yang kau baca.

Tidak usah buku. Kitab suci saja, sesuci-sucinya, sedalam apa pun kau menghayatinya, belum tentu kau akan mendapatkan cita rasanya.

Bahwa tulisan-tulisan yang merefleksikan ilmu belum tentu tertuang di buku dan kertas. Bukan hanya kadang tapi Tuhan selalu memberikan ilmu ke dalam berbagai bentuk. Suara angin adalah tulisan yang bergerak dan hidup. Suara gonggongan anjing tetangga yang berisik juga merupakan suatu tulisan tanpa huruf dan kata.

Aku bukan pembaca buku berat, dan tidak terlalu percaya pada isi buku. Memang buku itu penting untuk merekam segala hal yang otak manusia tidak mampu menampungnya dan mengingatnya. Seperti pepatah China, tinta paling kabur masih lebih baik dari ingatan paling kuat. Lalu bagaimana jika semua buku dibakar? Tentu semua akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Melipat Ruang dan Waktu

636005841607656170-64416323_fast-forward
https://www.theodysseyonline.com/concept-time

Selama satu minggu ini saya bekerja di luar Yogya. Berangkat pagi dan pulang sore setelah berbuka puasa di kantin basement Hotel. Sampai di kos badan sudah lelah, biasanya langsung bleg tidur lelap, atau menikmati dulu satu atau dua batang kretek sebentar untuk mengolah nafas agar tidak terlalu lelah (Merokok untuk mengolah nafas?! Dunia kesehatan bisa marah ini! Haha…) Tapi umumnya tidak sempat untuk menghibur diri, bahkan hanya untuk mendengarkan satu atau dua lagu favorit. Ya bisa mendengarkan, tapi langsung ketiduran dan bermimpi indah.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis di blog ini juga tentang keinginan saya untuk tidak lagi mendengarkan musik gratisan demi menghargai karya seni musik yang sudah susah-susah ditulis dan digubah oleh para musisi. Dalam hal ini saya memilih layanan musik Spotify, dengan biaya sekitar Rp 49.990 per bulan. Setelah sekitar satu bulan berlangganan, saya merasa berat melanjutkan pembayaran. Menjadi orang yang baik dan tertip memang susah. Akhirnya tanpa kemunafikan, saya mengakui saya belum mampu melakukannya. Ya sudah lah, dengerin lagu-lagu koleksi di komputer saja, toh semua bukan gratisan. Ada beberapa puluh lagu yang saya beli secara legal dari CD yang kemudian saya ripping ke dalam format mp3.

Saya tidak memiliki bakat untuk memainkan alat musik. Mendengarkan musik bagi saya adalah suatu cara mengungkapkan perasaan di dalam kesunyian batin. Biasanya saya hanya diam saja mendengarkan musik, tidak ikut menyanyikan liriknya, karena saya menyadari bahwa suara saya sangat-sangat tidak merdu untuk diperdengarkan. Sama sekali fales total, apalagi untuk suara-suara tinggi. Untuk beberapa suara rendah memang kadang –cuma kadang—agak terdengar bagus sedikit saja. Sekalipun hanya diam, tapi sebenarnya di dalam batin meronta-ronta berteriak-teriak tidak karuan mengikuti alunan musik dan vokal. Sungguh saya sangat berharap sekali saya bisa memainkan instrumen musik dan bernyanyi dengan lantang. Boleh kan berharap? Kalau tidak terkabul kan sudah biasa. Syukur-syukur suatu hari nanti saya memiliki anak cucu yang memiliki bakat dalam seni musik. Ketidakmampuan saya saat ini adalah tirakat untuk keberhasilan anak cucu, semoga saja begitu, Tuhan memberi kehendak yang tepat.

Ketika mendengarkan musik favorit, saya menyadari saya tidak bisa mendengarkannya sambil melakukan hal lain. Misal sambil bekerja yang bagi sebagian besar orang merasa nyaman, bagi saya malah sebaliknya, pekerjaan saya akan terganggu, karena saya akan lebih fokus mendengarkan musik.

Di dalam komputer, saya memiliki ribuan lagu yang tidak mungkin saya mampu mendengarkan semuanya. Kadang saya berpikir apakah mungkin saya bisa mendengarkan semua lagu koleksi saya dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak harus menunggu lama sekali untuk menikmatinya. Istilahnya saya ingin mampu melipat ruang dan waktu.

Di dalam khazanah dunia sufistik, banyak diceritakan bagaimana para wali Allah, diberikan ijin oleh Allah untuk melipat ruang dan waktu. Dengan kemampuan melipat ruang dan waktu mereka dapat melakukan berbagai hal dalam waktu yang sangat singkat sekali. Mereka dapat menempuh perjalanan mengelilingi Bumi dalam beberapa saat saja. Mereka mampu membaca satu Quran penuh hingga katam dalam satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.

Dalam bahasa modern melipat ruang dan waktu bisa diartikan masuk ke dalam interval jeda waktu antara detik satu dengan detik berikutnya, menit satu dengan menit berikutnya, jam satu dengan jam berikutnya. Dengan memasuki interval jeda waktu, satu detik bisa terasa seperti satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan berhenti sama sekali bagi mereka yang mengalami.

Pernah ingat bukan film seri yang diputar di Indosiar pada sekitar tahun 1999 – 2000 yang berjudul “Honey, I Shrunk the Kids”, di salah satu episodenya Wayne menciptakan alat untuk mempercepat gerakan sehingga bisa ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Suatu ketika alat itu rusak dan Wayne terjebak di dalam interval jeda waktu satu detik yang menjadi berhenti sama sekali, dan Wayne hilang dari dunia nyata, padahal dia tidak ke mana-mana. Wayne melihat semua yang di sekitarnya berhenti.

Tapi itu kan cuma film fiksi ilmiah. Yah ya tidak apa-apa.

Di sisi lain dari kemampuan ini, wali-wali Allah adalah orang-orang pilihan yang sangat rendah hatinya, sangat menyadari bahwa mereka walau memiliki kedudukan tinggi di sisi Tuhan, tapi sebenarnya mereka bukan apa-apa. Biasanya ketika mendapat kemampuan seperti itu, mereka akan merasa sangat malu kepadaNya.

Jadi sebenarnya saya hanya membayangkan saja, dan agak berharap saya bisa melipat ruang dan waktu untuk mendengarkan musik. Tapi agak menggelikan juga sih, mereka wali-wali Allah yang diberi kemampuan malah malu kepadaNya, sedangkan saya sangat kotor sekali, malah mencari-cari hal seperti itu apalagi mencarinya untuk melakukan hal-hal pribadi saja, yang bagi orang modern itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Akhir pekan ini saya pulang ke Yogya, tiba di rumah, saya langsung memutar lagu-lagu yang saya angankan untuk didengarkan selama seminggu ini. Wah! Rasanya seperti pertama mendengarkan lagu-lagu itu. Dan pastinya langsung menulis tulisan ini.

Tiang Peradaban

00012123
http://www.wowkeren.com/images/news/00012123.jpg

“Menikah adalah tiang peradaban.”

“Kata Soe Hok Gie, pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”

“Itu pernikahan dalam arti sempit. Pernikahan bukan hanya soal kebutuhan seksual saja.”

“Lalu apa pernikahan dalam arti luas.”

“Sebenarnya aku tidak terlalu paham juga sieh… Haha. Tapi akan kucoba untuk keluarkan apa terbesit di pikiranku yang merupakan buah dari hati, yang akhir-akhir ini agak mengangguku.

Pernikahan dalam arti luas adalah seperti petani yang bertani di sawahnya, maka didapatkan lah hasil bumi. Di sini petani berperan sebagai suami dan sawah sebagai istri, dan hasil bumi adalah peradaban itu sendiri.”

“Hmmm… Aku bukan petani, bisa kasih contoh yang lain.”

“Dasar rewel… Haha… Tapi baiklah. Pernikahan arti luas dalam bentuk lain adalah seperti pemerintah yang menikah dengan rakyat, maka lahirlah negara. Pemerintah adalah suami dan rakyat adalah istri, dan negara adalah anak.

Dalam sudut pandang lain, pernikahan adalah untuk menjaga keseimbangan alam. Seperti Yin dan Yang, aku tidak terlalu paham juga sih tapi setidaknya keduanya adalah keseimbangan. Tidak mungkin keseimbangan terwujud hanya dengan –misal– Yin dan Yin. Harus ada keduanya, panas – dingin, lelaki – perempuan, siang – malam, atas – bawah, kanan – kiri, dan lain-lain sebagainya. Semua di alam semesta ini menikah dari dua hal yang memiliki karakter berbeda dan berlawanan, karena perbedaan itu lah mereka saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan masing-masing.

Dari sudut pandang ini lah, mengenai pernikahan manusia, aku tidak setuju dengan pernikahan sesama jenis kelamin. Karena menurut ku itu meruntuhkan keseimbangan alam. Entah keseimbangan apa. Terlepas dari problematika mereka kenapa bisa tertarik dengan sejenis. Aku tidak mencela mereka dan tidak mendukung mereka, karena ini merupakan issue yang sensitif sekali.”

“Haha… Penjelasanmu terlalu ngelantur. Bisa kita persempit saja soal pernikahan laki-laki dan perempuan saja? Dan ehhh… Sejak kapan kamu punya pemikiran kayak gini? Bukan sejak 2 minggu yang lalu kan?”

“Haha… Asyuuu koe. Yah sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini, dan yah memang sih akibat 2 minggu yang lalu itu aku jadi lebih memikirkan lebih mendalam lagi. Tapi enggak ada unsur baper-nya. Kalau pun ada juga gak apa-apa kan? Manusia jeeee… Bukan robot.”

***

Original post saya ambil dari Tumblr saya: http://pemainluarpagar.tumblr.com/post/139053092828/19

Merokok

IMG_20160512_192448
https://www.instagram.com/p/BFTp5DTHwMc/?taken-by=mattmegavoice

Sebelum saya memutuskan untuk merokok, saya memastikan diri saya tidak terpengaruh oleh siapa pun. Pertama kali merokok sekitar dua tahun yang lalu ketika, saya datang ke proyek konstruksi bangunan di suatu daerah di pulau seberang, di mana seorang mandor membelikan saya dua bungus rokok kretek hamper setiap satu atau dua minggu sekali. Waktu itu saya tidak merokok setiap hari, hanya sesekali saja, sisanya saya berikan kepada teman-teman saya.

Seiring dengan waktu yang berjalan, masa kerja di sana selesai, dan saya kembali ke tanah Kerajaan Ngayogyakarta. Saya masih belum merokok dengan pasti, mungkin hanya sesekali saja ketika ada kawan yang menawari. Tapi yang perlu menjadi catatan adalah sebelumnya selama hidup bertahun-tahun walau saya tidak pernah merokok, saya tidak pernah menolak rokok sama sekali. Saya tidak menolak dan tidak menerimanya.

Kemudian saya pelan-pelan mempelajari sejarah rokok di Indonesia. Saya menemukan perbedaan mendasar antara rokok Indonesia dengan rokok import. Rokok Indonesia yang dimaksud tentu adalah rokok kretek Nusantara. Berdasarkan data yang saya baca, kretek pertama kali ditemukan digunakan sebagai obat oleh seorang Haji yang merasa kesakitan dengan tubuhnya kemudian menemukan metode penyembuhan dengan membakar tembakau yang kemudian dihisapnya, sehingga ia sembuh setelah menghisap tembakau itu yang dilinting.

Saya teringat ucapan Markesot, bahwa rokok itu tidak perlu dilarang-larang apalagi dianjurkan. Silahkan setiap orang mempertimbangkan tubuh mereka sendiri, apakah tubuh mereka kuat atau tidak ketika merokok. Jika kuat merokoklah, silahkan. Jika tidak kuat merokok maka tinggalkan saja rokok, tanpa perlu harus mencela para perokok.

Mempertimbangkan hal-hal di atas, akhirnya saya memutuskan untuk merokok saja. Dan saya merokok kretek bukan rokok import putih.

Secara resmi saya baru saja merokok kretek sejak tanggal 17 April 2016. Sejak hari itu saya merokok setiap hari, tapi tetap mengingat batas, bahwa saya tidak mampu menikmati rokok lebih dari tiga batang sehari.

Hingga sampai saat ini saya tidak pernah merasa kecanduan rokok kretek, apalagi di bulan puasa ini, di waktu puasa saya tidak merokok dan tidak merasa menderita sama sekali, seperti yang diberitakan bahwa rokok (kretek) bikin kecanduan. Ini kretek lho, kalau rokok putih saya tidak tahu wong saya tidak suka, walau kadang mau kalau ada teman yang menawari.

Google

 

nexus-5-35828372-6361
http://www.cnet.com/products/google-nexus-5/

Di salah satu artikel Hibwee, saya mengomentari tentang usulan ICMI kepada Pengelola (maksud saya Pemerintah, tapi saya tidak suka kata ‘Pemerintah’ maka saya ganti ‘Pengelola Negara’). Tentang usulan pemblokiran Google. Komentar saya sama seperti status saya kemarin malam di Fesbuk ini: “Memblokir Google sama saja dengan memblokir Operating System Android yang tertanam di hampir setiap smartphone.”

Kemudian ada yang komentar, yang diblokir itu cuma Google search engine, bro, bukan operating system. Saya cuma menjawab singkat saja, default search engine di Android adalah Google. Malas menjawab panjang untuk menghindari perdebatan pengecut di dunia maya.

Sebenarnya saya bisa saja menjawab seperti ini. Bagaimana mungkin pemerintah -eh maksud saya pengelola- mau memblokir Google, sementara Google itu memuat PlayStore yang merupakan gudangnya segala macam aplikasi yang digunakan untuk OS Android? Google memuat Gmail, Drive, Maps, Documents, Blog dan lain sebagainya. Jika Anda membuka Google dot com tentu saja tidak hanya search engine yang muncul kan? Di pojok kanan atas itu ada kotak-kotak kecil yang memuat layanan Google yang lain.

***

Di dunia gadget (Mobile OS) terdapat banyak OS (Operating System), yang paling umum dikenal adalah iOS, Windows Mobile, Blackberry dan Android.

Android adalah Operating System (OS) yang digunakan oleh sebagian besar smartphone, Android bukan lah smartphone atau hp itu sendiri. Android dikembangkan oleh Google dan Google memberikan OSnya kepada pembuat-pembuat smartphone seperti Samsung, Sony, HTC, Asus dan merek lainnya. Kemudian pembuat smartphone memodifikasi OS itu sesuai kebutuhan masing-masing merek.

Pure Android tanpa modifikasi dibuat oleh merek Nexus. Nexus adalah merek smartphone yang dibuat Google bekerja sama dengan beberapa manufactures.

Nexus One oleh Google & HTC; Nexus S oleh Google & Samsung; Galaxy Nexus oleh Google & Samsung; Nexus 4 oleh Google & LG; Nexus 5 oleh Google & LG; Nexus 6 oleh Google & Motorola; Nexus 5X oleh Google & LG; Nexus 6P oleh Google & Huawei.

Agak lucu juga ketika orang pergi ke toko hp mau beli Android. Karena Andorid bukan hp itu sendiri. Seperti zaman dulu ketika orang-orang desa melihat sepeda motor dan mereka menyebutnya Honda.

Pulang

19237144126_1eeff20eee_b
Source: https://c1.staticflickr.com/1/264/19237144126_1eeff20eee_b.jpg

Hal paling menyenangkan dalam hidup ini adalah pulang. Entah itu pulang ke rumah, pulang ke kontrakan, pulang ke kos, pulang ke apartemen atau pulang ke hadirat Tuhan. Setiap orang memiliki rumahnya masing-masing.

Kau mungkin sangat exciting sekali melakukan perjalanan jauh, pergi berlibur ke Negara lain, pergi haji, travelling, liburan ke Hawaii, mendapat beasiswa untuk kuliah di luar Negara. Tapi semua kebahagiaan yang kau rasakan saat berangkat akan kalah dengan kebahagiaan yang kau rasakan saat pulang ke kampung halaman.

Agak berat jika topik ini diarahkan ke arah kepulangan hakiki, yaitu menuju ke kehidupan berikutnya. Pada hakikatnya orang yang meninggal dunia adalah orang yang pulang ke rumah asalnya. Bumi tempat kita hidup ini hanyalah rumah sementara. “Urip mung mampir ngombe”, kata bijak Jawa.

Mungkin, bukan mungkin, tapi pasti banyak orang di dunia yang tidak percaya pada kehidupan berikutnya. Setelah mati ya sudah tidak ada apa-apa. Selesai semua urusan. Saya tidak akan memperdebatkan mengenai hal-hal seperti itu, antara orang percaya dan tidak percaya pada kehidupan berikutnya. Karena tidak akan selesai untuk diperdebatkan. Silahkan setiap orang meyakini apa yang diyakininya. Tidak ada paksaan. Toh kita semua sama-sama spekulatif mengenai keyakinan itu.

Setiap sore ketika pulang kerja, saya merasakan ketenangan menuju rumah. Rasa yang tidak bisa saya pungkiri dan membuat saya menikmati setiap momen kepulangan. Udara yang dingin atau panas, matahari sore yang indah, orang-orang yang lewat dan segala macam hal yang terlihat oleh mata.

Di sisi lain, mungkin ada sebagian orang yang tidak bahagia ketika pulang ke rumah. Selalu ada kasus yang berbeda bagi setiap orang. Bisa jadi karena kehidupan rumahnya tidak menyenangkan, banyak percecokan dan di ambang keambrukan. Pada paragraf pertama tulisan ini saya menulis bahwa pulang itu bisa ke mana saja, tidak melulu ke rumah tempat kau dibesarkan.

Home is where your heart belongs.”

Diam-diam setiap orang merindukan tempat ia berasal.

“Pulangkan aku ke orangtuaku, mas!”  kata seorang isteri kepada suaminya. Hmm, ini jenis kepulangan yang sangat menyakitkan.