Markesot (Bagian 1)

Pak Nevi Budianto

Gerombolan Gentho itu sering datang ke berbagai tempat di Nusantara, merusak jadwal biologis jam tidur manusia pada umumnya. Selain merusak jam biologis, Genk Gentho itu juga sering merusak pemikiran-pemikiran manusia dan memporakporandakan apa yang selama ini telah disepakati oleh umumnya manusia. Orang-orang dari berbagai lapisan khususnya masyarakat bawah yang sering terinjak-injak oleh orang-orang besar yang berkuasa secara politik dan ekonomi, datang menghampiri Genk Gentho yang suka menabuh dan membuat kebisingan musik semalaman. Tidak diketahui mengapa rakyat jelata mendatangi Gentho-Gentho yang berasal dari sebuah Kerajaan yang masih eksis tapi sekarat di Bumi Nusantara.

Apa yang rakyat jelata cari? Hiburan? Curian sandal? Solusi pemecahan masalah? Lelucon? Pendidikan? Atau pengajian? Apa pengajian? Tentu saja bukan, Gentho-Gentho itu memainkan musik! Bukan melantunkan ayat-ayat Tuhan secara tekstual. Entahlah, tetapi yang pasti setiap orang membawa niatnya masing-masing.

Gerombolan Gentho itu dipimpin oleh kepala Genk yang merupakan ndas-ndasane dan sumber kekacauan yang sengaja mereka buat.

***

Emha Ainun Nadjib atau biasa yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Nun adalah seorang budayawan yang dianggap memiliki kemampuan multidimensi dan memperoleh berbagai gelar akademis. Di antara gelar-gelar akademis itu adalah Emha Kafir, Emha Sesat, Emha Syiah, Emha Antek Yahudi, Emha Alat Negara, Emha Jawa Sentris dan berbagai gelar akademis lainnya yang mungkin orang lain tidak akan mampu memanggul gelar-gelar luar biasa tersebut. Semakin banyak gelar yang ia peroleh, ia semakin berterimakasih kepada mereka yang memberi gelar-gelar itu.

Saya belum mengenal Emha secara langsung. Di beberapa kesempatan saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengannya. Saya juga bukan bagian dari Maiyah dan tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari suatu komunitas tanpa struktur tersebut yang dirintis oleh Emha dan saya tidak akan pernah mau memasuki lingkaran Maiyah. Jangankan Maiyah, dalam berbagai pengajian atau kajian yang lain saya tidak pernah memasukinya, entah itu sholawatan, acara motivasi, pengajian politik, pengajian teroris dan segala macam tetek bengek lainnya. Saya hanya berada di luar arena. Saya menyebut diri saya sendiri Pemain Luar Pagar. Artinya saya tidak memiliki kredibilitas menulis ini. Jika pun ini saya tulis, ini cuma untuk kegiatan mengasah kemampuan menulis, apakah saya bisa menulis dengan bagus atau tidak.

Banyak orang yang kagum kepada Emha, dan banyak pula yang membencinya. Saya meletakan diri saya tidak pada kedua kubu itu. Saya hanya melihat peran apa yang diperankan oleh Emha di dunia ini dan apa yang ditugaskan kepadanya, mengambil apa yang baik darinya, dan membuang apa yang –mungkin– buruk darinya.

Saya memiliki seorang teman (iya teman), dalam pandangan kawan saya, Emha adalah seorang pemuda yang suka nongkrong di tempat pelacuran dan suka main di surga dunia itu. Dan sampai saat ini pandangan itu terus tertanam di benak kawan saya itu. Sehingga kawan saya itu tidak memandang Emha kecuali dengan agak sinis, tanpa mengetahui kebenarannya, apa yang sebenarnya dilakukan Emha di tempat pelacuran. Saya juga tidak tahu kebenarannya bagaimana, dan rasanya tidak perlu tahu pun tidak perlu, apalagi harus tahu, semakin tidak perlu tahu untuk tahu dan tidak tahu.

Saya teringat kisah-kisah sufi, di mana para sufi sering datang ke tempat pelacuran. Bukan untuk main dengan para pelacur, tapi para sufi melakukan kegiatan penyuluhan, memberi bimbingan kepada pelacur, agar bila mereka pensiun dari pekerjaan itu, mereka siap terjun di masyarakat dan memulai hidup baru tanpa ada guncangan terlalu berarti.

Apa pemuda? Itu berarti puluhan tahun yang lalu, sekarang Emha bukan lagi seorang pemuda, ia sudah berubah menjadi seorang kakek.

Emha memang dikenal agak kontroversial walaupun tidak sekontroversial Gus Dur. Banyak peranyataan-pernyataannya yang membuat orang-orang tercengang. Yang membuat saya heran adalah kenapa orang-orang bisa tercengang, padahal apa yang dikatakan Emha sebenarnya bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah lama terpendam dan dilupakan orang, sehingga ketika Emha mengeluarkannya orang-orang kaget dengan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak kontroversial.

Sebagai contoh, Emha pernah mengatakan dalam suatu forum, bahwa mungkin saja sebenarnya Allah itu bukan bernama Allah. Tapi Sang Pencipta Langit dan Bumi menyebut DiriNya dengan sebutan Allah adalah untuk mempermudah manusia berkomunikasi denganNya. Ini hanya urusan administrasi saja. Maka alangkah baiknya jika umat yang menyembah Pencipta Langit dan Bumi dengan sebutan Allah, tidak marah dan tidak mengklaim bahwa Allah hanya milik mereka ketika di saat yang sama Sang Pencipta Langit dan Bumi memiliki nama-nama lain. Misal orang Jawa menemukan Allah dengan nama Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widi, Sang Hyang Wenang. Di sisi lain, bukankah Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan milyaran planet, bintang, galaksi. Bukankah di planet lain nan jauh di sana, yang memiliki makhluk lain yang tidak pernah kita ketahui wujudnya, bisa jadi Tuhan memperkenalkan diriNya kepada mereka dengan sebutan nama lain yang bukan Allah.

Halah… Contoh case yang saya tulis terlalu melantur dan kepanjangan sehingga saya merasa tulisan ini akan kehilangan esensi objektivitasnya. Maka tidak perlu saya memberi contoh yang lain.

Ini bagian pertama dari tiga seri tulisan berjudul Markesot yang hendak saya tulis. Lalu kenapa judulnya Markesot bukan Emha Ainun Nadjib? Bukankah Markesot adalah sahabat Emha, dan di tulisan ini, saya tidak akan menulis tentang Markesot. Dan bukankah Markesot adalah salah satu judul dari buku “Markesot Bertutur” yang beberapa tahun lalu ditulis oleh Emha?

Dan itu fotonya siapa?

To be continued…

Advertisements

Yogyakarta

IMG_20151210_212242

Membaca sejarah Yogyakarta, masa-masa terberat Yogyakarta adalah saat pemerintahan Sultan Hamengku Buwono II sampai Sultan Hamengku Buwono V. Segala macam pergolakan, pertentangan, perlawanan, kekalahan, kepasrahan, tunduk menjadi satu, sehingga semua itu – seharusnya– menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sekarang lebih dewasa di dalam perpolitikan negara kesatuan Republik Indonesia.

Walaupun terlihat monarki, tapi sesungguhnya Yogyakarta jauh lebih demokratis dari Indonesia. Karena rakyat sendiri yang menentukan kepala daerahnya tanpa pemilu, di mana pemilu hanya ditunggangi kepentingan partai politik, di mana orang-orangnya adalah pilihan parpol.

Seandainya penduduk Yogyakarta berkendak Sultan sekarang yang bertahta untuk turun dari jabatan kepala daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, saya yakin Sultan dengan legowo tidak akan turun, karena secara semena-semena dia mengeluarkan sabda raja yang bertentangan dengan paugeran Kasultanan!

Tiga paragraf di atas adalah tulisan di status Facebook saya sekitar dua tahun yang lalu. Dua tahun yang lalu saya menulis: “Sultan dengan legowo akan turun…” Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Orang yang dianggap Raja itu ternyata haus akan kekuasaan. Tidak seperti yang diperkirakan kebanyakan orang saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, diberitakan bahwa seorang pakar hukum menggugat Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut si penggugat Yogyakarta sangatlah tidak demokratis karena yang bisa menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur hanya Raja saja.

Warga Yogya sangat marah akan hal itu. Memang unik, orang Yogya sangat menikmati demokrasi yang bercampur dengan monarki. Penetapan harga mati. Bukan masalah siapa yang memimpin, tapi bentuknya. Saya sendiri toh tidak sejalan dengan Sultan yang sekarang. Artinya orang Yogya itu marah kalau keistimewaan daerahnya diganggu gugat oleh orang lain, apalagi orang itu bukan orang Yogya. Tapi di sisi lain sebenarnya banyak di antara orang Yogya yang tidak peduli dan tidak mengakui Sultan yang sekarang sebagai Raja.

Silahkan datang menge-cek ke alun-alun, ke orang-orang kecil. Akan ditemukan fakta-fakta unik bahwa sang Raja tidak diakui oleh rakyatnya.

Saya sebenarnya sudah tidak mengakui Sultan yang sekarang sebagai Raja. Dia yang sekarang jadi Gubernur DIY hanya hansip saja yang menjaga pintu Kraton, sedangkan Raja yang sesungguhnya belum muncul. Ya entahlah munculnya dari mana. Karena sejauh yang saya ketahui almarhum Sultan Hamengku Buwono IX yang wafat pada tahun 1988 tidak pernah meninggalkan wasiat siapa penggantinya dan  beliau sudah menyerahkan tahtanya untuk rakyat. Silahkan rakyat yang memilih pemimpin yang sesungguhnya.

Yogya, yang katanya adalah ruh dari Indonesia, kini berada di ujung tanduk kehancuran. Banyak sesepuh yang sudah melihat ini. Hal ditandai dengan adanya Sultan yang tidak memiliki seorang putra untuk menjadi penggantinya. Sedangkan apabila seorang Sultan tidak memiliki anak lelaki, maka tahta seharusnya akan turun ke adiknya. Kasus ini pernah terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V yang digantikan oleh adiknya Gusti Raden Mas Mustojo yang kemudian burgelar menjadi Sultan Hamengku Buwono VI.

Jika pola sejarah memang harus terulang, maka tidak lama lagi akan terjadi pertentangan dan pemberontakan dari dalam Yogyakarta sendiri.

Saya tidak akan memperpanjang tulisan ini, karena saya bukan ahli sejarah, bukan ahli politik, atau bukan apapun. Tulisan ini hanya sekedar ungkapan keprihatinan atas apa yang terjadi di tanah Mataram saat ini.

Satu hal yang perlu menjadi catatan tambahan, saya sebagai penulis blog ini, hanyalah rakyat jelata biasa yang tidak jelas nasabnya, tidak memiliki ikatan darah dengan pihak Kraton, tidak ada warna biru di dalam tubuh saya. Sehingga tidak ada sentimen kepentingan apapun dalam tulisan ini.

Suatu hari kerajaan baru suatu hari akan muncul untuk meneruskan kerajaan yang lama dengan sistem yang baru.

***

Segala macam informasi yang saya terima sangatlah acak sekali. Apa yang ditulis belum benar dan sesuai fakta sekarang dan fakta sejarah.