Ulangan (1)

Seperti biasa setiap selasa pagi, saya membeli koran Kedaultan Rakyat, dan hanya saya baca rubrik Wedang Uwuh-nya saja. Selebihnya sisa kertas saya sedekahkan, tepatnya saya letakan begitu saja, entah siapa yang akan memungutnya.

Pekan lalu, saya tidak mengikuti rubrik Wedang Uwuh, tiba-tiba pekan ini sampai pada sebuah kisah bahwa beberapa puluh tahun yang lalu di Yogya, sebelah barat perempatan jalan Wirobrajan, sisi selatan jalan, ada sebuah angkringan yang dikelola oleh mbah Wongso namanya.

Mbah Wongso adalah seorang yang (saya menyimpulkan dari tulisan ini) seorang yang Tuhan katakan “Kun, fayakun”. Begitu Tuhan menciptakan mbah Wongso “Jadilah” maka berlangsunglah mbah Wongso sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan bagai air yang mengalir.

Ketika membaca kisah mbah Wongso ini, saya menangkap, seolah mbah Wongso adalah seseorang yang tidak mengalami momen sabar atau bersyukur. Malah mungkin mbah Wongso sama sekali tidak tahu konsep sabar dan syukur. Dia hanya tahu tentang menjalani kehidupan dengan ikhlas saja. Bahkan mungkin mbah Wongso tidak peduli dengan kata ikhlas juga.

Orientasi dagangannya bukan bisnis. Untung rugi tetap diperhatikan tapi bukan fokus utama. Fokus utamanya melayani orang-orang yang ingin mengganjal perut mereka dan menjalani darma yang Tuhan tugaskan kepadanya. Kalau pembeli makan tempe lima, dan bilangnya makan dua, mbah Wongso tidak akan mempermasalahkannya.

“Mbah wongso bukan kapitalis, Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.” Demikian sedikit saya kutip satu kalimat dari tulisan di rubrik Wedang Uwuh hari ini selasa 4 April 2017.

Markesot (Bagian 1)

Pak Nevi Budianto

Gerombolan Gentho itu sering datang ke berbagai tempat di Nusantara, merusak jadwal biologis jam tidur manusia pada umumnya. Selain merusak jam biologis, Genk Gentho itu juga sering merusak pemikiran-pemikiran manusia dan memporakporandakan apa yang selama ini telah disepakati oleh umumnya manusia. Orang-orang dari berbagai lapisan khususnya masyarakat bawah yang sering terinjak-injak oleh orang-orang besar yang berkuasa secara politik dan ekonomi, datang menghampiri Genk Gentho yang suka menabuh dan membuat kebisingan musik semalaman. Tidak diketahui mengapa rakyat jelata mendatangi Gentho-Gentho yang berasal dari sebuah Kerajaan yang masih eksis tapi sekarat di Bumi Nusantara.

Apa yang rakyat jelata cari? Hiburan? Curian sandal? Solusi pemecahan masalah? Lelucon? Pendidikan? Atau pengajian? Apa pengajian? Tentu saja bukan, Gentho-Gentho itu memainkan musik! Bukan melantunkan ayat-ayat Tuhan secara tekstual. Entahlah, tetapi yang pasti setiap orang membawa niatnya masing-masing.

Gerombolan Gentho itu dipimpin oleh kepala Genk yang merupakan ndas-ndasane dan sumber kekacauan yang sengaja mereka buat.

***

Emha Ainun Nadjib atau biasa yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Nun adalah seorang budayawan yang dianggap memiliki kemampuan multidimensi dan memperoleh berbagai gelar akademis. Di antara gelar-gelar akademis itu adalah Emha Kafir, Emha Sesat, Emha Syiah, Emha Antek Yahudi, Emha Alat Negara, Emha Jawa Sentris dan berbagai gelar akademis lainnya yang mungkin orang lain tidak akan mampu memanggul gelar-gelar luar biasa tersebut. Semakin banyak gelar yang ia peroleh, ia semakin berterimakasih kepada mereka yang memberi gelar-gelar itu.

Saya belum mengenal Emha secara langsung. Di beberapa kesempatan saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengannya. Saya juga bukan bagian dari Maiyah dan tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari suatu komunitas tanpa struktur tersebut yang dirintis oleh Emha dan saya tidak akan pernah mau memasuki lingkaran Maiyah. Jangankan Maiyah, dalam berbagai pengajian atau kajian yang lain saya tidak pernah memasukinya, entah itu sholawatan, acara motivasi, pengajian politik, pengajian teroris dan segala macam tetek bengek lainnya. Saya hanya berada di luar arena. Saya menyebut diri saya sendiri Pemain Luar Pagar. Artinya saya tidak memiliki kredibilitas menulis ini. Jika pun ini saya tulis, ini cuma untuk kegiatan mengasah kemampuan menulis, apakah saya bisa menulis dengan bagus atau tidak.

Banyak orang yang kagum kepada Emha, dan banyak pula yang membencinya. Saya meletakan diri saya tidak pada kedua kubu itu. Saya hanya melihat peran apa yang diperankan oleh Emha di dunia ini dan apa yang ditugaskan kepadanya, mengambil apa yang baik darinya, dan membuang apa yang –mungkin– buruk darinya.

Saya memiliki seorang teman (iya teman), dalam pandangan kawan saya, Emha adalah seorang pemuda yang suka nongkrong di tempat pelacuran dan suka main di surga dunia itu. Dan sampai saat ini pandangan itu terus tertanam di benak kawan saya itu. Sehingga kawan saya itu tidak memandang Emha kecuali dengan agak sinis, tanpa mengetahui kebenarannya, apa yang sebenarnya dilakukan Emha di tempat pelacuran. Saya juga tidak tahu kebenarannya bagaimana, dan rasanya tidak perlu tahu pun tidak perlu, apalagi harus tahu, semakin tidak perlu tahu untuk tahu dan tidak tahu.

Saya teringat kisah-kisah sufi, di mana para sufi sering datang ke tempat pelacuran. Bukan untuk main dengan para pelacur, tapi para sufi melakukan kegiatan penyuluhan, memberi bimbingan kepada pelacur, agar bila mereka pensiun dari pekerjaan itu, mereka siap terjun di masyarakat dan memulai hidup baru tanpa ada guncangan terlalu berarti.

Apa pemuda? Itu berarti puluhan tahun yang lalu, sekarang Emha bukan lagi seorang pemuda, ia sudah berubah menjadi seorang kakek.

Emha memang dikenal agak kontroversial walaupun tidak sekontroversial Gus Dur. Banyak peranyataan-pernyataannya yang membuat orang-orang tercengang. Yang membuat saya heran adalah kenapa orang-orang bisa tercengang, padahal apa yang dikatakan Emha sebenarnya bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah lama terpendam dan dilupakan orang, sehingga ketika Emha mengeluarkannya orang-orang kaget dengan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak kontroversial.

Sebagai contoh, Emha pernah mengatakan dalam suatu forum, bahwa mungkin saja sebenarnya Allah itu bukan bernama Allah. Tapi Sang Pencipta Langit dan Bumi menyebut DiriNya dengan sebutan Allah adalah untuk mempermudah manusia berkomunikasi denganNya. Ini hanya urusan administrasi saja. Maka alangkah baiknya jika umat yang menyembah Pencipta Langit dan Bumi dengan sebutan Allah, tidak marah dan tidak mengklaim bahwa Allah hanya milik mereka ketika di saat yang sama Sang Pencipta Langit dan Bumi memiliki nama-nama lain. Misal orang Jawa menemukan Allah dengan nama Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widi, Sang Hyang Wenang. Di sisi lain, bukankah Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan milyaran planet, bintang, galaksi. Bukankah di planet lain nan jauh di sana, yang memiliki makhluk lain yang tidak pernah kita ketahui wujudnya, bisa jadi Tuhan memperkenalkan diriNya kepada mereka dengan sebutan nama lain yang bukan Allah.

Halah… Contoh case yang saya tulis terlalu melantur dan kepanjangan sehingga saya merasa tulisan ini akan kehilangan esensi objektivitasnya. Maka tidak perlu saya memberi contoh yang lain.

Ini bagian pertama dari tiga seri tulisan berjudul Markesot yang hendak saya tulis. Lalu kenapa judulnya Markesot bukan Emha Ainun Nadjib? Bukankah Markesot adalah sahabat Emha, dan di tulisan ini, saya tidak akan menulis tentang Markesot. Dan bukankah Markesot adalah salah satu judul dari buku “Markesot Bertutur” yang beberapa tahun lalu ditulis oleh Emha?

Dan itu fotonya siapa?

To be continued…

Embraced by Words Into the Silence

Radiohead’s Ok Computer Artworks

Kata-kata adalah sesuatu yang mengherankan. Bagaimana jutaan orang bisa tersihir dengan kata-kata? Di balik kata-kata ada huruf-huruf yang menyusunnya. Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan seterusnya hingga membentuk berbagai macam bentuk buku, undang-undang, peraturan, surat, bahkan tulisan ini.

Jutaan tulisan mempengaruhi pikiran manusia. Bagaimana manusia bisa patuh kepada jutaan tulisan itu yang sebenarnya cuma berasal dari huruf yang lemah dan papa, tak sanggup melukai secara fisik tapi mampu menghancurkan secara mental.

Orang-orang bertengkar karena sebuah keputusan yang tertuang dalam susunan huruf dan kata yang tertata ke dalam selembar kertas. Padahal itu Cuma selembar kertas yang belum diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tentu sebenarnya semua itu bisa dilanggar kalau semua orang sepakat untuk melanggarnya.

Seorang pengendara tanpa SIM dan STNK takut pada selembar kertas yang dikeluarkan petugas polisi lalu lintas. SIM dan STNK itu juga hanya susunan huruf dan kata, lembaran kertas dari pak polisi juga Cuma susunan huruf dan kata. Kenapa bisa dipatuhi?

Kutu buku sangat percaya pada apa yang dibacanya padahal apa yang dibaca belum tentu benar. Ada hal-hal tentang ilmu pengetahuan yang tidak bisa menempel di atas kertas. Apakah hal-hal itu? Salah satunya dalah citarasa. Citarasa tidak dapat menempel di atas kertas. Kau mungkin kutu buku yang membaca ribuan buku yang seolah membuatmu merasa pintar dan tahu segalanya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan cita rasa dari jutaan buku yang kau baca.

Tidak usah buku. Kitab suci saja, sesuci-sucinya, sedalam apa pun kau menghayatinya, belum tentu kau akan mendapatkan cita rasanya.

Bahwa tulisan-tulisan yang merefleksikan ilmu belum tentu tertuang di buku dan kertas. Bukan hanya kadang tapi Tuhan selalu memberikan ilmu ke dalam berbagai bentuk. Suara angin adalah tulisan yang bergerak dan hidup. Suara gonggongan anjing tetangga yang berisik juga merupakan suatu tulisan tanpa huruf dan kata.

Aku bukan pembaca buku berat, dan tidak terlalu percaya pada isi buku. Memang buku itu penting untuk merekam segala hal yang otak manusia tidak mampu menampungnya dan mengingatnya. Seperti pepatah China, tinta paling kabur masih lebih baik dari ingatan paling kuat. Lalu bagaimana jika semua buku dibakar? Tentu semua akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Exogenesis (1 – 3)

635059main_hubble033012_full_full
http://www.nasa.gov/sites/default/files/images/635059main_hubble033012_full_full.jpg

Fragment 1

Mengenai sebuah keyakinan dan kepercayaan, saya berusaha keras untuk tidak meributkan keyakinan orang lain, tidak menyinggung mereka yang berbeda dari saya. Entah yang berbeda keyakinan atau orang yang tidak memiliki keyakinan.

Pagi ini setelah sahur, saya menikmati sebatang kretek sambil duduk kedinginan karena pagi ini sedang hujan deras di lereng gunung Merapi. Ketika saya melihat asap kretek, saya merenungkan. Asap ini sesuatu yang terlihat, dapat dirasakan memiliki bayangan tapi tidak bisa disentuh, dipegang, apa lagi ditendang-tendang. Artinya asap adalah sesuatu yang halus. Kemudian dinginya udara pagi membuat saya merenung lagi. Udara ini hanya bisa dirasakan, tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh, tidak bisa dipegang. Artinya udara itu lebih halus daripada asap.

Dari situ saya memperoleh suatu pemahaman sederhana tentang ruh. Bahwa ruh itu adalah sesuatu yang halus. Sangat halus, jauh lebih halus dari apa pun juga. Sehingga keberadaannya tidak bisa diditeksi dengan panca indra. Karena ruh itu sangat halus,saya kira dari situ muncul lah istilah makhluk halus. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kemampuan menditeksi hadirnya ruh.

Mungkin ada sebagian dari teman-teman, saudara-saudara, dan orang-orang yang tidak meyakini adanya ruh. Manusia hanya terdiri fisik dan pikiran, sedangkan ruh itut tidak ada, hanya suatu mitos yang lahir dari agama. Sekali lagi saya katakan saya tidak mempermasalahkan itu bagi mereka yang berbeda pendapat. Saya hanya menuliskan apa yang saya renungkan dan rasakan pagi ini saat menikmati kretek yang dimitoskan dapat membunuhmu.

Fragment 2

Selama ini sejak kecil saya sering berpikir mengenai alam semesta dan tergetun ketika melihat gambar-gambar mengenai langit. Bumi hanya sebuah planet kecil di Tata Surya. Tata surya hanya sebuah system di matahari yang merupakan setitik bintang di galaksi Bimasakti yang memiliki milyaran bintang. Dan Bimasakti adalah setitik galaksi di tengah milyaran galaksi di seluruh alam semesta. Itu baru bagian pertama. Dalam khazanah Islam disebutkan bahwa ada tujuh lapis langit, dan daerah yang memiliki bintang dan planet adalah langit tingkat pertama. Langit tingkat pertama saja sedemikian luas dan besarnya, sedangkan jangkauan manusia belum keluar dari Tata Surya. Manusia baru berhasil menginjakan kakinya di Bulan yang jaraknya 300.000 kilometer dari Bumi.

Lalu bagaimana mungkin saya tidak meyakini adanya Tuhan, sedangkan manusia hanya sebutir hal di jagad raya tanpa batas ini? Tentu dari melihat langit saja, saya sudah yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa ada penguasa Langit dan Bumi, entah mereka mau menyebutNya dengan Tuhan, Allah, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, atau ribuan nama lain di Bumi yang hakikatnya untuk menyebut Dia yang Satu. Sedangkan di planet lain di galaksi yang jauh dari jangkauan manusia, mungkin Dia yang Satu memiliki nama panggilan kemesraan yang berbeda.

Saya pernah berkata kepada salah satu teman saya yang tidak percaya adanya Tuhan, “Kamu boleh meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada kalau kamu bisa membuktikan apa yang ada di ujung jagad raya sana.” Tentu dia memilih tidak percaya saja, daripada capek-capek bikin pesawat ulang alik untuk menjelajah jagad raya.

Walaupun saya berkata demikian bukan berarti Tuhan itu nge-kos di ujung alam semesta. Dia tidak membutuhkan ruang dan waktu dan Dia tidak berada di ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah kekuasaanNya.

Awalnya saya tidak meributkan ketidakpercayaan dia, tapi dia bertanya kepada saya, tentu terpaksa harus saya jawab dong, dengan cara saya yang sederhana saja. Kalau harus pakai teologi dan teori yang njelimet saya tidak mampu.

Fragment 3

“The song tells the story of humanity leaving a destructive Earth behind to populate elsewhere in the Universe.”

Malioboro Bukan Sekedar Tempat Belanja dan Nongkrong

02 Malioboro

Yogyakarta adalah kota pelajar, setiap tahunnya ribuan pelajar datang ke kota ini. Di saat yang sama ribuan pelajar juga meninggalkannya dan sebagian lagi terpaksa harus jatuh hati pada tempat ini. Secara administrasi sebutan kota pelajar adalah sebutan yang agak aneh karena sebagian kampus-kampus ternama tidak terletak di dalam kota Yogya sendiri tapi di wilayah administrasi kabupaten-kabupaten yang mengelilingi kota Yogya.

Banyak tempat menarik di Yogya untuk dikunjungi dan dijadikan tempat nongkrong, terlepas dari issu bahwa kota Yogyakarta tidak memiliki ruang terbuka hijau yang cukup memadai bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, tapi toh orang tetap menikmatinya dan menganggapnya sebagai kota yang nyaman.

Bagi pendatang baru mungkin yang mereka ketahui tentang Yogya adalah Malioboro, Kraton, Pantai atau pun tempat-tempat seru lainnya yang sering dipublikasikan di berbagai media. Bagi mereka yang sudah lama menginap di Yogya, pastinya sudah tahu banyak tempat menarik lainnya. Tapi pernahkah kita sadari bahwa berbagai tempat di Yogya itu memiliki filosofi-filosofi yang unik untuk dipelajari? Pernahkah kitatahu pelajaran apa yang diam-diam diajarkan oleh para pendiri daerah yang masih menganut sistem kerajaan ini?

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari Yogyakarta untuk kita jadikan referensi untuk memotivasi diri kita agar menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Salah satunya adalah tempat yang paling populer yang terletak di jantung kota Yogya, yaitu Malioboro.

Tahukah kita arti nama Malioboro? Atau lebih tepatnya nama jalan yang berada di sumbu filosofi dari Tugu sampai Kraton. Mengutip dari Markesot yang pernah hidup menggelandang di Malioboro selama lima tahun, bahwa nama-nama jalan di sumbu filosofi itu memiliki makna-makna dalam tentang perjalanan hidup seorang manusia.

  1. Margoutomo

Dahulu dari Tugu sampai rel kereta api di sebelah timur stasiun Tugu bernama jalan Margoutomo yang berarti bahwa seorang manusia harus memiliki keutamaan dan pegangan dalam hidupnya, entah itu ilmu, keyakinan agama, pandangan hidup atau pun hal lainnya karena Margoutomo bisa ditafsirkan kepada banyak hal.

  1. Malioboro

Dari rel sampai di perempatan jalan sebelum kampung Ketandan adalah jalan Malioboro, jadilah orang pengembara, melakukan perjalanan untuk menemukan kesejatian dalam hidup. Bukan hanya memiliki ilmu saja yang didapatkan di Margoutomo, tapi seorang manusia harus berani mengeksplorasi diri untuk menemukan potensi diri yang tersimpan dan tersembunyi; kreatifitas, intelektual, dan lain sebagainya.

  1. Margomulyo

Dari perempatan jalan di utara kampung Ketandan sampai perempatan nol kilometer adalah jalan Margomulyo, yang berarti jalan kemuliaan. Setelah melewati tahap-tahap di Margoutomo dan Malioboro seseorang baru akan memperoleh kelebihan dan keistimewaan dari dalam dirinya.

  1. Pangurakan

Dan terakhir dari nol kilometer hingga Alun-Alun Kraton adalah jalan Pangurakan. Seseorang sudah menjadi urakan. Dalam bahasa Jawa “urakan” selama ini memiliki arti –kurang lebih—brutal, terlihat garang, semaunya sendiri. Tapi yang dimaksud urakan di dalam sumbu filosofi yang menghubungkan Tugu dan Kraton adalah seseorang yang mendobrak untuk membuat suatu perubahan ke arah positif.

Pada masa pemerintah Presiden Soeharto nama-nama jalan itu pernah diganti menjadi Jalan Pangeran Mangkubumi (Margoutomo), Jalan Jenderal Ahmad Yani (Margomulyo), dan Jalan Trikora (Pangurakan). Setelah Keistimewaan disahkan pada tahun 2012, nama jalan-jalan tersebut direstorasi menjadi nama aslinya.

Sebagai catatan tambahan agar tidak rancu mengenai Sumbu Filosofi dan Garis Imajiner di Yogyakarta, bahwa yang disebut Sumbu Filosofi adalah garis yang terhubung dari Tugu sampai Kraton, Garis Imajiner adalah garis lurus yang menghubungkan Gunung Merapi ke Tugu hingga Kraton, Panggung Krapyak dan berakhir di Laut Selatan.

***

Pernah dimuat di http://keluarmain.com/malioboro-bukan-sekedar-tempat-belanja-dan-nongkrong-ada-4-hal-yang-bisa-kita-jadikan-pelajaran-hidup/

Melipat Ruang dan Waktu

636005841607656170-64416323_fast-forward
https://www.theodysseyonline.com/concept-time

Selama satu minggu ini saya bekerja di luar Yogya. Berangkat pagi dan pulang sore setelah berbuka puasa di kantin basement Hotel. Sampai di kos badan sudah lelah, biasanya langsung bleg tidur lelap, atau menikmati dulu satu atau dua batang kretek sebentar untuk mengolah nafas agar tidak terlalu lelah (Merokok untuk mengolah nafas?! Dunia kesehatan bisa marah ini! Haha…) Tapi umumnya tidak sempat untuk menghibur diri, bahkan hanya untuk mendengarkan satu atau dua lagu favorit. Ya bisa mendengarkan, tapi langsung ketiduran dan bermimpi indah.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis di blog ini juga tentang keinginan saya untuk tidak lagi mendengarkan musik gratisan demi menghargai karya seni musik yang sudah susah-susah ditulis dan digubah oleh para musisi. Dalam hal ini saya memilih layanan musik Spotify, dengan biaya sekitar Rp 49.990 per bulan. Setelah sekitar satu bulan berlangganan, saya merasa berat melanjutkan pembayaran. Menjadi orang yang baik dan tertip memang susah. Akhirnya tanpa kemunafikan, saya mengakui saya belum mampu melakukannya. Ya sudah lah, dengerin lagu-lagu koleksi di komputer saja, toh semua bukan gratisan. Ada beberapa puluh lagu yang saya beli secara legal dari CD yang kemudian saya ripping ke dalam format mp3.

Saya tidak memiliki bakat untuk memainkan alat musik. Mendengarkan musik bagi saya adalah suatu cara mengungkapkan perasaan di dalam kesunyian batin. Biasanya saya hanya diam saja mendengarkan musik, tidak ikut menyanyikan liriknya, karena saya menyadari bahwa suara saya sangat-sangat tidak merdu untuk diperdengarkan. Sama sekali fales total, apalagi untuk suara-suara tinggi. Untuk beberapa suara rendah memang kadang –cuma kadang—agak terdengar bagus sedikit saja. Sekalipun hanya diam, tapi sebenarnya di dalam batin meronta-ronta berteriak-teriak tidak karuan mengikuti alunan musik dan vokal. Sungguh saya sangat berharap sekali saya bisa memainkan instrumen musik dan bernyanyi dengan lantang. Boleh kan berharap? Kalau tidak terkabul kan sudah biasa. Syukur-syukur suatu hari nanti saya memiliki anak cucu yang memiliki bakat dalam seni musik. Ketidakmampuan saya saat ini adalah tirakat untuk keberhasilan anak cucu, semoga saja begitu, Tuhan memberi kehendak yang tepat.

Ketika mendengarkan musik favorit, saya menyadari saya tidak bisa mendengarkannya sambil melakukan hal lain. Misal sambil bekerja yang bagi sebagian besar orang merasa nyaman, bagi saya malah sebaliknya, pekerjaan saya akan terganggu, karena saya akan lebih fokus mendengarkan musik.

Di dalam komputer, saya memiliki ribuan lagu yang tidak mungkin saya mampu mendengarkan semuanya. Kadang saya berpikir apakah mungkin saya bisa mendengarkan semua lagu koleksi saya dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak harus menunggu lama sekali untuk menikmatinya. Istilahnya saya ingin mampu melipat ruang dan waktu.

Di dalam khazanah dunia sufistik, banyak diceritakan bagaimana para wali Allah, diberikan ijin oleh Allah untuk melipat ruang dan waktu. Dengan kemampuan melipat ruang dan waktu mereka dapat melakukan berbagai hal dalam waktu yang sangat singkat sekali. Mereka dapat menempuh perjalanan mengelilingi Bumi dalam beberapa saat saja. Mereka mampu membaca satu Quran penuh hingga katam dalam satu tarikan nafas. Satu tarikan nafas itu hanya berlangsung kurang dari satu detik.

Dalam bahasa modern melipat ruang dan waktu bisa diartikan masuk ke dalam interval jeda waktu antara detik satu dengan detik berikutnya, menit satu dengan menit berikutnya, jam satu dengan jam berikutnya. Dengan memasuki interval jeda waktu, satu detik bisa terasa seperti satu hari, satu minggu, satu bulan, atau bahkan berhenti sama sekali bagi mereka yang mengalami.

Pernah ingat bukan film seri yang diputar di Indosiar pada sekitar tahun 1999 – 2000 yang berjudul “Honey, I Shrunk the Kids”, di salah satu episodenya Wayne menciptakan alat untuk mempercepat gerakan sehingga bisa ke mana-mana dalam waktu yang singkat. Suatu ketika alat itu rusak dan Wayne terjebak di dalam interval jeda waktu satu detik yang menjadi berhenti sama sekali, dan Wayne hilang dari dunia nyata, padahal dia tidak ke mana-mana. Wayne melihat semua yang di sekitarnya berhenti.

Tapi itu kan cuma film fiksi ilmiah. Yah ya tidak apa-apa.

Di sisi lain dari kemampuan ini, wali-wali Allah adalah orang-orang pilihan yang sangat rendah hatinya, sangat menyadari bahwa mereka walau memiliki kedudukan tinggi di sisi Tuhan, tapi sebenarnya mereka bukan apa-apa. Biasanya ketika mendapat kemampuan seperti itu, mereka akan merasa sangat malu kepadaNya.

Jadi sebenarnya saya hanya membayangkan saja, dan agak berharap saya bisa melipat ruang dan waktu untuk mendengarkan musik. Tapi agak menggelikan juga sih, mereka wali-wali Allah yang diberi kemampuan malah malu kepadaNya, sedangkan saya sangat kotor sekali, malah mencari-cari hal seperti itu apalagi mencarinya untuk melakukan hal-hal pribadi saja, yang bagi orang modern itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Akhir pekan ini saya pulang ke Yogya, tiba di rumah, saya langsung memutar lagu-lagu yang saya angankan untuk didengarkan selama seminggu ini. Wah! Rasanya seperti pertama mendengarkan lagu-lagu itu. Dan pastinya langsung menulis tulisan ini.

Tiang Peradaban

00012123
http://www.wowkeren.com/images/news/00012123.jpg

“Menikah adalah tiang peradaban.”

“Kata Soe Hok Gie, pernikahan adalah pelacuran yang dilegalkan.”

“Itu pernikahan dalam arti sempit. Pernikahan bukan hanya soal kebutuhan seksual saja.”

“Lalu apa pernikahan dalam arti luas.”

“Sebenarnya aku tidak terlalu paham juga sieh… Haha. Tapi akan kucoba untuk keluarkan apa terbesit di pikiranku yang merupakan buah dari hati, yang akhir-akhir ini agak mengangguku.

Pernikahan dalam arti luas adalah seperti petani yang bertani di sawahnya, maka didapatkan lah hasil bumi. Di sini petani berperan sebagai suami dan sawah sebagai istri, dan hasil bumi adalah peradaban itu sendiri.”

“Hmmm… Aku bukan petani, bisa kasih contoh yang lain.”

“Dasar rewel… Haha… Tapi baiklah. Pernikahan arti luas dalam bentuk lain adalah seperti pemerintah yang menikah dengan rakyat, maka lahirlah negara. Pemerintah adalah suami dan rakyat adalah istri, dan negara adalah anak.

Dalam sudut pandang lain, pernikahan adalah untuk menjaga keseimbangan alam. Seperti Yin dan Yang, aku tidak terlalu paham juga sih tapi setidaknya keduanya adalah keseimbangan. Tidak mungkin keseimbangan terwujud hanya dengan –misal– Yin dan Yin. Harus ada keduanya, panas – dingin, lelaki – perempuan, siang – malam, atas – bawah, kanan – kiri, dan lain-lain sebagainya. Semua di alam semesta ini menikah dari dua hal yang memiliki karakter berbeda dan berlawanan, karena perbedaan itu lah mereka saling mengisi kekurangan dan memberi kelebihan masing-masing.

Dari sudut pandang ini lah, mengenai pernikahan manusia, aku tidak setuju dengan pernikahan sesama jenis kelamin. Karena menurut ku itu meruntuhkan keseimbangan alam. Entah keseimbangan apa. Terlepas dari problematika mereka kenapa bisa tertarik dengan sejenis. Aku tidak mencela mereka dan tidak mendukung mereka, karena ini merupakan issue yang sensitif sekali.”

“Haha… Penjelasanmu terlalu ngelantur. Bisa kita persempit saja soal pernikahan laki-laki dan perempuan saja? Dan ehhh… Sejak kapan kamu punya pemikiran kayak gini? Bukan sejak 2 minggu yang lalu kan?”

“Haha… Asyuuu koe. Yah sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini, dan yah memang sih akibat 2 minggu yang lalu itu aku jadi lebih memikirkan lebih mendalam lagi. Tapi enggak ada unsur baper-nya. Kalau pun ada juga gak apa-apa kan? Manusia jeeee… Bukan robot.”

***

Original post saya ambil dari Tumblr saya: http://pemainluarpagar.tumblr.com/post/139053092828/19