Kebocoran Psikologis

Dahulu kala ada seorang Santri yang ingin menempuh jalan sunyi Gurunya.

“Mbah saya selama tiga puluh tahun ini sudah berpuasa di siang hari, dan sholat malam secara tekun. Saya sudah meninggalkan macam-macam keinginan. Tapi kok saya belum pernah menemukan semua yang simbah ceritakan. Padahal sak estu kulo percoyo banget.”

“Walaupun kau sholat selama 300 tahun, kalau keadaanmu seperti sekarang, ora bakal koe entuk opo-opo, cung!”

“Kok saget mbah?”

“Kau tertutup oleh dirimu sendiri!”

“Bagaimana agar saya tidak tertutup oleh diri sendiri?”

“Kau tidak akan mau melakukannya, dan tidak mampu melakukan.”

“Saya akan melakukannya mbah!”

“Oke kalau gitu. Sekarang pergi ke Barbershop terdekat, potong rambutmu dan cukur jenggotmu. Lepas pakaiannmu ini, dan ganti dengan pakaian yang biasa. Bawalah sebuah kantong yang sudah diisi makanan. Lalu kumpulkan anak-anak kecil. Katakan kepada mereka: ‘Ayo siapa berani menamparku, akan kuberi makanan.’ Setelah itu masuklah ke tempat di mana kau biasa dihormati sehingga mereka melihat kekonyolanmu.”

“Subhanallah”, kata Santri itu.

“Ucapan ‘subhanallah’-mu itu syirik!” Kata mbah Guru.

“Kok bisa mbah?”

“Cangkem mu itu mensucikan Allah, tapi hatimu itu sedang mensucikan dirimu sendiri.”

“Ada metode lain mbah?

“Ndak ada lee! Mulai dengan cara itu dulu, baru aku ajarkan cara lain.”

“Saya ndak mampu mbah.”

“Kandani kok, koe ki ngeyel. Aku kan sudah ngomong tadi, kau tidak akan mampu dan tidak mau!”

Catatan:
1. Melakukan dan atau menempuh jalan sunyi, melakukan latihan-latihan batin harus dibawah pengawasan seorang Profesional dan Expert.

2. Tulisan ini terinpirasi dam diambil dari kisah Syeikh Abu Yazid dan muridnya.

***

Saat ini sebenarnya kita bangsa Indonesia sedang mengalami kebocoran psikologis yang sangat akut sekali. Dan kebanyakan dari kita tidak menyadarinya sama sekali. Baik dalam skala lokal, regional sampai nasional. Dalam bidang politik dan agama khususnya.

Contoh tidak sederhananya adalah mengenai masalah Pemimpin Bangsa. Hampir setiap orang di negeri ini menuhankan idola pemimpin mereka. Parah kan? Yang menuhankan Jokowi misal maka akan menganggap pengikut Prabowo neraka semua. Sebaliknya yang menuhankan Prabowo juga akan menganggap pengikut Jokowi neraka semua. Begitulah pertengkaran rebutan tuhan berlangsung dengan penuh kekhusyukan sejak bertahun-tahun lalu hingga 2019 nanti.

Hastag #2019gantipresiden adalah salah satu kebocoran psikologis yang sangat asyik untuk ditertawakan. Memang mau ganti siapa?

Ada 300 juta lebih manusia di Indonesia, Anda-anda semua kan intelektual yang bijaksana tapi kok mau-maunya disuruh memilih satu di antara dua atau tiga kambing pilihan Par-Tai politik. Apa sudah tidak ada manusia yang layak memimpin Indonesia sehingga harus mencalonkan kambing-kambing yang dicalonkan oleh partai-partai kambing?

Oh maaf saya bukan pakar politik. Saya cuma menganalisisa kebocoran psikologis manusia Indonesia modern yang pintar, cerdas, tak terkalahkan, dan selalu benar sendiri. Saya sendiri Bayu Wiratsongko mungkin mengalami kebocoran psikologis yang jauh lebih parah. Mungkin saja saya malah orang bodoh yang tidak menyadari kebodohannya. Saya adalah orang apatis terhadap Indonesia. Mungkin begitu adanya.

Aku bodoh karena tidak memilih memihak kambing mana pun.

Sementara itu, kebenaran hamba-hamba kambing itu adalah: “Menjadi benar dengan menyalahkan yang lain.”

Advertisements

Nyeruput Wédang Uwuh

Selama bertahun-tahun saya tidak pernah mampu membaca tulisan Cak Nun di media mana pun, di buku apa pun. Setiap kali membaca, otak saya terasa berat. Saya baru mulai membaca tulisan Cak Nun secara rutin sejak Cak Nun menulis esai Daur pada awal tahun 2016 dan Wédang Uwuh menjelang akhir tahun. Agak memalukan sebenarnya, bagi orang seperti saya yang asli made in Jogja, yang notabenenya Kota Pelajar, seharusnya memiliki budaya membaca yang baik terhadap segala macam literasi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya; Sangat malas membaca.

Ngombe Wédang Uwuh memberi kesegaran tersendiri bagi saya. Ada rasa Jogja klasik yang seolah menembus ruang batin, seolah membawa pembaca ke Jogja tempo doeloe. Walaupun banyak rasa lain yang berseliweran di dalamnya. Ada rasa Indonesia, ada rasa kagol, ada rasa Jawa, ada rasa kesedihan sekaligus rasa haru, kelucuan dan kekonyolan.

Pun ketika saya mencoba mengolah kembali dari apa yang saya minum, menjadi sebuah sajian baru seperti tulisan ini, seolah lagi ada aliran kata-kata yang mengalir begitu saja tanpa ada konteks yang mendahului. Sebagaimana yang sering saya lakukan di media sosial, semacam review setelah membaca kolom Wédang Uwuh setiap selasa pagi.

Padahal apa yang saya tulis hanya sebatas sebagai refleksi pribadi, belum tentu benar-benar menunjukkan rasa sejati dari Wédang Uwuh yang diracik sendiri oleh pembuatnya yang asli Jombang namun sudah menjadi peracik wedang senior di telatah Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Walaupun sebenarnya Kakek Penulis Wédang Uwuh berasal dari Kauman, Jogja yang kemudian bermigrasi keluar Kerajaan pada waktu itu.

Asyik saja rasanya, setelah meminum Wédang Uwuh, kemudian saya mencoba menggambarkan rasa yang muncul dari minuman itu. Melalui tulisan gaya sendiri tanpa ada teknik copy-paste. Setiap kali membacanya, imajinasi seperti terpancing untuk mengolah kembali dimensi-dimensi lain dari Jogja yang jarang diketahui umum.

Nama Wédang Uwuh sendiri sangat unik. Minuman para Bangsawan Kraton namun namanya memiliki arti tekstual “Minuman Sampah”, bahasa Inggrisnya Trash Drink. Saya memaknai Wédang Uwuh  sebagai semacam pembelajaran bahwa para pemimpin harus merakyat, merasakan bahwa mereka adalah mantan rakyat yang mendapat amanat. Bukan menjadikan negara sebagai lading kepentingan pribadi dan perusahaan yang siap kapan saja bisa diakusisi oleh negara lain baik secara diam-diam ataupun terang-terangan.

Lho apa ini kok melebar ke negara segala? Fokus Wédang Uwuh saja. Wédang Uwuh-nya bisa dibeli seharga Rp 3.000,- saja. Penjualnya akan menjejerkan Wédang Uwuh dengan wédang-wedang lain di estalase tokonya.

Selama tiga bulan ini, saya berhenti membeli Wédang Uwuh . Mungkin saya sudah ketinggalan banyak hal. Sehingga membuat tulisan saya ini tidak up-to-date.

Bagi yang berminat meminumnya, kita tidak harus paham kenapa rasa Wédang Uwuh-nya macam-macam, rasanya meloncat-loncat dari satu nuansa ke nuansa lainnya. Resapi saja, tidak perlu terlalu dipikirkan bahannya apa saja untuk menghasilkan rasa yang beraneka ragam seperti itu. Akan tiba saatnya untuk mengerti ketika kita menghadapi situasi tertentu kelak entah kapan. Saya sendiri tidak terlalu berani membahas rasa-rasa yang dihasilkan dari Wédang Uwuh nya. Sulit bagi saya untuk meracik ulang. Cukup saya nyeruput pelan-pelan agar tidak kecantang.

Selesai diracik di Yogya pada 15 Februari 2018

Bukan Tadabbur Quran

Siapa bilang menulis itu gampang? Untuk menulis tulisan sepanjang 300 kata di Facebook saja, saya harus berdiam diri tidak mengungkapkan apa pun selama lebih dari dua hari. Sekali lagi saya tulis di sini tentang tulisan saya beberapa hari lalu, membaca tulisan kurang dari 300 kata, banyak orang yang mengomel, “Tulisanmu kok panjang-panjang sih?” Yang kemudian saya sesalkan, ini merupakan indikasi orang Indonesia memiliki budaya malas baca. Termasuk saya juga sebenarnya. Selama hampir sembilan bulan ini, tidak ada satu buku pun yang saya baca. Ini artinya saya semakin tidak tahu banyak hal.

Setiap orang bisa mengambil foto di zaman sekarang karena banyak kamera pocket yang tertanam di smartphone. Tidak ada smartphone yang tidak memiliki kamera. Sejelek-jelek smartphone pasti memiliki kamera walau resolusi jelek juga sih. Tapi kan ada. Akan tetapi tidak semua orang adalah fotografer. Begitu juga dengan tulisan, setiap orang itu bisa menulis di mana pun sekarang ini, di Tumblr, Facebook, Twitter, Blogger, WordPress, dan segala macam media online lainnya. Tetapi tidak semua orang adalah penulis, apalagi sampai di taraf Profesional. Kualitas setiap tulisan, baik buruknya, benar ngawurnya tidak bisa dijamin. Tidak semua orang mampu menulis di koran, majalah, untuk membuat tulisan yang bermutu dan bonafit.

Pun termasuk saya, suka menulis di sosial media dan meng-upload foto-foto di Instagram sama sekali tidak mengindikasikan saya adalah penulis dan fotografer. Semua ini hanya sekedar pelampiasan dan pelarian nafsu. Nafsu di dalam diri saya perlu tempat untuk mengungkapkan segala keinginannya yang tak terbatas, yang bagaikan api yang membakar apa pun yang dilewatinya.

Lho, lho, lho, jangan mengira nafsu itu hanya soal nafsu birahi atau nafsu sex dan nafsu makan. Secara sederhana, nafsu itu adalah “The other you in yourself”. Dia adalah kuda liar yang harus dikendalikan, tentu saja diri kita sendiri yang harus mengendalikan. Dalam khazanah sufistik setidaknya nafsu itu ada enam atau tujuh, maaf saya lupa. Atau saya tidak tahu secara mendetail. Maklum saya hanya orang awam, yang tidak paham pada banyak hal. Hanya sedikit hal yang saya tahu.

Nafsu paling jahat dalam diri manusia disebut nafs al-amarah bisu, semoga ejaannya benar. Nafsu jenis ini atau kita sebut, diri kita yang lain dalam jenis amarah ini, selalu mengajak ke keburukan. Dia mengajak pemiliknya ke Sarkem, Dolly, atau Sunan Kuning. Dia mengajak pemiliknya untuk teler di Bosche. Segala jenis keburukan yang merusak diri manusia.

Sementara itu diri kita yang paling baik adalah nafs muthmainah, semoga lagi tidak salah ejaan tulisan. Jenis diri kita yang baik ini, selalu berada dalam keadaan dicintai oleh Tuhan, membuat kita yang menghuni jasad ini untuk selalu melakukan kebaikan.

Keinginan kita untuk meniti karir, berjualan di pasar, berbisnis, narik becak, bikin acara konser amal, menjalin relasi dengan banyak orang, diam-diam sebenarnya adalah keinginan nafsu. Hanya saja mungkin bukan nafsu amarah bisu itu, tapi nafsu yang lain yang baik dan tidak macam-macam.

Dalam proses pengendalian diri yang sangat rumit ini, dipukul memakai tongkat lebih ringan daripada ditusuk dengan pisau. Maksud saya kalau harus memilih di antara dua keburukan, maka saya memilih keburukan paling ringan. Saya tidak bilang hobi menulis dan fotografi adalah keburukan, hobi bagi saya adalah suatu cara untuk mengendalikan nafsu. Daripada menghabiskan keinginan nafsu pada hal-hal yang haram, lebih baik dialihkan ke hal-hal yang agak mubazir, tapi tingkatannya tidak sampai terlarang.

Misal saya suka memfoto pakai kamera mekanik. Ini kan agak boros dari segi produksi yang mahal, mulai dari beli film negatif, cuci film, sampai scan film. Apalagi kalau sampai cetak, bisa kanker (kantong kering) sepanjang bulan setelah gajian. Dan nafsu sangat menyukai sifat boros ini. Tapi kan ada hasilnya, ada foto yang bisa saya kagumi keindahannya, bisa share di Instagram, membuat banyak orang senang melihat keindahan-keindahan ciptaan Tuhan yang diabadikan dalam bingkai. Untungnya kamera saya sedang rusak, sehingga tidak terlalu boros.

Pun mengenai tulis menulis, ini bukan soal saya punya bakat menulis. Saya tidak punya bakat ini. Kalau sampai pada titik belakang ini tulisan saya sudah mencapai enam ratus empat puluh enam karakter. Itu bukan berarti bakat menulis. Sama persis seperti pada hobi saya memfoto, ini hanya soal mengenai melampiaskan nafsu pada hal-hal mubah dan makruh, agar nafsu tidak cenderung ke hal-hal yang haram.

Ketika bisa menulis sampai sejauh ini tepatnya enam ratus sembilan puluh empat karakter di titik belakang ini. Ada semacam perasaan sombong dan bangga, sekalipun tulisan ini tidak bermutu sama sekali. Setidaknya membuat nafsu senang sedikit, sehingga dia bisa dikendalikan. Apalagi tulisan sepanjang ada yang sampai membaca sampai di kalimat ini, lalu merespon dengan meng-klik atau menyentuh tombol “Suka” atau “Like”, nafsu di dalam diri saya semakin senang.

Betapa ribet kan tulisan macam ini, topiknya random sekali, mengenai hubungan menulis, fotografi dengan pengelolaan nafsu di dalam diri manusia. Dan alhamdulillah nyambung juga ternyata. Ya dipaksa nyambung. Dan betapa beruntung orang yang mau membaca sampai akhir tulisan ini, karena saya akan menghadiahkan sebuah ayat dari Kitab Suci sebagai penutup tulisan saya yang tidak bermutu dan tidak jelas ini, agar ada manfaatnya sedikit berkat firman Tuhan yang Maha Pengasih, karena sepanjang berfesbukan saya tidak pernah berani mengutip ayat Quran. Kecuali hari ini saja.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Quran Surah Yusuf Ayat 53)

Ulangan (1)

Seperti biasa setiap selasa pagi, saya membeli koran Kedaultan Rakyat, dan hanya saya baca rubrik Wedang Uwuh-nya saja. Selebihnya sisa kertas saya sedekahkan, tepatnya saya letakan begitu saja, entah siapa yang akan memungutnya.

Pekan lalu, saya tidak mengikuti rubrik Wedang Uwuh, tiba-tiba pekan ini sampai pada sebuah kisah bahwa beberapa puluh tahun yang lalu di Yogya, sebelah barat perempatan jalan Wirobrajan, sisi selatan jalan, ada sebuah angkringan yang dikelola oleh mbah Wongso namanya.

Mbah Wongso adalah seorang yang (saya menyimpulkan dari tulisan ini) seorang yang Tuhan katakan “Kun, fayakun”. Begitu Tuhan menciptakan mbah Wongso “Jadilah” maka berlangsunglah mbah Wongso sebagai seorang manusia yang menjalani kehidupan bagai air yang mengalir.

Ketika membaca kisah mbah Wongso ini, saya menangkap, seolah mbah Wongso adalah seseorang yang tidak mengalami momen sabar atau bersyukur. Malah mungkin mbah Wongso sama sekali tidak tahu konsep sabar dan syukur. Dia hanya tahu tentang menjalani kehidupan dengan ikhlas saja. Bahkan mungkin mbah Wongso tidak peduli dengan kata ikhlas juga.

Orientasi dagangannya bukan bisnis. Untung rugi tetap diperhatikan tapi bukan fokus utama. Fokus utamanya melayani orang-orang yang ingin mengganjal perut mereka dan menjalani darma yang Tuhan tugaskan kepadanya. Kalau pembeli makan tempe lima, dan bilangnya makan dua, mbah Wongso tidak akan mempermasalahkannya.

“Mbah wongso bukan kapitalis, Bukan manusia uthil yang mengaku efisien, bukan saudagar pelit yang mengaku hemat.” Demikian sedikit saya kutip satu kalimat dari tulisan di rubrik Wedang Uwuh hari ini selasa 4 April 2017.

Markesot (Bagian 1)

Pak Nevi Budianto

Gerombolan Gentho itu sering datang ke berbagai tempat di Nusantara, merusak jadwal biologis jam tidur manusia pada umumnya. Selain merusak jam biologis, Genk Gentho itu juga sering merusak pemikiran-pemikiran manusia dan memporakporandakan apa yang selama ini telah disepakati oleh umumnya manusia. Orang-orang dari berbagai lapisan khususnya masyarakat bawah yang sering terinjak-injak oleh orang-orang besar yang berkuasa secara politik dan ekonomi, datang menghampiri Genk Gentho yang suka menabuh dan membuat kebisingan musik semalaman. Tidak diketahui mengapa rakyat jelata mendatangi Gentho-Gentho yang berasal dari sebuah Kerajaan yang masih eksis tapi sekarat di Bumi Nusantara.

Apa yang rakyat jelata cari? Hiburan? Curian sandal? Solusi pemecahan masalah? Lelucon? Pendidikan? Atau pengajian? Apa pengajian? Tentu saja bukan, Gentho-Gentho itu memainkan musik! Bukan melantunkan ayat-ayat Tuhan secara tekstual. Entahlah, tetapi yang pasti setiap orang membawa niatnya masing-masing.

Gerombolan Gentho itu dipimpin oleh kepala Genk yang merupakan ndas-ndasane dan sumber kekacauan yang sengaja mereka buat.

***

Emha Ainun Nadjib atau biasa yang dikenal dengan panggilan akrab Cak Nun adalah seorang budayawan yang dianggap memiliki kemampuan multidimensi dan memperoleh berbagai gelar akademis. Di antara gelar-gelar akademis itu adalah Emha Kafir, Emha Sesat, Emha Syiah, Emha Antek Yahudi, Emha Alat Negara, Emha Jawa Sentris dan berbagai gelar akademis lainnya yang mungkin orang lain tidak akan mampu memanggul gelar-gelar luar biasa tersebut. Semakin banyak gelar yang ia peroleh, ia semakin berterimakasih kepada mereka yang memberi gelar-gelar itu.

Saya belum mengenal Emha secara langsung. Di beberapa kesempatan saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengannya. Saya juga bukan bagian dari Maiyah dan tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari suatu komunitas tanpa struktur tersebut yang dirintis oleh Emha dan saya tidak akan pernah mau memasuki lingkaran Maiyah. Jangankan Maiyah, dalam berbagai pengajian atau kajian yang lain saya tidak pernah memasukinya, entah itu sholawatan, acara motivasi, pengajian politik, pengajian teroris dan segala macam tetek bengek lainnya. Saya hanya berada di luar arena. Saya menyebut diri saya sendiri Pemain Luar Pagar. Artinya saya tidak memiliki kredibilitas menulis ini. Jika pun ini saya tulis, ini cuma untuk kegiatan mengasah kemampuan menulis, apakah saya bisa menulis dengan bagus atau tidak.

Banyak orang yang kagum kepada Emha, dan banyak pula yang membencinya. Saya meletakan diri saya tidak pada kedua kubu itu. Saya hanya melihat peran apa yang diperankan oleh Emha di dunia ini dan apa yang ditugaskan kepadanya, mengambil apa yang baik darinya, dan membuang apa yang –mungkin– buruk darinya.

Saya memiliki seorang teman (iya teman), dalam pandangan kawan saya, Emha adalah seorang pemuda yang suka nongkrong di tempat pelacuran dan suka main di surga dunia itu. Dan sampai saat ini pandangan itu terus tertanam di benak kawan saya itu. Sehingga kawan saya itu tidak memandang Emha kecuali dengan agak sinis, tanpa mengetahui kebenarannya, apa yang sebenarnya dilakukan Emha di tempat pelacuran. Saya juga tidak tahu kebenarannya bagaimana, dan rasanya tidak perlu tahu pun tidak perlu, apalagi harus tahu, semakin tidak perlu tahu untuk tahu dan tidak tahu.

Saya teringat kisah-kisah sufi, di mana para sufi sering datang ke tempat pelacuran. Bukan untuk main dengan para pelacur, tapi para sufi melakukan kegiatan penyuluhan, memberi bimbingan kepada pelacur, agar bila mereka pensiun dari pekerjaan itu, mereka siap terjun di masyarakat dan memulai hidup baru tanpa ada guncangan terlalu berarti.

Apa pemuda? Itu berarti puluhan tahun yang lalu, sekarang Emha bukan lagi seorang pemuda, ia sudah berubah menjadi seorang kakek.

Emha memang dikenal agak kontroversial walaupun tidak sekontroversial Gus Dur. Banyak peranyataan-pernyataannya yang membuat orang-orang tercengang. Yang membuat saya heran adalah kenapa orang-orang bisa tercengang, padahal apa yang dikatakan Emha sebenarnya bukan sesuatu yang baru, melainkan sesuatu yang sudah lama terpendam dan dilupakan orang, sehingga ketika Emha mengeluarkannya orang-orang kaget dengan sesuatu yang sebenarnya biasa saja dan sama sekali tidak kontroversial.

Sebagai contoh, Emha pernah mengatakan dalam suatu forum, bahwa mungkin saja sebenarnya Allah itu bukan bernama Allah. Tapi Sang Pencipta Langit dan Bumi menyebut DiriNya dengan sebutan Allah adalah untuk mempermudah manusia berkomunikasi denganNya. Ini hanya urusan administrasi saja. Maka alangkah baiknya jika umat yang menyembah Pencipta Langit dan Bumi dengan sebutan Allah, tidak marah dan tidak mengklaim bahwa Allah hanya milik mereka ketika di saat yang sama Sang Pencipta Langit dan Bumi memiliki nama-nama lain. Misal orang Jawa menemukan Allah dengan nama Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widi, Sang Hyang Wenang. Di sisi lain, bukankah Tuhan menciptakan jagad raya ini dengan milyaran planet, bintang, galaksi. Bukankah di planet lain nan jauh di sana, yang memiliki makhluk lain yang tidak pernah kita ketahui wujudnya, bisa jadi Tuhan memperkenalkan diriNya kepada mereka dengan sebutan nama lain yang bukan Allah.

Halah… Contoh case yang saya tulis terlalu melantur dan kepanjangan sehingga saya merasa tulisan ini akan kehilangan esensi objektivitasnya. Maka tidak perlu saya memberi contoh yang lain.

Ini bagian pertama dari tiga seri tulisan berjudul Markesot yang hendak saya tulis. Lalu kenapa judulnya Markesot bukan Emha Ainun Nadjib? Bukankah Markesot adalah sahabat Emha, dan di tulisan ini, saya tidak akan menulis tentang Markesot. Dan bukankah Markesot adalah salah satu judul dari buku “Markesot Bertutur” yang beberapa tahun lalu ditulis oleh Emha?

Dan itu fotonya siapa?

To be continued…

Embraced by Words Into the Silence

Radiohead’s Ok Computer Artworks

Kata-kata adalah sesuatu yang mengherankan. Bagaimana jutaan orang bisa tersihir dengan kata-kata? Di balik kata-kata ada huruf-huruf yang menyusunnya. Huruf membentuk kata, kata membentuk kalimat, kalimat membentuk paragraf, dan seterusnya hingga membentuk berbagai macam bentuk buku, undang-undang, peraturan, surat, bahkan tulisan ini.

Jutaan tulisan mempengaruhi pikiran manusia. Bagaimana manusia bisa patuh kepada jutaan tulisan itu yang sebenarnya cuma berasal dari huruf yang lemah dan papa, tak sanggup melukai secara fisik tapi mampu menghancurkan secara mental.

Orang-orang bertengkar karena sebuah keputusan yang tertuang dalam susunan huruf dan kata yang tertata ke dalam selembar kertas. Padahal itu Cuma selembar kertas yang belum diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata. Tentu sebenarnya semua itu bisa dilanggar kalau semua orang sepakat untuk melanggarnya.

Seorang pengendara tanpa SIM dan STNK takut pada selembar kertas yang dikeluarkan petugas polisi lalu lintas. SIM dan STNK itu juga hanya susunan huruf dan kata, lembaran kertas dari pak polisi juga Cuma susunan huruf dan kata. Kenapa bisa dipatuhi?

Kutu buku sangat percaya pada apa yang dibacanya padahal apa yang dibaca belum tentu benar. Ada hal-hal tentang ilmu pengetahuan yang tidak bisa menempel di atas kertas. Apakah hal-hal itu? Salah satunya dalah citarasa. Citarasa tidak dapat menempel di atas kertas. Kau mungkin kutu buku yang membaca ribuan buku yang seolah membuatmu merasa pintar dan tahu segalanya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan cita rasa dari jutaan buku yang kau baca.

Tidak usah buku. Kitab suci saja, sesuci-sucinya, sedalam apa pun kau menghayatinya, belum tentu kau akan mendapatkan cita rasanya.

Bahwa tulisan-tulisan yang merefleksikan ilmu belum tentu tertuang di buku dan kertas. Bukan hanya kadang tapi Tuhan selalu memberikan ilmu ke dalam berbagai bentuk. Suara angin adalah tulisan yang bergerak dan hidup. Suara gonggongan anjing tetangga yang berisik juga merupakan suatu tulisan tanpa huruf dan kata.

Aku bukan pembaca buku berat, dan tidak terlalu percaya pada isi buku. Memang buku itu penting untuk merekam segala hal yang otak manusia tidak mampu menampungnya dan mengingatnya. Seperti pepatah China, tinta paling kabur masih lebih baik dari ingatan paling kuat. Lalu bagaimana jika semua buku dibakar? Tentu semua akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Exogenesis (1 – 3)

635059main_hubble033012_full_full
http://www.nasa.gov/sites/default/files/images/635059main_hubble033012_full_full.jpg

Fragment 1

Mengenai sebuah keyakinan dan kepercayaan, saya berusaha keras untuk tidak meributkan keyakinan orang lain, tidak menyinggung mereka yang berbeda dari saya. Entah yang berbeda keyakinan atau orang yang tidak memiliki keyakinan.

Pagi ini setelah sahur, saya menikmati sebatang kretek sambil duduk kedinginan karena pagi ini sedang hujan deras di lereng gunung Merapi. Ketika saya melihat asap kretek, saya merenungkan. Asap ini sesuatu yang terlihat, dapat dirasakan memiliki bayangan tapi tidak bisa disentuh, dipegang, apa lagi ditendang-tendang. Artinya asap adalah sesuatu yang halus. Kemudian dinginya udara pagi membuat saya merenung lagi. Udara ini hanya bisa dirasakan, tidak bisa dilihat, tidak bisa disentuh, tidak bisa dipegang. Artinya udara itu lebih halus daripada asap.

Dari situ saya memperoleh suatu pemahaman sederhana tentang ruh. Bahwa ruh itu adalah sesuatu yang halus. Sangat halus, jauh lebih halus dari apa pun juga. Sehingga keberadaannya tidak bisa diditeksi dengan panca indra. Karena ruh itu sangat halus,saya kira dari situ muncul lah istilah makhluk halus. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kemampuan menditeksi hadirnya ruh.

Mungkin ada sebagian dari teman-teman, saudara-saudara, dan orang-orang yang tidak meyakini adanya ruh. Manusia hanya terdiri fisik dan pikiran, sedangkan ruh itut tidak ada, hanya suatu mitos yang lahir dari agama. Sekali lagi saya katakan saya tidak mempermasalahkan itu bagi mereka yang berbeda pendapat. Saya hanya menuliskan apa yang saya renungkan dan rasakan pagi ini saat menikmati kretek yang dimitoskan dapat membunuhmu.

Fragment 2

Selama ini sejak kecil saya sering berpikir mengenai alam semesta dan tergetun ketika melihat gambar-gambar mengenai langit. Bumi hanya sebuah planet kecil di Tata Surya. Tata surya hanya sebuah system di matahari yang merupakan setitik bintang di galaksi Bimasakti yang memiliki milyaran bintang. Dan Bimasakti adalah setitik galaksi di tengah milyaran galaksi di seluruh alam semesta. Itu baru bagian pertama. Dalam khazanah Islam disebutkan bahwa ada tujuh lapis langit, dan daerah yang memiliki bintang dan planet adalah langit tingkat pertama. Langit tingkat pertama saja sedemikian luas dan besarnya, sedangkan jangkauan manusia belum keluar dari Tata Surya. Manusia baru berhasil menginjakan kakinya di Bulan yang jaraknya 300.000 kilometer dari Bumi.

Lalu bagaimana mungkin saya tidak meyakini adanya Tuhan, sedangkan manusia hanya sebutir hal di jagad raya tanpa batas ini? Tentu dari melihat langit saja, saya sudah yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa ada penguasa Langit dan Bumi, entah mereka mau menyebutNya dengan Tuhan, Allah, Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Tunggal, atau ribuan nama lain di Bumi yang hakikatnya untuk menyebut Dia yang Satu. Sedangkan di planet lain di galaksi yang jauh dari jangkauan manusia, mungkin Dia yang Satu memiliki nama panggilan kemesraan yang berbeda.

Saya pernah berkata kepada salah satu teman saya yang tidak percaya adanya Tuhan, “Kamu boleh meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada kalau kamu bisa membuktikan apa yang ada di ujung jagad raya sana.” Tentu dia memilih tidak percaya saja, daripada capek-capek bikin pesawat ulang alik untuk menjelajah jagad raya.

Walaupun saya berkata demikian bukan berarti Tuhan itu nge-kos di ujung alam semesta. Dia tidak membutuhkan ruang dan waktu dan Dia tidak berada di ruang dan waktu. Ruang dan waktu adalah kekuasaanNya.

Awalnya saya tidak meributkan ketidakpercayaan dia, tapi dia bertanya kepada saya, tentu terpaksa harus saya jawab dong, dengan cara saya yang sederhana saja. Kalau harus pakai teologi dan teori yang njelimet saya tidak mampu.

Fragment 3

“The song tells the story of humanity leaving a destructive Earth behind to populate elsewhere in the Universe.”