Ruang

Ketika berada di Planet Bumi, kita mengenal arah mata angin. Utara, selatan, barat, timur. Kita juga mengenal depan dan belakang. Dan kita tahu atas dan bawah. Begitu kita berada di luar atmosfer Bumi atau simpelnya adalah langit tingkat satu, pengetahuan kita mengenai arah mata angin menjadi batal. Begitu juga dengan pengetahuan kita mengenai atas bawah menjadi hilang. Di ruang angkasa tidak ada atas bawah.

Seluruh bintang, planet, tata surya, galaksi, gugusan galaksi berada di langit satu. Kita hidup di langit satu. Sedangkan jumlah langit berdasarkan pengalaman perjalanan Miraj Kanjeng Nabi Muhammad ada tujuh. Kita tidak bisa membayangkan betapa luasnya jagad raya, sementara langit tingkat satu saja, tidak ada teknologi manusia yang mampu menjangkaunya. Kita tidak pernah mengenal tetangga kita yang tinggal di suatu planet yang terletak galaksi sebelah.

Jangankan galaksi sebelah, jumlah planet di Bimasakti saja, jumlahnya miliaran, dan kita tidak tahu jenis manusia lain yang tinggal di planet-planet lain.

Lalu bagaimana kalau kita berada di langit kedua, ketiga, sampai ketujuh? Saya membayangkan bahwa semakin tinggi langit, pengetahuan kita semakin hilang. Mungkin ada suatu keadaan di atas sana di mana tidak ada atas bawah, dan depan belakang.

Tidak ada dekat dan jauh. Tidak ada ruang waktu. Tidak ada depan belakang. Tidak ada panjang pendek. Tidak ada pergi dan kembali. Aneh dan membingungkan bukan? Nalar dan logika kita tidak mampu mencapainya.

Saya tidak sedang berfilsafat. Saya sedang menulis suatu keadaan dan pengetahuan (science) yang belum pernah saya alami, tapi saya imajinasikan dalam redaksi tulisan saya sendiri.

Advertisements

Merapi

Umumnya orang Yogya memandang aktivitas Gunung Merapi sebagai hal biasa. Mereka tidak mengangker-angker kan erupsi dan mereka tidak meremehkannya. Seimbang dalam memandang Merapi. Diam geraknya Merapi adalah hal wajar. Kecuali yang tidak yakin begitu.

Erupsi pertama Merapi yang pertama saya lihat terjadi pada tahun 1994, saya waktu itu bingung melihat ada awan besar di atas rumah. Kemudian saya dikasih tahu, itu namanya Wedus Gembel. Namanya juga anak kecil, saya malah nyari-nyari di mana sih kambingnya. Angin berhembus dari selatan, awan gelap bergerak ke arah utara.

Seiring waktu, erupsi terjadi pada tahun-tahun berikutnya, 1997, 2001, dan 2006. Yang terbesar dalam seratus tahun terakhir terjadi pada tahun 2010. Kalau tidak ada anjuran dari Pemerintah Daerah, saya yakin warga tidak punya inisiatif untuk mengungsi. Bukan karena tidak tahu bahaya awan panas, melainkan ada keyakinan yang tertanam dalam alam bawah sadar masyarakat bahwa Merapi adalah sahabat dan tetangga kita.

Kalau ada korban yang meninggal karena terkena awan panas, itu bukan salah Merapi, setiap orang sudah digariskan akan meninggalkan dunia melalui berbagai perantara. Merapi hanya mengeluarkan isi perutnya. Seperti kita buang air besar, kalau tidak dikeluarkan justru akan menjadi penyakit.

Salah satu salah kaprah yang meluas adalah mengenai Mbah Maridjan. Banyak orang mengira Mbah Maridjan meninggal terkena awan panas. Padahal Mbah Maridjan sudah meninggal sebelum terkena awan panas. Antara Malaikat Izrail dan Gunung Merapi sudah membuat kesepakatan bersama. Bahwa Malaikat Izrail dulu mencabut nyawa Mbah Maridjan baru kemudian Merapi menghembuskan awan panas.

Namun ternyata terjadi sedikit kesalahan teknis, Merapi terlalu kuat menghembuskan awan panas, sehingga posisi Mbah Maridjan yang sedang bersujud ke arah Kiblat (Barat Laut), menjadi tergeser ke arah selatan. Maka terjadi lah fitnah terbesar pada simbah sepuh: Mbah Maridjan menyembah Ratu Kidul. Kita tidak pernah tahu bagaimana rasa bersalah Merapi kepada sahabatnya itu. Kita tidak pernah tahu rasa penyesalannya.

Pagi tadi Merapi kangen kita semua, dan dia pun menyapa, dengan sedikit membagikan pupuk gratis agar tanah tambah subur.

Sesederhana itu orang Jawa memandang Merapi.

Chaos

Melalui media sosial, muncul sebuah ancaman dari suatu kelompok yang menamakan dirinya –semacam– komunitas pembebas. Ancaman itu berisi ambisi untuk menghancurkan Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman. Karena dinilai tidak sejalan dengan demokrasi Indonesia. Di dalam ancaman yang beredar di sosial media kelompok pembebas siap bertarung dengan masyarakat Yogyakarta.

Sebelum muncul ancaman itu, kemarin terjadi kerusuhan di Jalan Solo. Saya tidak mengikuti kronologinya, padahal kemarin siang saya ada di sana tapi di sisi barat perbatasan kota. Masih melalui sosial media, ada sebuah tulisan di tembok, “Bunuh Sultan”. Pelaku penulis sepertinya tertangkap. Mohon konfirmasinya bagi yang tahu detailnya.

Apa yang hendak saya tulis ini adalah pendapat pribadi. Tentang Yogya dan yang terkait. Pertama, saya termasuk orang yang tidak sejalan dengan Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan saya tidak terlalu mengakui dia adalah Raja. Tapi saya masih berada di ranah kewajaran. Tidak mengakui sebagai Raja tapi saya tetap menghormatinya sebagai manusia. Saya tetap mengakui HB X sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ancaman membunuh Sultan adalah tindakan yang berlebihan. Memang ada prilaku Sultan yang tidak layak di-expose dan keterlaluan. Tapi saya tidak akan menuliskannya di sini. Itu masuk ke ranah internal Kraton, dan biar diselesaikan oleh orang dalam.

Menghancurkan Kasultanan Yogyakarta adalah agenda lama, sejak awal-awal kemerdekaan sudah ada hingga saat ini, baik dari dalam atau dari luar. Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dikebiri Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 1965 dengan menurunkan status DIY menjadi Provinsi DIY. Terdapat perbedaan mendasar antara hanya DIY saja dengan Provinsi DIY. Secara de jure Daerah Istimewa Yogyakarta tidak ada sejak tahun 1965 hingga tahun 2012.

Pihak asing pun tidak lepas dari rencana mengkebiri Yogyakarta. Tidak perlu saya sebut siapa yang terlibat. Akan terlalu panjang. Yang paling menonjol adalah Sultan HB X sendiri. Secara tidak sadar ada beberapa keputusan dan kebijakannya yang sebenarnya akan menghapus keistimewaan Yogya.

Namun saya percaya Keistimewaan DIY tidak akan pernah hilang. Kasultanan Yogyakarta bersama Kadipaten Pakualaman tidak akan hancur. Yogyakarta adalah ibunda Indonesia. Indonesia adalah Malin Kundang. Tapi Yogyakarta bukan ibu yang akan mengutuk anaknya menjadi batu. Ibu macam apa yang tega mengutuk anaknya? Yogyakarta akan selalu menjadi pohon apel yang selalu memberikan apelnya untuk anak asuhnya yang tidak tahu terimakasih.

Masalah demo atas nama buruh tapi ditumpangi hasutan untuk meruntuhkan Kasultanan Yogya mungkin bukan perkara besar, setidaknya menurut saya. Suatu hari nanti bisa jadi akan ada Chaos yang lebih besar kalau Sultan Hamengku Buwono X menyerahkan tahta kerajaan kepada putrinya.

Sabda Raja tempo tahun sudah bikin sebagian warga Jogja adem panas, kecuali yang tidak.

Menurut sejarah yang pernah dialami Jogja, jika seorang Raja tidak memiliki putra lelaki maka tahta turun kepada adik lelaki Raja. Tapi sekali lagi rakyat jelata seperti kita tidak perlu ikut campur. Mau ada Raja atau Ratu, konsekuensi dari alam ditanggung mereka sendiri.

Apalagi Indonesia dan Pemerintah Indonesia, tidak usah ikut campur masalah Jogja. Usut diusut para pelaku kerusuhan adalah orang luar negeri Ngayogyakarta Hadiningrat. Tentu saja menjadi pertanyaan besar: Kenapa mereka ribut soal Kasultanan Yogyakarta? Orang Jogja saja tenang-tenang saja tidak peduli siapa Rajanya.

Eh maksud saya, saya sendiri yang tidak peduli mau Hamengku Buwono kek, mau Hamengku Bawono kek, atau Hamengku Wanito.

Tapi saya tetap yakin, Yogyakarta tidak akan dipimpin seorang Sultanah (Sultan Wanita). Bukan masalah HAM atau Peran Wanita. Tapi Raja Yogya seorang lelaki itu adalah masalah estetika. Tidak layak kan sesendok garam dimasukan ke dalam segelas kopi. Jodohnya kopi itu ya gula. Tentu bisa saja, ada orang minum kopi dicampur garam. Halal itu, tidak haram, tapi pekok.

Kalau misal suatu hari nanti akan ada seorang Ratu tentu bisa saja. Agar tidak pekok karena minum kopi pakai garam, maka sang Ratu nanti ngambil Kabupaten Bantul misal untuk dijadikan Kerajaan baru sendiri, yang berbeda dari Kasultanan Yogyakarta.

Lho kreatif kan ide saya ini. Bikin Kerajaan pecahan Mataram kelima. Lokasi Bantul.

Smoking Area

NU, Nahdlatul Ulama, entah kebetulan atau memang kebetulan kok bisa ya NU diplesetkan menjadi Nahdlatul Udut. Melihat fakta bahwa sebagian besar ulama-ulama NU memang merokok.

Salah satu rokok favorit para Kiai NU adalah 234 Dji Sam Soe Kretek. Uniknya lagi rokok 234 merupakan ide dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan yang beliau berikan kepada pendiri 234 yaitu Liem Seeng Tee. Sementara Syaikhona Kholil adalah guru pendiri NU KH Hasyim Asy’ari.

Pemerintah Republik Indonesia mengalami dilema antara secara tegas melarang rokok atau tetap mempertahankan, mengingat cukai rokok merupakan salah satu suplai terbesar untuk negara. Dan di Indonesia setidaknya ada 30 juta petani tembakau. Melarang rokok secara masif sama saja meningkatkan pengangguran.

Tidak ada di dunia sesuatu yang tidak berguna. Rokok berbahaya karena dirokok tidak pada tempatnya. Merokok sambil naik motor misalnya akan berpotensi merugikan orang lain. Berbahayanya merokok saya kira adalah persoalan individu. Setiap orang memiliki ketahanan tubuh yang berbeda-beda. Tidak bisa dipukul rata merokok itu baik atau tidak. Semua ada porsinya masing-masing.

Yang terpenting dari dilema ini adalah saling pengertian. Berkoar-koar menentang rokok boleh saja, tapi jangan sampai sikap anti rokok menjadikan Anda menjadi bocor nalar. Merokok pun boleh saja, asal jangan merokok di dekat orang yang punya masalah pernafasan.

Beberapa saat yang lalu di kampus saya, ada acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiaikanjeng. Nah itu dilema baru lagi, di kampus adalah kawasan dilarang merokok. Tapi malam itu adalah edisi spesial, Universitas mengalah, membiarkan Cak Nun dan geng Kiaikanjeng merokok. Bahkan menyediakan asbak. Melihat CN merokok, maka para perokok yang sudah ngampet kecutnya mulut merasa lega.

The first and the only day I can smoke in restricted area. Walau ada diam-diam mengomel juga, “Gimana sih ini, katanya pengajian kok Ustadz-nya merokok?!”

“Yang bilang ini pengajian siapa? Wong gak ada tulisan itu acara pengajian. Dan Bapak tua yang merokok itu bukan Ustadz, agak tinggi jauh lah.”

Pahlawan Tanpa Masuk Kick Andy

(Spesial Malam Nisfu Sya’ban)

Tidak ada yang bisa saya lakukan, kecuali cuma menulis saja ketika melihat bahwa saya memiliki beberapa kawan yang benar-benar berjuang untuk masyarakat dan lingkungan. Antara kagum dan merasa malu, kenapa saya tidak atau belum bisa seperti mereka. Saya masih sibuk ngurusin keinginan pribadi.

Ada yang berjuang melalui jalur pendidikan non-formal. Ada yang berjuang di bidang sosial kemasyarakatan. Ada yang berjuang di bidang budaya. Dan perjuangan mereka adalah perjuangan murni tulus hati tanpa ada niat untuk masuk Kick Andy. Mereka berjuang bukan untuk mencari penghargaan. Atau bukan untuk menjadi tokoh muda berpengaruh di Indonesia. Mereka milih lari terbirit-birit daripada harus masuk media.

Kalau dipikir-pikir, apa yang kawan-kawan saya lakukan itu sangat-sangat non-profit oriented. Bahkan seringnya tombok, rugi. Sering difitnah orang. Dan segala macam kesulitan lainnya.

Tempo hari, ada seorang teman yang selama bertahun-tahun, ia sering menampung mahasiswi-mahasiswi yang terlanjur, hmm apa ya bahasa halusnya? Terlanjut terinvestasi dulu sehingga membuahkan hasil yang tidak diinginkan. Ngalor-ngidul, putar kepala, mencarikan tempat layak untuk si kecil yang baru lahir. Mencarikan tempat tinggal untuk ibunya.

Melihat semua itu saya jadi teringat pada Ibu Chalimah istri dari Bapak Abdul Lathif, seorang wanita pejuang yang baiknya tidak ketulungan. Hatinya seluas lautan. Berpuluh-puluh tahun lalu, di desa tempat tinggalnya, Ibu Chalimah setiap hari bersama salah satu anaknya yang paling nakal berkeliling desa mencari orang-orang yang membutuhkan bantuan ekonomi, moral, pendidikan, sandang pangan bahkan sampai tempat tinggal.

Kegiatan sosial harian Ibu Chalimah bekeliling desa itu terekam di dalam benak anaknya yang nakal dan bandel itu. Hingga suatu saat si anak nakal itu ketika dewasa secara naluriah dan alamiah melakukan apa yang dilakukan ibunya, bahkan dalam skala yang lebih besar, yaitu skala negara. Hal-hal yang seharusnya dilakukan Pemerintah, justru malah dilakukan oleh si mantan anak nakal itu. Sebut saja si mantan anak nakal ini bernama Mas En.

Pemerintah malah sibuk ngurusin proyek, proyek, dan proyek. Mengayomi rakyat hanya sebagai pelengkap kegiatan saja yang nilai presentasenya di bawah 10 persen.

Kembali ke awal tulisan, Saya cuma bisa malu pada diri sendiri melihat perjuangan dan ketulusan kawan-kawan saya itu. Saya ndak bisa seperti mereka. Bisa saya cuma nulis seperti ini.

Seruling Daud

Malam ini saya nyetel radio, terdengar lagu enak banget. Saya tidak memperhatikan liriknya. Kemudian saya baru sadar itu lagu rohani Kristiani. Sejenak saya tercengang dan teringat bahwa musik itu tidak punya agama. Musik adalah bahasa universal. Musik yang tertuang dalam lagu, baru akan memiliki identitas tertentu berdasarkan liriknya.

Lagu yang saya dengar tadi berdasarkan kesepakatan kebanyakan orang adalah lagu Gereja. Tapi misal begitu saya ganti liriknya, identitasnya bisa langsung berubah menjadi lagu cinta nostalgia delapan puluhan.

GĂ©nerasi masyarakat Muslim Indonesia jenis Kagetan, pernah ngamuk ada lagu Arab tapi liriknya bercerita mengenai Yesus. Tuduhan standarnya adalah untuk memurtadkan umat Islam. Lho, lho kok bisa? Saya mengomel waktu itu. Memangnya orang Arab di sana itu Muslim semua? Banyak orang Arab yang tidak Muslim. Ada yang Yahudi, ada yang Katolik, ada yang Ateis. Mengapa kita kagetan begitu sieh?

Wacana lucu lain mengenai musik adalah ada Ustadz anyaran, yang bilang musik itu haram. Ini semakin pekok lagi. Halal haramnya musik tidak terletak pada musiknya, tapi terletak pada tempatnya. Nyetel musik di depan orang sakit gigi, itu haramnya bukan main, dia bisa ngamuk njegog-njegog. Tapi memperdengarkan musik di depan orang sedih yang baru patah hati, itu akan membuat yang patah hati merasa terhibur.

Kalau bilang musik haram, itu sama saja dengan menyalahkan Tuhan. Bukankah Dia sendiri Sang Maha Composer, yang menciptakan musik yang bertebaran di seluruh alam. Suara angin berhembus, suara burung berkicau, suara kodok ngerok, suara kentutmu. Bukankah semua itu adalah alunan musik?

Lalu Ustadz anyaran itu bilang, alat musik harus dibakar. Kalau saya memilih ngeprokke (memukulkan) gitar ke kepala Ustadznya itu. Agar dia tahu manfaat alat musik. Yaitu buat memecahkan kepalanya.

Haha, main kasar ini namanya. Ya ndak gitu lah, selama 29 tahun hidup, saya enggak pernah main kekerasan kok. Tapi pengen sih kalau kira-kira ada orang yang menyebalkan.

PENGEN GELUT LAN MENANG, nek ora menang, aku ora gelem gelut.

(Ingin berkelahi dan menang, kalau tidak menang, saya tidak mau berkelahi.)

Wah, Nabi Daud tersinggung ini, serulingnya dituduh haram.

Puasa Biasa

(Disarikan dari esai “Puasa Bunda”)

Purnama telah berlalu hampir seminggu ini. Satu setengah bulan lagi memasuki Bulan Suci Ramadhan. Menjelang Bulan Suci, saya teringat akan sebuah tulisan yang dimuat hampir satu tahun lalu mengenai Keluarga Bapak Muhammad Abdul Lathif dan Ibu Chalimah. Sebuah keluarga yang biasa saja dalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Cerita ini diceritakan sendiri oleh salah satu anak Ibu Chalimah. Ketika saya membacanya, saya sangat tersentuh dan terharu. Ini dia yang saya cari selama ini mengenai bagaimana cara bertindak dan bersikap terhadap apa pun.

Sebenarnya tidak perlu saya ceritakan ulang. Karena saya bukan sedang membuat ringkasan dan atau resensi tulisan. Yang hendak saya tulis di sini adalah mengenai rasa yang saya rasakan ketika mengetahui perjalan hidup keluarga ini.

Apa yang saya rasakan? Kesederhanaan dan kewajaran. Tidak ada yang dilebay-lebaykan dan diluarbiasakan. Keluarga Bapak Abdul Lathif dan Bu Chalimah melakukan sesuatu dengan biasa tanpa pamrih untuk menumpuk pahala.

Puasa di Bulan Ramadhan dengan biasa saja. Karena memang puasa adalah kegiatan harian di keluarga itu. Bahkan puasanya melebar-lebar ke hal lain. Puasa untuk tidak menjadi apa-apa, puasa untuk tidak menjadi hebat, dan lain-lain. Jika bersedekah, keluarga ini bersedekah bukan hanya harta, tapi lahir batin untuk masyarakat tanpa ada keinginan untuk mendapat balasan berlipat. Semua dilakukan dengan wajar.

Kalau diceritakan tentu akan panjang, bukan?

Selesai membaca kisah ini, secara pribadi saya bertekad untuk meneladani. Tanpa ternyata tidak mampu. Saya terlalu banyak kagum pada banyak hal. Saya pikir kekaguman berlebihan adalah halangan untuk mencapai kesederhanaan dan kewajaran hidup.

Kata “Luar biasa” yang sering dimotivasikan oleh para motivator sebenarnya sangat merusak mental. Berpikir positif itu sama berbahayanya dengan berpikir negatif. Kalau bisa seimbang antara positif dan negatif.

Kunci keberhasilan dalam segala bidang adalah keseimbangan.

***

Pakem (RSJ Lali Jiwo), 6 April 2018