Puasa Biasa

(Disarikan dari esai “Puasa Bunda”)

Purnama telah berlalu hampir seminggu ini. Satu setengah bulan lagi memasuki Bulan Suci Ramadhan. Menjelang Bulan Suci, saya teringat akan sebuah tulisan yang dimuat hampir satu tahun lalu mengenai Keluarga Bapak Muhammad Abdul Lathif dan Ibu Chalimah. Sebuah keluarga yang biasa saja dalam menjalani kehidupan bermasyarakat dan beragama.

Cerita ini diceritakan sendiri oleh salah satu anak Ibu Chalimah. Ketika saya membacanya, saya sangat tersentuh dan terharu. Ini dia yang saya cari selama ini mengenai bagaimana cara bertindak dan bersikap terhadap apa pun.

Sebenarnya tidak perlu saya ceritakan ulang. Karena saya bukan sedang membuat ringkasan dan atau resensi tulisan. Yang hendak saya tulis di sini adalah mengenai rasa yang saya rasakan ketika mengetahui perjalan hidup keluarga ini.

Apa yang saya rasakan? Kesederhanaan dan kewajaran. Tidak ada yang dilebay-lebaykan dan diluarbiasakan. Keluarga Bapak Abdul Lathif dan Bu Chalimah melakukan sesuatu dengan biasa tanpa pamrih untuk menumpuk pahala.

Puasa di Bulan Ramadhan dengan biasa saja. Karena memang puasa adalah kegiatan harian di keluarga itu. Bahkan puasanya melebar-lebar ke hal lain. Puasa untuk tidak menjadi apa-apa, puasa untuk tidak menjadi hebat, dan lain-lain. Jika bersedekah, keluarga ini bersedekah bukan hanya harta, tapi lahir batin untuk masyarakat tanpa ada keinginan untuk mendapat balasan berlipat. Semua dilakukan dengan wajar.

Kalau diceritakan tentu akan panjang, bukan?

Selesai membaca kisah ini, secara pribadi saya bertekad untuk meneladani. Tanpa ternyata tidak mampu. Saya terlalu banyak kagum pada banyak hal. Saya pikir kekaguman berlebihan adalah halangan untuk mencapai kesederhanaan dan kewajaran hidup.

Kata “Luar biasa” yang sering dimotivasikan oleh para motivator sebenarnya sangat merusak mental. Berpikir positif itu sama berbahayanya dengan berpikir negatif. Kalau bisa seimbang antara positif dan negatif.

Kunci keberhasilan dalam segala bidang adalah keseimbangan.

***

Pakem (RSJ Lali Jiwo), 6 April 2018

Advertisements

Balada Kapal Pecah

“Aku ingin meninggalkan dunia ini, mas. Aku tidak tahan lagi hidup seperti ini. Aku ingin mati!” Ungkapmu pada suatu malam.

Aku tidak kaget mendengar ia berkata seperti itu. Aku juga tidak tidak peduli. Kupikir wajar bagi ia berkata demikian. Hembusan badai sangat dahsyat menerjang kapal yang ia tumpangi. Bandit-bandit dan perampok ikut numpang di Bahtera retak itu. Sementara nahkodanya sudah melompat ke laut.

Aku hanya seorang nelayan yang sedang memancing di bibir pantai ketika kulihat badai sudah reda dan ombak membawa bahtera retak ke tepi pantai.

“Apa kau pikir dengan mati masalahmu selesai?” Tanyaku kalem kepadamu.

“Aku tidak tahu mas! Aku hanya merasa tidak kuat lagi. Aku merasa tercabik-cabik oleh semua yang kualami. Kenapa Dia Yang Maha Kuasa menakdirkan aku seperti ini. Aku berharap aku dilahirkan lagi setelah mati.”

“Kau mau mati dengan cara apa? Kenapa merasa pantas untuk dilahirkan kembali. Hanya orang-orang suci yang memiliki misi mulia di dunia yang berhak dilahirkan kembali!”

“Bunuh diri, mas!”

“Hahahahahaha….” Aku malah tertawa kepadamu, “Bunuh diri? Dan ingin dilahirkan kembali? Jangan mimpi di siang bolong, gadis muda!”

“Kau tega mas menertawakan aku (dan ini malam hari mas bukan siang bolong!), setelah kau tahu semua kepedihanku!”

“Kenapa tidak tega? Kalau kau memang mau bunuh diri, percuma! Siapa yang akan menjadi saksi bunuh dirimu? Di sini masih kurang satu penonton lagi! Yaitu dia yang menyakitimu! Hahahaha…” Aku masih menertawai kekonyolanmu.

“Kau sok tahu! Sok tahu kalau ada yang menyakitiku!” Kau berkelit.

“Hah…” Aku menghela nafas, “Sok-nya sih iya. Tapi tahu kan.”

Nyeruput Wédang Uwuh

Selama bertahun-tahun saya tidak pernah mampu membaca tulisan Cak Nun di media mana pun, di buku apa pun. Setiap kali membaca, otak saya terasa berat. Saya baru mulai membaca tulisan Cak Nun secara rutin sejak Cak Nun menulis esai Daur pada awal tahun 2016 dan Wédang Uwuh menjelang akhir tahun. Agak memalukan sebenarnya, bagi orang seperti saya yang asli made in Jogja, yang notabenenya Kota Pelajar, seharusnya memiliki budaya membaca yang baik terhadap segala macam literasi. Tapi yang terjadi malah sebaliknya; Sangat malas membaca.

Ngombe Wédang Uwuh memberi kesegaran tersendiri bagi saya. Ada rasa Jogja klasik yang seolah menembus ruang batin, seolah membawa pembaca ke Jogja tempo doeloe. Walaupun banyak rasa lain yang berseliweran di dalamnya. Ada rasa Indonesia, ada rasa kagol, ada rasa Jawa, ada rasa kesedihan sekaligus rasa haru, kelucuan dan kekonyolan.

Pun ketika saya mencoba mengolah kembali dari apa yang saya minum, menjadi sebuah sajian baru seperti tulisan ini, seolah lagi ada aliran kata-kata yang mengalir begitu saja tanpa ada konteks yang mendahului. Sebagaimana yang sering saya lakukan di media sosial, semacam review setelah membaca kolom Wédang Uwuh setiap selasa pagi.

Padahal apa yang saya tulis hanya sebatas sebagai refleksi pribadi, belum tentu benar-benar menunjukkan rasa sejati dari Wédang Uwuh yang diracik sendiri oleh pembuatnya yang asli Jombang namun sudah menjadi peracik wedang senior di telatah Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Walaupun sebenarnya Kakek Penulis Wédang Uwuh berasal dari Kauman, Jogja yang kemudian bermigrasi keluar Kerajaan pada waktu itu.

Asyik saja rasanya, setelah meminum Wédang Uwuh, kemudian saya mencoba menggambarkan rasa yang muncul dari minuman itu. Melalui tulisan gaya sendiri tanpa ada teknik copy-paste. Setiap kali membacanya, imajinasi seperti terpancing untuk mengolah kembali dimensi-dimensi lain dari Jogja yang jarang diketahui umum.

Nama Wédang Uwuh sendiri sangat unik. Minuman para Bangsawan Kraton namun namanya memiliki arti tekstual “Minuman Sampah”, bahasa Inggrisnya Trash Drink. Saya memaknai Wédang Uwuh  sebagai semacam pembelajaran bahwa para pemimpin harus merakyat, merasakan bahwa mereka adalah mantan rakyat yang mendapat amanat. Bukan menjadikan negara sebagai lading kepentingan pribadi dan perusahaan yang siap kapan saja bisa diakusisi oleh negara lain baik secara diam-diam ataupun terang-terangan.

Lho apa ini kok melebar ke negara segala? Fokus Wédang Uwuh saja. Wédang Uwuh-nya bisa dibeli seharga Rp 3.000,- saja. Penjualnya akan menjejerkan Wédang Uwuh dengan wédang-wedang lain di estalase tokonya.

Selama tiga bulan ini, saya berhenti membeli Wédang Uwuh . Mungkin saya sudah ketinggalan banyak hal. Sehingga membuat tulisan saya ini tidak up-to-date.

Bagi yang berminat meminumnya, kita tidak harus paham kenapa rasa Wédang Uwuh-nya macam-macam, rasanya meloncat-loncat dari satu nuansa ke nuansa lainnya. Resapi saja, tidak perlu terlalu dipikirkan bahannya apa saja untuk menghasilkan rasa yang beraneka ragam seperti itu. Akan tiba saatnya untuk mengerti ketika kita menghadapi situasi tertentu kelak entah kapan. Saya sendiri tidak terlalu berani membahas rasa-rasa yang dihasilkan dari Wédang Uwuh nya. Sulit bagi saya untuk meracik ulang. Cukup saya nyeruput pelan-pelan agar tidak kecantang.

Selesai diracik di Yogya pada 15 Februari 2018

Diplomasi

Kunci diplomasi, hubungan sosial, komunikasi adalah tertawa. Jika kau bisa membuat lawan bicaramu tertawa, maka ia akan setuju dengan pendapatmu. Minimal jika dia tidak terima, dia tidak akan membantah dengan sengit. Inti tulisan saya kali ini bukan pembukaan paragraf di atas. Pertama saya harus basa-basi dulu agar tulisan ini panjang. Basa-basi dalam sebuah karya tulis berfungsi untuk membentuk landasan-landasan pemikiran agar inti tulisan dapat diterima oleh pembaca secara rasional dan tulisannya logis. Memang saya terlalu GR, mengira ada orang yang mau membaca tulisan saya hingga akhir. Apalagi kalau tulisannya terlalu panjang dan bertele-tele.

Artinya sudah jelas kan bahwa inti tulisan ini ada di paragraf paling bawah,

Bodoh begini, saya pernah kuliah dengan tidak serius. Ketika hendak lulus terpaksa saya mengerjakan Tugas Akhir (TA). Tugas akhir di jurusan Arsitektur itu ada Pra-TA dan TA. Dunia akademis itu dunia penuh basa-basi. Setiap mahasiswa arsitektur yang mengambil TA pasti tahu hasil akhirnya adalah gambar DED. Lalu kenapa setiap mahasiswa harus bikin Pra-TA dulu? Harus menulis latar belakang, pendahuluan, metoda penilitian, konsep dan segala macam sub-sub bagian yang banyak sekali. Bukankah semua itu adalah basa-basi yang sangat bertele-tele. Mbok sudah langsung gambar DED, selesai.

Tentu saya tidak sedang melawan urutan dan runtutan proses belajar. Saya cuma mau bilang, manusia tidak mungkin terlepas dari yang namanya basa-basi. To the point itu penting, tapi tidak memiliki landasan pikir. Walaupun point utama itu pasti memiliki landasan berpikir yang logis, hanya saja ketika seseorang to the point, dia tidak mengatakan landasannya itu. Ini semua tergantung situasi dan kondisi yang berlangsung.

Ini saya mau nulis apa tadi kok sampai skripsi segala. Oh ya, tadi soal tertawa ya. Astaga betapa penuh basa-basi tulisan saya ini. Menggelikan.

Kenapa tertawa adalah kunci diplomasi?

Mengutip dari terong gosong dot com, Gus Dur adalah orang pertama di dunia yang berhasil membuat Raja Fahd memperlihatkan giginya dan membuat sang Raja tertawa terpingkal-pinkal. Entah apa banyolan yang dilontarkan Gus Dur kepada Raja Arab Saudi yang terkenal angker itu karena tidak pernah tertawa, detailnya bisa dibaca di situs terong. Karena di sini saya tidak punya niat copy-paste. Modal dikit kek, bukak situsnya dan baca sendiri.

Saya tidak terlalu ingat tanggalnya, tapi seingat saya beliau Kiai Abdurahman Wahid wafat pada bulan Desember 2009 ketika awal-awal saya masuk kuliah. Saya agak getun waktu itu mendengar kabar Gus Dur berpindah tugas dari alam dunia ke alam lain yang lebih tinggi. Karena saya pernah meremehkan Gus Dur ketika tanpa sengaja bertemu di Jakarta pada tahun 2008.

Akhirnya saya mendedikasikan dan mempersembahkan Surah al-Fatihah untuk Kanjeng Suwargi Kiai Abdurahman Wahid yang wafat delapan tahun lalu dalam hitungan tahun Masehi. Semoga kita mendapat manfaat dan keberkahan Allah melalui beliau sang Wali nyentrik.

Bukan Tadabbur Quran

Siapa bilang menulis itu gampang? Untuk menulis tulisan sepanjang 300 kata di Facebook saja, saya harus berdiam diri tidak mengungkapkan apa pun selama lebih dari dua hari. Sekali lagi saya tulis di sini tentang tulisan saya beberapa hari lalu, membaca tulisan kurang dari 300 kata, banyak orang yang mengomel, “Tulisanmu kok panjang-panjang sih?” Yang kemudian saya sesalkan, ini merupakan indikasi orang Indonesia memiliki budaya malas baca. Termasuk saya juga sebenarnya. Selama hampir sembilan bulan ini, tidak ada satu buku pun yang saya baca. Ini artinya saya semakin tidak tahu banyak hal.

Setiap orang bisa mengambil foto di zaman sekarang karena banyak kamera pocket yang tertanam di smartphone. Tidak ada smartphone yang tidak memiliki kamera. Sejelek-jelek smartphone pasti memiliki kamera walau resolusi jelek juga sih. Tapi kan ada. Akan tetapi tidak semua orang adalah fotografer. Begitu juga dengan tulisan, setiap orang itu bisa menulis di mana pun sekarang ini, di Tumblr, Facebook, Twitter, Blogger, WordPress, dan segala macam media online lainnya. Tetapi tidak semua orang adalah penulis, apalagi sampai di taraf Profesional. Kualitas setiap tulisan, baik buruknya, benar ngawurnya tidak bisa dijamin. Tidak semua orang mampu menulis di koran, majalah, untuk membuat tulisan yang bermutu dan bonafit.

Pun termasuk saya, suka menulis di sosial media dan meng-upload foto-foto di Instagram sama sekali tidak mengindikasikan saya adalah penulis dan fotografer. Semua ini hanya sekedar pelampiasan dan pelarian nafsu. Nafsu di dalam diri saya perlu tempat untuk mengungkapkan segala keinginannya yang tak terbatas, yang bagaikan api yang membakar apa pun yang dilewatinya.

Lho, lho, lho, jangan mengira nafsu itu hanya soal nafsu birahi atau nafsu sex dan nafsu makan. Secara sederhana, nafsu itu adalah “The other you in yourself”. Dia adalah kuda liar yang harus dikendalikan, tentu saja diri kita sendiri yang harus mengendalikan. Dalam khazanah sufistik setidaknya nafsu itu ada enam atau tujuh, maaf saya lupa. Atau saya tidak tahu secara mendetail. Maklum saya hanya orang awam, yang tidak paham pada banyak hal. Hanya sedikit hal yang saya tahu.

Nafsu paling jahat dalam diri manusia disebut nafs al-amarah bisu, semoga ejaannya benar. Nafsu jenis ini atau kita sebut, diri kita yang lain dalam jenis amarah ini, selalu mengajak ke keburukan. Dia mengajak pemiliknya ke Sarkem, Dolly, atau Sunan Kuning. Dia mengajak pemiliknya untuk teler di Bosche. Segala jenis keburukan yang merusak diri manusia.

Sementara itu diri kita yang paling baik adalah nafs muthmainah, semoga lagi tidak salah ejaan tulisan. Jenis diri kita yang baik ini, selalu berada dalam keadaan dicintai oleh Tuhan, membuat kita yang menghuni jasad ini untuk selalu melakukan kebaikan.

Keinginan kita untuk meniti karir, berjualan di pasar, berbisnis, narik becak, bikin acara konser amal, menjalin relasi dengan banyak orang, diam-diam sebenarnya adalah keinginan nafsu. Hanya saja mungkin bukan nafsu amarah bisu itu, tapi nafsu yang lain yang baik dan tidak macam-macam.

Dalam proses pengendalian diri yang sangat rumit ini, dipukul memakai tongkat lebih ringan daripada ditusuk dengan pisau. Maksud saya kalau harus memilih di antara dua keburukan, maka saya memilih keburukan paling ringan. Saya tidak bilang hobi menulis dan fotografi adalah keburukan, hobi bagi saya adalah suatu cara untuk mengendalikan nafsu. Daripada menghabiskan keinginan nafsu pada hal-hal yang haram, lebih baik dialihkan ke hal-hal yang agak mubazir, tapi tingkatannya tidak sampai terlarang.

Misal saya suka memfoto pakai kamera mekanik. Ini kan agak boros dari segi produksi yang mahal, mulai dari beli film negatif, cuci film, sampai scan film. Apalagi kalau sampai cetak, bisa kanker (kantong kering) sepanjang bulan setelah gajian. Dan nafsu sangat menyukai sifat boros ini. Tapi kan ada hasilnya, ada foto yang bisa saya kagumi keindahannya, bisa share di Instagram, membuat banyak orang senang melihat keindahan-keindahan ciptaan Tuhan yang diabadikan dalam bingkai. Untungnya kamera saya sedang rusak, sehingga tidak terlalu boros.

Pun mengenai tulis menulis, ini bukan soal saya punya bakat menulis. Saya tidak punya bakat ini. Kalau sampai pada titik belakang ini tulisan saya sudah mencapai enam ratus empat puluh enam karakter. Itu bukan berarti bakat menulis. Sama persis seperti pada hobi saya memfoto, ini hanya soal mengenai melampiaskan nafsu pada hal-hal mubah dan makruh, agar nafsu tidak cenderung ke hal-hal yang haram.

Ketika bisa menulis sampai sejauh ini tepatnya enam ratus sembilan puluh empat karakter di titik belakang ini. Ada semacam perasaan sombong dan bangga, sekalipun tulisan ini tidak bermutu sama sekali. Setidaknya membuat nafsu senang sedikit, sehingga dia bisa dikendalikan. Apalagi tulisan sepanjang ada yang sampai membaca sampai di kalimat ini, lalu merespon dengan meng-klik atau menyentuh tombol “Suka” atau “Like”, nafsu di dalam diri saya semakin senang.

Betapa ribet kan tulisan macam ini, topiknya random sekali, mengenai hubungan menulis, fotografi dengan pengelolaan nafsu di dalam diri manusia. Dan alhamdulillah nyambung juga ternyata. Ya dipaksa nyambung. Dan betapa beruntung orang yang mau membaca sampai akhir tulisan ini, karena saya akan menghadiahkan sebuah ayat dari Kitab Suci sebagai penutup tulisan saya yang tidak bermutu dan tidak jelas ini, agar ada manfaatnya sedikit berkat firman Tuhan yang Maha Pengasih, karena sepanjang berfesbukan saya tidak pernah berani mengutip ayat Quran. Kecuali hari ini saja.

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Quran Surah Yusuf Ayat 53)

Sakit

Sakit

Ketika terjadi erupsi Merapi 2010 lalu, ada ustadz cangkeman yang ngomong, itu akibat orang Jogja musrik kepada Allah. Mendengar itu, saya merasa jengkel sekali, pengen tak gajul ndase. Maklum waktu itu saya masih muda, secara pengecut saya mudah terpancing.

Padahal, erupsi Merapi adalah perilaku alamiah gunung Merapi. Setiap gunung memiliki kewajiban untuk taat kepada Allah, dengan mengeluarkan isi perut Bumi. Dan orang Yogya sendiri, tidak menganggap kegiatan Merapi sebagai bencana. Bencana adalah sudut pandang manusia jaman now.

Tadi malam saya masih sakit flu, tidak enak badan. Saya tidur ditemani beberapa mimpi yang bisa disebut buruk, yang merupakan efek dari sakit flu. Pagi bangun, saya membaca di Timeline bahwa tadi malam terjadi gempa yang cukup menggoyang dan katanya berlangsung hampir 2 menit.

Ada beberapa komentar yang menggelitik. Gempa tadi malam terjadi akibat LGBT yang beritanya sedang menghangat di seantero negeri. Saya pikir ini agak ngawur juga gara-gara perkara LGBT terjadi gempa.

Saya ini termasuk barisan yang menolak dengan keras LGBT. Karena LGBT itu adalah sesuatu yang melawan kodrat. Tidak empan papan. Sesuatu yang tidak terletak pada tempatnya. Tapi saya yakin, Tuhan tidak akan meng-adzab manusia hanya karena perkara seperti ini.

Cak Nun pernah mengungkapkan bahwa adzab dari Tuhan terjadi bukan karena dosa, kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan manusia. Tuhan tidak marah atas kekafiran manusia. Tapi Tuhan akan sangat marah jika hati para kekasih-Nya yaitu para Nabi dan Wali tersakiti.

Peristiwa yang dialami umat Nabi Luth alaihi sallam, bukan terjadi karena mereka LGBT, tapi karena hati Nabi Luth tersinggung dan merasa sakit hati atas perilaku umatnya. Seketika Tuhan pun marah jika kekasih-Nya sakit hati. Begitu juga dengan peristiwa-peristiwa lain yang dialami para Nabi.

Namun hal ini tidak terjadi pada masa Nabi Muhammad shollallahi wa sallam. Karena hati Nabi Muhammad tidak tersakiti. Pernah suatu ketika setelah Kanjeng Nabi dilempari batu, Malaikat Jibril menawarkan untuk menimpakan gunung di atas penduduk Taif. Tapi Nabi Muhammad menolak. Beliau sangat sabar dan tidak sakit hati. Beliau berharap jika mereka tidak mau beriman, siapa tahu anak cucu mereka yang beriman.

Dan sampai saat ini sejak era Nabi Muhammad, tidak pernah terjadi bencana yang sampai meluluh-lantahkan suatu masyarakat besar. Kecuali kegiatan-kegiatan alam biasa untuk memenuhi kewajaran alam.

The Other Me

Malam ini, makan malam saya sangat mewah dan istimewa. Mie goreng instant merek Indomie. Saya ingin memasak dua bungkus mie instant. Tapi ketika mau mengambil dua, saya bimbang sesaat satu atau dua ya. Nafsu saya ingin dua tapi hati berbisik satu saja. Akhirnya saya putuskan satu saja.
Di tengah-tengah memanaskan mie instant, tiba-tiba kompornya mati. Gas-nya habis. Mau beli gas sudah malam, malas keluar melewati udara malam gunung yang dingin. Untungnya mienya sudah 80 persen matang. Setidaknya itu sudah cukup kenyal dimakan.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya mengikuti keinginan nafsu saya untuk makan dua porsi mie. Bisa-bisa saya harus makan mie yang belum matang. Koyo mangan kerikil.

Membedakan keinginan dan kebutuhan memang bukan hal yang mudah. Bedanya pun tipis sekali. Tapi biasanya keinginan nafsu itu bersifat berlebihan. Nafsu bagaikan api, membakar apa saja yang bisa dibakar.

Seringnya saya gagal mengendalikan nafsu. Tulisan ini pun mungkin adalah bagian dari gerakan nafsu yang terselubung agar dianggap hebat bisa nulis dari kasus sederhana dikaitkan dengan kondisi batin manusia mengenai nafsu.

Di dalam diri Bayu Wiratsongko ternyata terdapat Bayu-Bayu yang lain, yang menempati berbagai keadaan. Kadang mereka diri di dalam diri saling bekerja sama, kadang bertengkar, kadang saling bersengketa, kadang masing-masing Bayu di dalam Bayu ini membentuk koalisi untuk saling menjatuhkan lawan politiknya.

Diri saya memfitnah, menyerang diri saya sendiri. Lalu siapa yang paling mendominasi di dalam diri saya? Bayu yang mana? Yang berada di kelompok nafsu, kelompok hati, atau kelompok akal.